Hulu Buto Bajang: Bayangan Jiwa dalam Kisah Raden Sukroseno

Nama:Gilang abitio Umur: 21 tahun Status:Mahasiswa Prodi ilmu komunikasi Minat pada jurnalistik di bidang sosial dan budaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gilang abitio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam dunia perkerisan, setiap unsur memiliki makna filosofis yang dalam. Bilah keris, warangka, hingga hulu atau deder, semuanya menyimpan simbol dan tafsir yang melebihi bentuk fisiknya. Di antara semua itu, hulu keris berbentuk Buto Bajang menjadi salah satu yang menarik perhatian, bukan karena keelokannya, melainkan karena paradoks yang dikandungnya: sosok raksasa kecil yang terlihat menakutkan, tetapi justru sarat makna kesetiaan dan pengabdian. Ketika saya merenungkan bentuk hulu Buto Bajang, bayangan saya tak bisa lepas dari sosok Raden Sukroseno dalam lakon Sumantri Ngenger.

Raden Sukroseno adalah adik dari Raden Sumantri, seorang satria tampan dan perkasa. Namun, Sukroseno lahir dalam rupa yang berbanding terbalik: tubuh besar, wajah menyeramkan, dan dianggap sebagai raksasa. Meski demikian, dalam hatinya bersemayam kelembutan, kasih sayang yang tulus, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ketika kakaknya memilih meniti jalan pengabdian dan kemudian menjadi abdi kerajaan, Sukroseno dengan penuh cinta ikut serta, rela menjadi bayang-bayang sang kakak, tanpa pamrih.
Raden Sumantri dititahkan memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan—a tugas mustahil bagi manusia. Adiknya, Sukroseno, sang buto berhati mulia, menawarkan bantuan dengan satu syarat: agar ia diizinkan tinggal bersama sang kakak.Demi cinta tanpa syarat, Sukroseno mengerahkan seluruh tenaganya. Ia tak peduli pada rupa atau kehormatan. Yang ia inginkan hanyalah dekat dengan sang kakak. Tapi setelah taman berhasil dipindahkan, takdir berkata lain. Sukroseno justru dikorbankan demi nama baik Sumantri.Ia tak melawan,Ia hanya mencintai.
Kisah tragis ini adalah cermin dari makna simbolis Buto Bajang. Hulu keris berbentuk Buto Bajang sering kali dipandang menyeramkan, bahkan dianggap sebagai penolak bala. Namun, bila kita telaah lebih dalam, ia adalah lambang dari kekuatan yang diam, kesetiaan yang dalam, dan pengabdian yang tak pernah menuntut balas. Ia bukan sekadar ornamen pelengkap, melainkan fondasi yang menopang bilah keris agar dapat digenggam dan digunakan. Tanpa hulu, bilah yang tajam dan indah pun kehilangan fungsinya.
Paradoks inilah yang membuat hulu Buto Bajang begitu memikat. Ia tampak garang, namun mengandung cinta. Ia terlihat kecil dan jongkok, namun justru memikul tanggung jawab besar: menopang kekuatan utama. Seperti halnya Sukroseno, ia tidak dikenal, tidak diagungkan, bahkan terkadang dianggap sebagai bayangan yang mengganggu. Namun dalam diamnya, ia menyimpan makna luhur yang kerap terlupakan: pengorbanan dan kasih tanpa syarat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menjadi seperti Sumantri—mencari pengakuan, kehormatan, dan kemenangan, bahkan dengan mengorbankan mereka yang paling setia. Sementara itu, sosok seperti Sukroseno—atau dalam simbol tosan aji, Buto Bajang—menjadi mereka yang berada di balik layar, diam-diam menopang, mencintai, dan mengabdi, walau tidak pernah diberi tempat di panggung utama.
Buto Bajang, dengan seluruh kerendahannya, mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersinar terang, melainkan terkadang hadir dalam bentuk yang tak disukai, dalam wujud yang tidak diagungkan, namun tetap setia menggenggam dan menopang bilah kehidupan.
Lestari keris negeri,jaya selalu NKRI
Gilang abitio, Mahasiswa Prodi ilmu komunikasi
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
