Konten dari Pengguna

Awal Mula Sistem Tiga Poin dalam Sepak Bola

Ibnu Gifar Ramzani

Ibnu Gifar Ramzani

Ibnu Gifar Ramzani

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ibnu Gifar Ramzani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sebuah tim yang tengah berselebrasi karena baru saja meraih "tiga poin" alias kemenangan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sebuah tim yang tengah berselebrasi karena baru saja meraih "tiga poin" alias kemenangan. Foto: Pixabay

Dalam sepak bola, kemenangan seringkali diistilahkan dengan frasa “tiga poin”. Tengok misalnya apa yang disampaikan pemain baru Arsenal musim ini, Albert Sambi Lokonga, pasca timnya kalah dengan skor 2-1 dari Chelsea dalam laga uji coba di Stadion Emirates awal Agustus lalu.

“Sangatlah menyenangkan (bermain pertama kali di Emirates). Sedikit sedih karena kami tidak meraih tiga poin. Tapi, yeah, ini penampilan pertamaku di Emirates, itu merupakan hal yang bagus,” ujar Sambi, dikutip situs resmi Arsenal, Minggu (1/8/2021).

Sekilas, pernyataan tersebut nampak tidak masuk akal. Tidak ada tiga poin yang diperebutkan dalam sebuah pertandingan uji coba tunggal seperti itu. Namun, kita dan Sambi paham bahwa itu hanya kiasan. Sebuah konstruksi bahasa yang tercipta karena aturan dalam sepak bola itu sendiri: tiga poin untuk kemenangan, satu untuk seri.

Sebagian penggemar sepak bola mungkin akan terkejut ketika mengetahui bahwa pada awalnya sebuah kemenangan hanyalah dihadiahi dua poin dan bukan tiga. Ya, sistem inilah yang berlaku sejak Football League (pengelola seluruh kompetisi sepak bola profesional di Inggris sebelum Premier League memisahkan diri pada 1992) menggelar liga sepak bola pertama di dunia pada 1888. Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula kemunculan sistem tiga poin itu sendiri?

Berawal dari Liga Amatir

Sistem tiga poin digunakan untuk pertama kalinya oleh Isthmian League, sebuah kompetisi amatir di Inggris yang telah ada sejak 1905 dan masih terus berlangsung hingga kini.

Semuanya berawal ketika pada pertengahan Juli 1973, mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan rokok Rothmans. Sebuah kerja sama yang menjadi tonggak sejarah dalam industri sepak bola Inggris karena merupakan kali pertama sebuah kompetisi di negara tersebut mendapat sponsorship.

“Isthmian League bisa saja memicu sebuah revolusi sepak bola berkat kerja samanya dengan Rothmans, perusahaan rokok yang setuju untuk mensponsori mereka dengan nilai mencapai 50.000 poundsterling selama tiga musim ke depan,” tulis surat kabar Herts and Essex Observer, 27 Juli 1973.

Peluang pemasaran jelas menjadi faktor utama dari kesediaan Rothmans untuk mensponsori liga tersebut. Namun selain itu, mereka juga tertarik pada “konsep” sepak bola yang ditawarkan Isthmian League dalam proposalnya. Saat masih dalam tahap negosiasi, Isthmian League meyakinkan Rothmans bahwa mereka bisa menghadirkan permainan sepak bola yang berorientasi menyerang dengan iklim yang tetap sportif. Skema tersebut diharapkan bisa memikat lebih banyak penonton untuk datang ke stadion dan pada akhirnya akan berujung pada penambahan pemasukan.

Cara yang mereka ajukan adalah dengan memberikan bonus uang tambahan bagi tim yang bisa mencetak gol paling banyak, memenangkan pertandingan tandang paling banyak, dan memiliki jumlah kartu merah maupun kartu kuning paling sedikit. Namun, ide yang paling penting dari itu semua adalah sistem tiga poin untuk kemenangan.

Jimmy Hill merupakan otak di balik semua inovasi ini. Sebagai catatan sederhana, Ia merupakan tokoh yang dikenal revolusioner nan visioner di dunia sepak bola Inggris ketika itu. Salah satu contohnya, Hill merupakan aktor utama di balik penghapusan aturan gaji maksimum sebesar 20 poundsterling bagi pesepak bola Inggris pada 1961.

“Di awal 70-an, saya dihubungi oleh Doug Insole, perwakilan Isthmian League, yang meminta rekomendasi cara untuk mendorong permainan sepak bola menyerang, sportsmanship, meningkatkan kehadiran penonton, dan juga memperbaiki kualitas wasit. Ini merupakan kesempatan berharga untuk menguji beberapa teori yang telah saya kembangkan, dan hanya bisa terbukti hasilnya jika dipraktikkan. Yang pertama adalah konsep tiga poin untuk kemenangan dan satu untuk seri. Gagasannya adalah untuk menghilangkan mentalitas bertahan, bahkan ketika tim telah unggul dengan satu atau dua gol," ungkap Hill dalam autobiografinya, The Jimmy Hill Story.

Usulan tersebut pun diterima yang terbukti dari kerja sama tadi. Isthmian League pun tercatat sebagai pelopor sistem tiga poin ketika mereka secara resmi menggunakannya sejak musim 1973-1974.

Menyebar ke Penjuru Dunia

Banyak sumber yang menyatakan bahwa Inggris menjadi negara pertama yang menerapkan sistem tiga poin pada 1981. Fakta tersebut menjadi salah jika kita mengacu penjelasan di atas. Namun bisa menjadi benar jika kita melengkapinya dengan: “kompetisi sepak bola profesional pertama yang menerapkan sistem tiga poin”.

Ya, sejak musim 1981-1982, Football League memutuskan untuk mengadopsi apa yang telah dilakukan oleh Isthmian League. Alasannya tidak jauh berbeda, yaitu demi menarik kembali minat para penggemar untuk datang ke stadion.

Ketika itu, sepak bola Inggris memang tengah mengalami kemunduran di mana salah satu indikatornya yang paling nyata adalah kehadiran penonton. James Walvin dalam bukunya Football and The Decline of Britain menyebutkan bahwa pada musim 1955-1956, kehadiran penonton ada di angka 33.3 juta. Jumlah tersebut menurun lima tahun kemudian menjadi 28.6 juta. Bahkan, keberhasilan Inggris menjadi juara Piala Dunia 1966 hanya mendongkrak sedikit saja ke angka 30 juta. Dan pada 1980, angka tersebut kembali menurun menjadi 23 juta orang.

Penurunan jumlah penonton tentu saja berdampak pada berkurangnya pemasukan. Dan di level profesional, hal tersebut menjadi lebih krusial dibandingkan dengan di level amatir. Di bulan Oktober 1980, 92 petinggi klub Football League pun bertemu untuk mencari solusi atas masalah ini (di mana salah satunya adalah Jimmy Hill yang merupakan chairman Coventry City). Salah satu poin yang disepakati adalah mengadopsi sistem tiga poin. Namun, baru pada pertemuan ulang di Februari tahun berikutnya pemufakatan itu diresmikan.

“Para petinggi klub memutuskan untuk mengubah sistem skor mulai musim depan, memberikan tiga poin alih-alih dua untuk kemenangan. Proposal krusial ini dibuat untuk mendorong pemulihan sepak bola dari beragam kesulitan yang mengkhawatirkan,” tulis surat kabar The Times, 10 Februari 1981.

Sebagai salah satu kompetisi besar, keputusan Football League untuk menggunakan sistem tiga poin pun memancing berbagai kompetisi di negara lain untuk juga ikut menerapkan sistem tiga poin. Di Indonesia, misalnya, sistem tiga poin mulai digunakan untuk pertama kalinya oleh Galatama pada musim 1986-1987. Sempat dilanjutkan di musim berikutnya, namun Galatama kembali ke sistem dua poin di musim 1988-1989. Barulah pada Liga Indonesia pertama pada musim 1994-1995, tiga poin kembali digunakan.

FIFA sendiri sebagai badan sepak bola dunia baru menggunakan sistem tiga poin untuk pertama kalinya pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Ketika itu, FIFA ingin agar sepak bola lebih sesuai dengan kultur olahraga masyarakat Paman Sam yang menyukai skor tinggi dan anti seri. Sistem tiga poin diharapkan bisa menjadi salah satu cara untuk mencapai hal tersebut. Setahun berikutnya, FIFA pun secara resmi mewajibkan penggunaan sistem tiga poin bagi seluruh anggotanya dan terus bertahan hingga kini.