Konten dari Pengguna

Mengingat Kembali Pramoedya Ananta Toer

Gilang GP

Gilang GP

A Profesional Marketer yang suka membaca, menulis, dan menganalisis suatu fenomena. Di sini menulis kuliner, review film, sesekali politik.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gilang GP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Google peringati ulang tahun Pramoedya Ananta Toer (Foto: Dok. Google)
zoom-in-whitePerbesar
Google peringati ulang tahun Pramoedya Ananta Toer (Foto: Dok. Google)

Pada tahun 2012-2013 adalah masa-masa di mana aneka prahara datang menghampiri, paling tidak bagi saya. Hampir tiap hari diisi dengan pertengkaran dalam keluarga.

Pagi, sore, bahkan malam. Siapa yang tak risih karenanya? Namun, saya enggan ambil pusing, barangkali begitulah hidup, mereka yang hidup adalah mereka yang juga punya masalah. Karena masalah adalah tanda hadirnya sebuah napas. Begitu, bukan? Hidup perlu dirayakan. Maka itu saya memilih untuk tidak mau larut terhadapnya, terlalu sia-sia energi yang saya punyai dialokasikan untuk hal-hal yang demikian tak membahagiakan.

Sayapun larut dalam berbagai macam buku, film, dan musik. Sharing buku-buku kesukaan dan membahasnya kerap saya lakukan di berbagai komunitas buku.

Seolah dunia yang saya hidupi cuma tiga: musik, film, dan tentu saja buku. Seiring waktu yang menggelinding, saya pun menemukan tetralogi pulau buru, sebuah magnum opus dari seorang Pramoedya Ananta Toer.

Buku-buku ini yang membuka mata pengetahuan saya agar menelusuri kancah sejarah, belajar darinya, dan pada gilirannya mengilhaminya, meski tidak mudah. Namun, setidaknya, aktivitas itu sukses mengalihkan dunia saya yang pada kala itu terpuruk. Pram dikenal sebagai sastrawan cum sejarawan yang sempat dikucilkan, diasingkan, bahkan dipenjara oleh rezim orde lama hingga orde baru.

Hanya karena sebuah karya yang isinya kata-kata, bukan nuklir atau drone yang sekali tekan bisa meluluhlantakkan suatu wilayah. Silakan tanya pada anak-anak Irak, Afghanistan, Suriah jika tidak percaya bagaimana rasanya dimborbardir drone.

Membaca tetralogi pulau buru artinya membaca sejarah yang dibalut fiksi pada masa pra-kemerdekaan, menyelami ruang dan waktu ketika Republik Indonesia belum diproklamirkan. Sebuah potret kebangkitan nasional yang memantik kesadaran kaum intelektual lokal pada abad 20. Rangkaian pertama dari tetralogi ini adalah Bumi Manusia. Menceritakan kondisi pribumi yang begitu terpuruk di bawah payung kolonial.

Lahirnya pergundikkan pun tak bisa dihindari, konstruksi sosial yang dibuat kolonial menempatkan strata kaum pribumi pada tempat paling semenjena setelah kaum totok, peranakan cina, arab, serta kaum priyayi.

Penindasan demi penindasan yang dirasakan kaum pribumi yang semena-mena menggugah Minke (tokoh utama) untuk melawan melalui tulisan-tulisan di surat kabar. Pertemuan Minke dengan Nyai Ontosoroh (Mertua) merupakan katalisator jiwa perlawanan Minke yang menancapkan kesadaran bahwa seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Selanjutnya adalah Anak Semua Bangsa. Mengisahkan pertemuan Minke yang seorang priyayi di mana status tersebut mendapat posisi yang terhormat ketika itu.

Namun, pertemuannya dengan Trunodongso, seorang petani yang menolak tanahnya disewakan secara paksa pada perusahaan gula milik kolonial semakin menghentak kesadarannya. Seperti yang pernah Pram katakan.

“Pribumi terpelajar harus membuat yang lain terpelajar juga, harus mampu berbicara dalam bahasa yang dimengerti rakyatnya. Karena setiap yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berpikir, apalagi mereka yang terpelajar.” Kemudian, Jejak Langkah. Minke sudah semakin matang. Ia mengerahkan semua kemampuan yang ada pada dirinya. Carpe diem quam minimum credula postero, begitulah kira-kira dalam benak Minke.

Ia dengan ulet dan giat mendirikan organisasi-organisasi massa dan pers, pemerintahan kolonial pun ketika itu kebakaran jenggot dan sempat memberedel kantor surat kabar tersebut. Lagi-lagi Pram pernah mengatakan dalam serpihan tulisannya, “Didiklah rakyatmu dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.” Dan yang terakhir adalah Rumah Kaca. Ini adalah periodisasi pemberantasan pergerakan pribumi oleh pemerintah kolonial. Pram, secara ciamik mengambil sudut pandang seorang agen polisi kolonial, J. Pangemanann, yang ditugaskan untuk memadamkan usaha perlawanan kaum pribumi.

Ada sesuatu yang berat menjangkiti batin Pangemanann ketika itu mengingat ia seorang Manado. Ia merasa ada yang aneh dan yang tak beres kala melaksanakan tugasnya. Pergolakan batin pun tak bisa dihindari Pangemanan.

Kini Pram memasuki usia yang ke-92. Google pun ikut merayakannya dengan memasang sosok Pram di mesin pencariannya.

Pram mungkin kini telah tiada namun karya-karyanya tetap menggema ke seluruh dunia, karena sebagaimana yang pernah dikatakan Pram,

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Selamat ulang tahun, Pram! Terima kasih atas inspirasinya.

Mengingat Kembali Pramoedya Ananta Toer (1)
zoom-in-whitePerbesar