Konten dari Pengguna

Ensiklopedia Tawar: Tentang Hal-Hal yang Berlangsung tapi Tak Benar-Benar Hidup

Gigih Imanadi Darma

Gigih Imanadi Darma

Jurnalis yang terus bertumbuh. Merekam peristiwa. Menyajikan fakta.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gigih Imanadi Darma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ilustrasi milik pribadi. Lokasi: Kopi Mpat Magelang
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi milik pribadi. Lokasi: Kopi Mpat Magelang

Di antara spektrum rasa, tawar bukanlah sesuatu yang benar-benar dicari. Ia jarang dirayakan, jarang disyukuri, dan bahkan sering dilupakan. Namun begitu, rasa tawar tetap hadir—diam-diam—dalam makanan, dalam relasi, dalam wacana publik, bahkan dalam kesadaran kolektif sebuah bangsa.

Saya pernah menjumpai sepotong adegan tawar itu dalam kehidupan nyata: Seorang lelaki, duduk di kursi plastik, makan dengan sendok kecil. Di piringnya hanya ada nasi putih yang tampak masih hangat, sayur bening yang terlalu bening. Tak ada sambal, tak ada potongan daging, tak ada telur dadar atau ceplok, tak ada kerupuk.

Tidak ada apa-apa yang pantas disebut nikmat. Namun ia tetap makan dengan lahap. Bukan karena makanannya lezat, tapi mungkin karena hanya itu yang ada—dan karena ada keharusan untuk menelan.

Ketika melihat adegan itu di depan mata, saya diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Lalu, seperti bias cahaya dalam genangan air, sebuah kesadaran muncul: banyak orang tidak sedang benar-benar hidup dengan layak—mereka hanya bertahan dari yang tersedia.

Dan dalam kepala saya, muncul satu pertanyaan reflektif: Alangkah tawarnya kehidupan yang demikian, ya?

Tawar dan Hal-hal yang Berjalan Tanpa Gairah

Rasa tawar, saya kira, adalah metafora paling tepat untuk hal-hal yang berjalan tanpa gairah. Saya mengenal sepasang kekasih yang tetap bersama meski sudah tak ada yang bisa dibicarakan. Obrolan mereka sehari-hari tak lebih dari pengumuman di halte bus: singkat, fungsional, tidak menyentuh.

Mereka tidak lagi saling bertanya tentang hari yang melelahkan, atau mimpi yang belum kesampaian dan rencana bersama untuk kehidupan kedepan. Tapi mereka tetap tinggal. Karena keterbiasaan kadang lebih kuat daripada cinta. Dan ketenangan yang tawar dianggap lebih baik daripada drama yang penuh rasa.

Rasa tawar semacam itu agaknya tidak pernah membuat mereka lekas lari dari kebingungan. “Aku mau udahan tapi ga bisa ngelepas begitu aja. Bingung dan takut kalau nggak sama dia gimana, tapi di lain sisi hubungan kami kok makin hambar ya. Tawar,”

Saya tahu, kawan perempuan yang manis ini tak butuh apapun kecuali kesediaan telinga saya untuk mendengar, dan sesekali validasi. Tapi saya tak bisa membendung dorongan untuk tidak bersikap sok bijak. Mungkin karena saya juga pernah berada di fase asmara yang menye-menye seperti itu.

Saya katakan bahwa mereka harus tegas dan berani mengambil sikap dengan segala konsekuensinya. Tidak mudah, tapi itu bisa jadi jalan keluar bagi mereka yang terjebak pada rasa tawar. Toh itu hanya akan jadi bom waktu yang jelas berbahaya: karena ia membuat manusia tinggal tanpa gairah. Tanpa ambisi. Tanpa kejelasan.

Tawar membuat kita menerima yang seadanya. Menolak marah, menolak kecewa, tapi juga tidak lagi berharap. Tawar tidak menimbulkan luka, tapi ia menggerus perlahan, seperti air yang diam-diam mengikis batu.

Dan pada akhirnya, rasa tawar membuat kita hidup dalam kesepakatan yang tidak pernah ditandatangani secara sadar. Kesepakatan untuk tidak merasa. Kesepakatan untuk sekadar “cukup”.

Hubungan seperti itu bukan satu dua. Ia ada di rumah-rumah yang lampunya tetap menyala, tapi tak ada kehangatan di dalamnya. Di meja makan yang penuh lauk, tapi tanpa percakapan. Di ranjang yang dipakai berdua, tapi sepi seperti selayaknya kamar kos.

Dan bukan cuma soal hubungan asmara. Rasa tawar itu juga ada pada pekerjaan. Di banyak kota, orang-orang bangun pagi bukan dengan semangat, tapi terbawa kewajiban. Mereka naik kendaraan, mampir warung, ngopi sebentar, lalu mengalir dalam rutinitas yang tidak menyenangkan.

Gaji pas-pasan, bos tak mengapresiasi, rekan kerja sekedarnya, tapi semua tetap dijalani. Bukan karena mencintai pekerjaan itu, tapi karena tidak ada pilihan lain dan tak keberanian untuk memutus lingkaran seperti itu.

Politik Tawar: Rasa yang Dikonservasi

Dalam konteks yang lebih luas, negara pun bisa terasa tawar. Kebijakan publik terasa datar, tidak menyentuh akar persoalan. Pidato-pidato panjang berkumandang, tapi tidak menyala. Slogan-slogan pembangunan terdengar gagah, tapi di dalamnya rapuh dan manipulatif. Seolah semuanya hanya bunyi-bunyian tanpa getar. Tanpa rasa.

Siapa pun rezimnya, kita terlalu sering diberi rasa palsu. Kebijakan dan program diberi nama-nama yang manis: Makan Siang Gratis, Kartu Prakerja, Ibu Kota Nusantara. Tapi yang kita telan tetap saja hambar. Tawar.

Dan kita tahu, saat Kanda Bahlil Lahadalia muncul di layar, atau ketika pejabat tinggi membuka suara, selalu ada rasa tak nyaman yang pelan-pelan muncul. Kita tahu ada yang tak beres. Tapi kita diam.

Bukan karena takut. Tapi karena terlalu sering kecewa. Terlalu sering menelan rasa tawar dari ludah kekuasaan hingga lidah kita kehilangan kepekaan. Kita tidak lagi menggugat, bahkan untuk sesuatu yang mestinya menyentuh harga diri.

Tawar Bukan Ketiadaan, Tapi Kemungkinan

Namun, saya tidak ingin menempatkan rasa tawar dalam posisi yang sepenuhnya buruk. Karena justru di tengah semua rasa yang mengganggu—manis yang berlebihan, asin yang menusuk, pedas yang menyulut emosi—rasa tawar bisa memberi ruang.

Dan mungkin, itulah yang membuatnya bertahan dalam diam. Tawar adalah titik nol dari semua rasa. Ia bukan akhir, melainkan awal. Seperti kertas kosong yang belum ditulisi. Seperti panggung kosong sebelum lampu sorot dinyalakan.

Tawar bukan ketiadaan, tapi kemungkinan. Ia menyimpan potensi: untuk merasa ulang, untuk merasakan dengan lebih jujur, untuk mengenali bahwa dalam sunyi pun, kehidupan bisa berdetak. Dan mungkin—justru setelah kita melewati waktu-waktu yang hambar—kita bisa benar-benar mengerti rasa yang sesungguhnya. Bukan rasa yang dipaksakan dari luar, tapi rasa yang tumbuh dari keberanian untuk hidup sepenuhnya.

Terlalu Lama Tawar: Bahaya yang Diam-diam

Tapi inilah bahayanya: rasa tawar yang bertahan terlalu lama tidak membuat kita berontak, tapi membuat kita menyerah. Ia membuat kita merasa cukup padahal sedang kekurangan. Ia membuat kita menerima nasib, padahal mestinya melawan. Ia membuat kita memaafkan sistem yang tidak adil, hanya karena kita terlalu lelah mencicipi kegagalan.

Karena itu, sesekali kita tak perlu takut pada rasa pahit. Karena pahit adalah rasa dari obat. Kita juga tak perlu takut pada pedas, karena pedas membuktikan bahwa lidah kita masih hidup.

Yang seharusnya ditakuti adalah rasa tawar yang terlalu lama singgah. Karena ia membuat kita hidup seperti tanaman air: tidak mati, tapi juga tidak berakar. Tidak tumbuh ke mana-mana. Tidak bergerak.

Tawar bisa diterima dalam segelas air putih. Tapi tidak dalam hati yang ingin mencintai hidup dengan utuh. Maka saya pelan-pelan belajar mencicipi rasa lain. Membiarkan hidup tidak sempurna, tapi terasa. Tidak mulus, tapi jujur. Tidak aman, tapi nyata.

Kita butuh rasa. Bukan demi drama, tapi demi menyadari bahwa kita masih punya jantung yang berdetak, dan mata yang bisa menangis. Dan bila hidup terasa terlalu tawar, mungkin bukan karena kurang garam, tapi karena terlalu lama kita biarkan mulut ini tidak bicara dan hati ini tidak bertanya:

“Untuk apa aku hidup, kalau tak pernah benar-benar terasa?”