Melacak dan Menjernihkan Argumen Gita Savitri

Freelance Writers. Nostradamus. Homo ludens.
Konten dari Pengguna
10 Februari 2023 17:32
·
waktu baca 4 menit
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gigih Imanadi Darma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gita Savitri saat berpose di bawah matahari Jerman. Foto: Instagram @Gitasav
zoom-in-whitePerbesar
Gita Savitri saat berpose di bawah matahari Jerman. Foto: Instagram @Gitasav
Alangkah gemasnya netizen Indonesia dengan Gita Savitri. Sebagaimana kegemasan para remaja akhir yang ngebet nikah ketika melihat anak bayi teman atau sanak saudara mereka.
Kalau sedang gemas begitu rupa, tiada lain yang dilakukan biasanya adalah mencubit-cubit pipi atau pura-pura bertanya-tanya dengan kalimat, "Anak siapa ini anak siapa?"
Apa daya tangan netizen tak sampai dan kalau pun sampai tak baik juga untuk dilakukan. Biarlah itu menjadi urusan Paul Partohap. Suami Gita Savitri yang mualaf itu.

Duduk Perkara Kontroversi Gita Savitri

Bukan kali ini saja Gita Savitri membuat netizen Indonesia panas dingin. Pandangan-pandangannya yang dibagikan lewat kanal pribadi sosial medianya kerap menyulut api kemarahan dan kalau diteruskan bisa jadi kobaran kebencian.
Kalau dihitung-hitung, pandangan Gita yang paling mendatangkan keriuhan sejauh ini ada 3 hal. Pertama, tentang Qatar yang dinilainya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 yang homofobia. Kedua, celoteh pedas Gita Savitri tentang stunting yang ditujukannya terhadap netizen yang mengomentari keputusan dirinya mengenakan turban. Ketiga, yang ini paling berisik yakni childfree. Pilihannya untuk tidak memiliki anak. Dan ini melahirkan irisan keriuhan terbaru.
Di kolom komentar salah satu postingannya, seorang netizen memuji Gita Savitri yang tampak awet muda dibandingkan dengan dirinya sendiri yang terpaut 6 tahun di bawah usia Gita Savitri yang sudah 30 tahun. Mungkin pada siang hari yang sejuk di Jerman sana, Gita dengan maksud bercanda membalas komentar itu dengan nada kalimat yang problematik.

Tidak punya anak memang anti penuaan alami. Kamu bisa tidur selama 8 jam sehari. Tidak stres mendengar teriakan anak-anak. Dan saat kamu akhirnya keriput, kamu punya banyak uang untuk membayar botox.

-Gita Savitri

Cara Gita Savitri menanggapi respons netizen Indonesia dengan kesal itu kemudian menggelinding. Alhasil dirinya dibanjiri komentar oleh mereka yang kontra. Kebanyakan yang tersinggung lalu ketersinggungan itu menular, dan sampai-sampai harus menyeret nama ibu-ibu yang masih aduhai. Mulai dari Wulan Guritno, Sophia Latjuba, Yuni Sara, hingga Ussy Sulistiawaty. Bukti sahih kalau punya anak masih tetap sedap dipandang.

Melacak dan Menjernihkan Argumen Gita Savitri

Gita Savitri Devi. Foto: Dok. Gita Savitri Devi.
zoom-in-whitePerbesar
Gita Savitri Devi. Foto: Dok. Gita Savitri Devi.
Lantas dari mana Gita Savitri bisa membuat pernyataan kalau tidak punya anak berkolerasi langsung dengan anti penuaan alami alias awet muda?
Sebuah jurnal dari Oxford Academic yang berjudul "Parity Associated With Telomere Length Among US Reproductive Age Women." menyebut kehamilan itu bisa memperpendek telomere. Bagian ujung DNA yang punya fungsi menjaga kromosom agar sel tetap hidup dan kemudian bereplikasi.
Ilustrasi telemore: Foto: Medical News Today/ Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi telemore: Foto: Medical News Today/ Shutterstock
Sederhananya, semakin pendek telomere berpengaruh terhadap sel-sel yang mendorong penuaan. Yang jadi pertanyaan krusialnya adalah, apakah benar punya anak jadi penyebab utamanya? Bisa jadi Gita Savitri membaca hasil dari jurnal yang terbit pada 2018 itu atau sejenisnya dan lalu yakin begitu saja dan lalu menggigit keyakinannya itu dengan gigi gerahamnya.
Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa perempuan yang melahirkan punya telomere lebih pendek 4,2 persen ketimbang yang tidak punya anak. Kabar lainnya, pemendekan itu lebih besar faktornya dari yang disebabkan oleh merokok dan obesitas.
Namun Anna Z Pollack dan dua rekan penelitiannya menemui kebingungan, sebab sewaktu mengambil sampel atau data ada subjek yang secara genetik terlihat lebih muda meskipun punya telomere yang pendek. Alhasil penelitian itu masih menyisakan pertanyaan, apakah pemendekan telomere merupakan proses alami sepenuhnya, atau karena faktor kurang tidur, atau kurangnya dukungan sosial.
Penelitian lainnya di Guatemala melengkapi puzzle kebingungan itu. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Scientifc Report berjudul, " Reproduction Predicts Shorter Telomeres and Epigenetic Age Acceleration Among Young Adult Women," menyebut bahwa perempuan lokal di sana yang punya anak berapapun dan membesarkannya lebih dari 13 tahun punya telomere yang lebih panjang daripada yang tidak punya anak.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Itu karena para perempuan suku Maya di Guatemala menganggap anak adalah karunia terbesar dari Tuhan.

Seorang anak dapat merekatkan hubungan yang membuat komunitas di sana menjalin social support yang sehat. Dengan demikian kebahagiaan paling murni bisa dikondisikan.

Kesimpulannya, tingginya dukungan sosial dan rendahnya tingkat stres membuat ibu-ibu di Guatemala (bayangkan kalau penelitian serupa juga dilakukan di belahan bumi lain) terlihat lebih muda ketimbang yang masih jomblo.
Hal-hal semacam itu tidak terjadi pada negara maju yang seolah mata mereka terbuka dan selalu melek seperti Amerika Serikat dan mungkin juga Jerman, yang tekanan sosialnya tinggi di mana manusianya, para perempuannya, terus disibukkan dengan keduniaan. Dunia mereka berlari dan hidup jadi tidak rileks.

Catatan Penutup

Pembahasan di atas hanya satu dari sekian banyak cara untuk membuktikan bahwa opini Gita Savitri tentang punya anak dan potensi penuaan dini tidak sepenuhnya valid.
Janganlah gampang galau dengan opini orang yang bahkan tidak bisa Anda sentuh. Jangan biarkan diri Anda dikuasai kemarahan. Anda masih terlalu muda dan cantik dan manis, jadi alangkah sayangnya kalau waktu untuk berolahraga, bercakap-cakap manja dengan pasangan, dan sebagainya malah teralihkan untuk meladeni bayi dewasa.
Tabik!