Nasib Pendidikan Karakter di Masa Pandemi

Pengajar dan penulis buku "Wala Tai'asu", berdomisili di Berau, Kalimantan Timur
Tulisan dari Gilang Kusuma Wardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Orang tuanya tidak mau membelikan kuota internet untuk anaknya. Ia beralasan, takut kalau diselewengkan anaknya untuk bermain game,” ujar rekan sejawat guru. Perihal salah satu murid yang tidak bisa mengikuti pembelajaran dalam jaringan (daring). Saya pun mengernyitkan dahi, ketika mendengar keluh kesah semacam itu.
Memang, ada beberapa murid yang mengalami kendala dalam pembelajaran daring di sekolah. Mulai dari kesulitan menyediakan smartphone, jaringan internet hingga kuota internet. Belum lagi, soal orang tua yang tidak bisa mengawasi secara langsung pembelajaran daring anaknya. Dan, itu lazim juga terjadi di beberapa sekolah lainnya.
Namun, pengakuan seperti yang disampaikan rekan sejawat tadi, baru kali ini saya dengar. Saya tidak menyangka, ada orang tua yang dikategorikan ekonominya mampu, tapi tidak memfasilitasi anaknya lantaran khawatir anaknya malah bermain game. Dan bahwasanya, masalah-masalah kompleks seperti ini menjadi salah satu bukti ketimpangan yang terjadi dalam pendidikan di masa pandemi.
Sementara itu, menurut Ki Hajar Dewantara dalam Tri Pusat Pendidikan, bahwa sinergi antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat dibutuhkan. Bila salah satu lingkungan pendidikan hanya berjalan sendiri, mustahil untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan yang ideal. Karena, setiap lingkungan memiliki peranan penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Selain itu, pembelajaran daring juga memutus mata rantai pertemuan antara guru dan murid. Guru tidak bisa memantau perkembangan perilaku murid. Di mana guru tidak bisa membimbing secara langsung apabila murid melakukan kesalahan. Padahal, itu merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter di sekolah.
Kondisi tersebut bertambah runyam, karena pada pembelajaran daring seperti ini seorang guru hanya bisa semampunya memonitor perilaku murid, yaitu dari kedisiplinan mengisi daftar hadir online dan keaktifan murid dalam berdiskusi di WhatsApp Groups. Selain itu, beberapa guru menyiasati dengan membuat angket kegiatan murid ketika melaksanakan pembelajaran dari rumah, namun hal tersebut rawan untuk dimanipulasi murid yang tidak mendapat kontrol penuh dari orang tua. Dan, ini jelas menjadi sebuah sinyal buruk dalam pendidikan karakter di masa pandemi.
Beda cerita dari sisi kognitif atau pengetahuan dalam pembelajaran daring, soal ilmu, ‘Google’ bisa menutupi kekurangan guru dalam penyampaian materi pembelajaran secara teori. Namun, hal tersebut hanya mencakup satu aspek saja. Sedangkan, menurut Taksonomi Bloom, yang merupakan konsep tentang tiga model hierarki yang digunakan untuk mengklasifikasikan perkembangan pendidikan anak secara obyektif, menyebutkan bahwa pendidikan harus meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Misalnya, pendidikan karakter dalam pelaksanaan praktik di sekolah, yang di dalamnya terkandung aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Di mana sikap kerja murid dalam praktik dinilai secara terukur, bagaimana keterampilan dan pengetahuan murid mampu dinilai, yang otomatis selama pembelajaran daring ini muskil untuk dilakukan.
Lantas, soal pendidikan karakter, sejauh mana teknologi mampu menjangkau? Karena, melihat kasus di awal tadi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa pendidikan karakter mampu tercapai maksimal di lingkungan sekolah dan keluarga.
Bukankah sebuah bahaya besar apabila pendidikan karakter di masa pandemi ini hanya tersentuh ala kadarnya. Lhawong sebelum masa pandemi saja, tidak bisa dikatakan seratus persen tingkat keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah ataupun keluarga. Apalagi di masa krisis seperti ini.
Bukan tanpa sebab saya mengatakan demikian, karena sebelum pandemi melanda Indonesia, telah beberapa kali terjadi peristiwa memalukan seperti oknum murid yang menghadiahi bogem mentah kepada gurunya. Atau sebaliknya, oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya. Dan, ini merupakan sinyalemen ketidakberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah ataupun keluarga pada masa sebelum pandemi.
Bukankah ini mengerikan, apabila kondisi tersebut diperparah dengan semakin lemahnya pendidikan karakter di kedua lingkungan tersebut akibat pandemi. Bagaimana pun, pembelajaran tatap muka adalah keniscayaan. Meski, memaksakan pembelajaran tatap muka dengan embel-embel ‘sesuai protokol kesehatan’ juga merupakan langkah yang membahayakan. Mengingat, keselamatan murid beserta guru adalah hal yang utama. Buktinya, selepas pemerintah membolehkan dibukanya sekolah di zona kuning, lantas muncul klaster-klaster baru penyebaran Covid-19 di sekolah, seperti yang dilaporkan oleh akun @laporcovid beberapa waktu lalu.
Harus disadari juga, pembelajaran daring ini bersifat temporer. Namun, yang dikhawatirkan bila pandemi berlangsung lama, lantas pemerintah lamban dan tidak jelas dalam kebijakannya. Maka, para murid yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa ini, akan berpotensi kehilangan nilai-nilai karakter yang tangguh akibat terbiasa dengan kemudahan yang tidak mendidik dalam pembelajaran daring.
Siapakah yang akan dirugikan dengan pendidikan karakter yang terabaikan? Secara jangka pendek adalah para murid. Tentu, jangka panjangnya Negara itu sendiri. Karena, bukankah para murid ini yang nantinya akan mengemban tampuk pimpinan di berbagai instansi pemerintahan suatu saat nanti. Oleh sebab itu, sudah saatnya pemerintah selaku pemangku kebijakan, merumuskan cara terbaik dalam penerapan pendidikan karakter selama masa pandemi ini.
Jangan sampai, keterabaian pendidikan karakter di masa pandemi, mengakibatkan degradasi mutu pendidikan karakter bagi murid seluruh Indonesia. Dan, akan menjadi sebuah kelaziman, yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan baru (yang buruk) dari era ‘kebiasaan baru’ itu sendiri. Lantas, sebagai guru dan orang tua, apa yang bisa kita perbuat sekarang?
