Dikepung Kejenuhan, Diimpit Dilema

Freelance Writers. Nostradamus. Homo ludens.
Konten dari Pengguna
1 Februari 2023 16:44
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gigih Imanadi Darma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang yang terperangkap dalam ruangan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang yang terperangkap dalam ruangan. Foto: Shutterstock
Kau berpikir Januari akan jadi bulan yang bagus untuk mengawali 2023 yang panjang, yang kau bayangkan penuh keseruan dan kelak membawamu pada pengalaman hidup yang lebih tinggi.
Tetapi pada sore hari tanggal 31 di bulan itu, kau bangun dari atas kasurmu dengan perasaan yang ganjil, kau jatuh pada perasaan yang asing: menyadari dunia masih sempit dan punggungmu makin terbiasa tidak tegak.
Kau menulis catatan ini sambil memunggungi rak buku, memandang langit-langit kamar yang tampak semakin rendah dan warna catnya putih tetapi suram, kulit dinding tempatmu biasa bersandar sedikit-sedikit terkelupas.
Kau sebetulnya cukup menyebut menulis sambil rebahan. Tetapi karena kau suka bermain dengan kata-kata, kau membuat kalimat bersayap agar terkesan indah.

Dikepung Kejenuhan

Di ujung kasur saat meloloskan sejumput air di tenggorokanmu, tiba-tiba hadir rasa sesal karena pada hari itu kau tidak melakukan banyak hal, juga pada 30 hari sebelumnya, kau hanya berkitar pada aktivitas yang sama.
Dengan sebutan apakah orang-orang menamai perasaan semacam itu? Oleh dirimu sendiri kau merasa tengah dikepung kejenuhan.
Tuhan menganugerahkan 24 jam, dan kau habiskan untuk tidur dan bangun, makan dan minum, dan berak, dan seterusnya.
Terdengar tidak halus dan sedap didengar bukan? Sejujurnya kau tidak seburuk itu.
Kau sering tidur lebih dari 8 jam. Soal makan dan minum juga sama sekali tidak menyedihkan. Kau berolahraga dengan cukup. Futsalan setiap akhir pekan. 4-5 kali lari pagi dan sore. Satu dua kali mencobai gym.
Lalu apa yang membuatmu jenuh? Mungkin karena 8 jam dan terkadang lebih dalam 6 hari kerja kau menulis artikel sepak bola.
Soal hilir mudik pemain Eropa di bursa transfer Januari dan sejauh mana performa awal mereka dapat merebut hati para fans. Cody Gakpo di Liverpool. Wout Weghorst di Manchester United. Mykhailo Mudryk di Chelsea. Leonard Trossard di Arsenal. Dan lainnya.
Atau tentang pulang kampungnya para perantau muda, generasi baru pesepakbola Indonesia yang abroad, mula-mula Egy Maulana Vikri ke Dewa United lalu menyusul Witan Sulaeman ke Persija Jakarta.
Atau tentang apa sajalah yang bisa membuat traffic website tempatmu bekerja naik. Banyak bahan untuk ditulis, tetapi kau muak karena itu terlalu mudah bagimu. Tidak ada kedalaman.
Kau hanya menyelipkan fakta 'wow' dan menggeser sudut pandang dalam setiap artikel yang kalau dikali perbulan hanya dihargai kurang dari UMP Jakarta.
Sekali lagi, kau merasa dikepung kejenuhan.

Berencana di Kepala, Dihimpit Dilema

Tubuhmu bugar, kau merasa punya banyak energi tetapi sialnya kau juga merasa belum bisa produktif. Energimu bocor antara lain karena memikirkan banyak hal. Merencanakan ini dan itu. Dan karenanya kepalamu kadang pening. Begitulah, kau berencana hanya dalam kepalamu.
Kalau dipikir-pikir itu bukan rencana melainkan angan-angan yang menyamar sebagai keinginan untuk melakukan hal-hal tertentu, dan kau gagal menjalaninya entah karena apa.
Padahal hidup bukan hanya pada apa yang terletak di kepalamu. Melainkan tindakan-tindakan setelahnya.
Lalu apa sebenarnya keinginan dan rencanamu? Lulus kuliah. Menjadi sarjana. Hanya itu. Sebab orang tuamu menanyakan yang itu-itu saja dan kau kehabisan cara untuk mendamaikan hati mereka. Kau tak sampai tega untuk terus berkelit.
Lalu apa?
Pekerjaan sebagai penulis sepak bola membuatmu jengah. Tiap kali ingin memulai kau merasa energimu bocor dan tersedot habis. Kau merasa lelah menulis lagi. Kau gampang teralihkan.
Kau terpikirkan untuk mengurangi pekerjaan dan mulai menghemat. Menabung dan bertahan dengan uang sendiri dalam 1-2 bulan selama masa menyelesaikan studi.
Di lain sisi, pikiranmu yang lain membatalkan yang pertama: kau tetap butuh bekerja, uang yang tak seberapa itu toh kau nikmati juga.
Berat badanmu bertambah, rona wajahmu cerah. Koleksi bukumu makin bertumpuk. Kau mulai memperhatikan pakaianmu. Kau juga mulai terbiasa berbagi dengan kawan-kawanmu.
Uang itu juga yang kau kirimkan untuk mencukupi kebutuhan bulanan adik perempuanmu yang berkuliah di sebuah kampus negeri. Uang itu juga yang kau sisihkan untuk keluargamu.

Kau bersikeras untuk tidak lagi sepeserpun menggunakan uang kedua orang tuamu. Kau percaya itu hanya salah satu caramu untuk memuliakan kedua orang tua dan diri sendiri.

Tapi bukankah hadiah yang paling mereka inginkan saat ini adalah gelar sarjana di belakang nama panjang mu? Nama yang dipilih setelah kedua orang tuamu menghampar sajadah dalam tengadah doa dan sujud yang panjang.
Ah, kau dihimpit dilema.
Januari adalah batas terakhir bagimu mengeluhkan ini semua. Kau kini membayangkan diri sebagai laki-laki di atas sampan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Peribahasa itu untukmu.
Orang yang menuliskan kata 'kau' dalam catatan ini dan seolah-olah sedang menasihati dunia diluarnya sebenarnya adalah saya sendiri: Gigih Imanadi Darma.
Tabik!