Konten dari Pengguna

Korosi Budaya Keris Bangsa di Kalangan Anak Muda

Gilang abitio

Gilang abitio

Nama:Gilang abitio Umur: 21 tahun Status:Mahasiswa Prodi ilmu komunikasi Minat pada jurnalistik di bidang sosial dan budaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gilang abitio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Keris berwarangka gayaman surakarta (Sumber:dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Keris berwarangka gayaman surakarta (Sumber:dokumentasi pribadi)

Di tengah gegap gempita modernitas, warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia kian digerus oleh derasnya arus zaman. Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah keris—senjata tradisional yang tak sekadar bilah besi, melainkan simbol spiritualitas, identitas, dan kebijaksanaan Nusantara. Kini, keris seperti mengalami “korosi budaya”: tergerus perlahan dari kesadaran kolektif, terutama di kalangan anak muda.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Banyak generasi muda memandang keris sebagai peninggalan usang yang tak relevan. Di mata mereka, keris hanyalah benda kuno yang sarat mitos, bahkan tak jarang dicap sebagai barang “sesat” yang bertentangan dengan ajaran agama. Stigma ini diperkuat oleh minimnya edukasi kultural yang mampu menjelaskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam sebilah keris.

Selain dianggap berkonotasi mistik yang kelam, keris juga dinilai tak “keren”. Di era digital, di mana identitas dibentuk lewat media sosial dan tren global, keris sulit bersaing dengan simbol-simbol budaya populer dari luar negeri. Tak ada ruang bagi warisan seperti keris di antara filter Instagram, streetwear, dan K-pop. Anak muda lebih akrab dengan istilah NFT ketimbang memahami apa itu pamor “Beras Wutah” atau dapur “Jalak Ngore”.

Namun, mungkinkah ini kesalahan semata-mata anak muda? Tentu tidak sepenuhnya. Negara dan institusi kebudayaan kita kerap gagal dalam merumuskan pendekatan baru untuk menjangkau generasi muda. Keris terus dipamerkan di museum sebagai benda mati, tak diberi narasi yang hidup, tak dijelaskan fungsinya sebagai simbol perenungan, etika, dan nilai-nilai luhur. Warisan budaya tak bisa hanya dijaga dengan mengawetkan bentuknya—ia harus dihidupkan kembali lewat makna.

Solusi yang ditawarkan bukanlah sekadar “mempromosikan” keris sebagai benda koleksi, melainkan menanamkan ulang bahwa keris adalah ekspresi seni budaya yang tidak bertentangan dengan iman. Keris bisa dipahami sebagai seni logam yang rumit, perpaduan teknik tempa yang canggih dengan nilai filosofi yang dalam. Banyak empu membuat keris bukan dengan niat menyihir, tetapi menyampaikan pesan moral, doa, dan harapan. Pamor bukan ilmu hitam, melainkan jejak tangan manusia yang penuh harap. Dapur bukan mantra gaib, tetapi simbol karakter ideal manusia.

Langkah penting yang harus diambil adalah menginterpretasikan ulang keris dalam bingkai kekinian. Generasi muda perlu diajak untuk mengenali keris sebagai bagian dari identitas mereka—bukan lewat dogma, tetapi lewat dialog. Kolaborasi antara seniman muda, pembuat konten, fashion designer, dan empu tradisional bisa melahirkan ekspresi baru keris: dalam desain grafis, seni visual, bahkan dunia digital.

Kita juga perlu menempatkan narasi keris dalam wacana keagamaan yang proporsional. Ulama dan tokoh agama dapat berperan meluruskan bahwa menghormati keris sebagai warisan budaya tak berarti menyembahnya. Ini bukan soal mistik, tapi soal etika budaya. Bila nilai silaturahmi, kebijaksanaan, atau perenungan bisa ditanamkan lewat sebilah keris, mengapa harus ditolak?

Anak muda tak anti budaya—mereka hanya menanti cara yang tepat untuk memahami dan mencintainya. Bila kita terus membiarkan jarak ini menganga, maka korosi budaya tak bisa dielakkan. Keris bisa berkarat, tapi nilai yang terkandung di dalamnya jangan sampai turut hilang. Sudah saatnya kita menajamkan kembali bukan bilahnya, tetapi maknanya.

Lestari keris negeri,jaya selalu NKRI

Gilang abitio, Mahasiswa Prodi ilmu komunikasi

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta