Konten dari Pengguna

Pengaruh Variasi Dialek Bahasa Madura di Bondowoso dan Situbondo

Gilang Ramadhan
Saya merupakan seorang mahasiswa di Universitas Jember
25 Mei 2025 14:57 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pengaruh Variasi Dialek Bahasa Madura di Bondowoso dan Situbondo
Tulisan ini membahas pengaruh variasi dialek bahasa Madura di dua daerah Tapal Kuda, yakni Bondowoso dan Situbondo. Meskipun berdekatan secara geografis, keduanya memiliki perbedaan dialek yang cukup
Gilang Ramadhan
Tulisan dari Gilang Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh Mufid Majnun via Unplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Mufid Majnun via Unplash
ADVERTISEMENT
Di Jawa Timur, penggunaan bahasa Madura cukup meluas. Wilayah bagian timur dikenal sebagai kawasan Tapal Kuda, yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tapal Kuda sendiri merupakan wilayah sub-kultur di Jawa Timur yang sebagian besar penduduknya adalah orang Madura. Karena penyebaran bahasa Madura yang cukup luas di berbagai daerah, muncullah beragam variasi bahasa yang digunakan, termasuk di Kabupaten Situbondo dan Bondowoso. Seperti halnya bahasa daerah lain, bahasa Madura juga punya beberapa ragam dialek. Namun, secara umum hanya ada empat dialek utama yang diakui, yaitu dialek Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Kangean. Dialek ini merupakan bentuk variasi bahasa yang muncul karena perbedaan wilayah. Kridalaksana (2001:42) mengatakan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda tergantung siapa yang memakainya—bisa karena perbedaan tempat (dialek geografis), kelompok sosial (dialek sosial), atau zaman (dialek temporal). Perbedaan dialek bahasa Madura yang ada di Bondowoso dan Situbondo ini juga tidak lepas dari pengaruh sejarah masa lalu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau punya peran besar dalam membentuk cara pengucapan bahasa Madura yang kita kenal di daerah tersebut sampai sekarang.
ADVERTISEMENT
Situbondo dan Bondowoso terletak di bagian timur Pulau Jawa, tepat sebelum wilayah Banyuwangi. Walaupun termasuk dalam wilayah Jawa, masyarakat Situbondo dan Bondowoso memiliki perbedaan mencolok dibandingkan dengan kebanyakan orang Jawa, terutama dalam hal bahasa. Perbedaan ini orang-orang menyebutnya dengan “Madura swasta” atau “Madura KW”, sindiran seperti itu digunakan untuk seorang yang berasal dari jawa namun tidak bisa berbahasa jawa, justru lebih lancar berbahasa Madura. Bahasa Madura yang digunakan oleh masyarakat Bondowoso dan Situbondo itu memiliki keunikan tersendiri, bahkan sedikit berbeda dengan di pulau Madura. Pulau Madura, terdapat beberapa macam dialek, seperti sumenep, sampang, pamekasa, dan kangean. keistimewaan bahasanya terletak pada dialek yang berbeda dalam satu kabupaten. Masuknya bahasa Madura ke daerah Tapal Kuda khususnya Bondowoso dan Situbondo memiliki sejarah yang kompleks, pada zaman kolonial orang Madura bermigrasi ke daerah Tapal Kuda seperti Situbondo, Lumajang Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Mereka mendarat di pesisir timur pulau Jawa, pada abad ke-19 masyarakat di wilayah timur banyak yang pindah karena peperangan. Awalnya mereka hanya berdagang dan mencari ikan saja, tetapi kemudian mereka menetap di daerah Tapal Kuda khususnya di Bondowoso dan Situbondo, maka dari itu alasan mengapa orang Bondowoso dan Situbondo lebih fasih berbahasa Madura daripada bahasa Jawa karena faktor sajarah nenek moyang yang dulunya pedagang dan nelayan dari Madura.
ADVERTISEMENT
Dialek bahasa Madura di Situbondo sebagian besar termasuk variasi dialek Sumenep, khususnya di bagian timur Situbondo seperti Panarukan hingga Banyuputih. Hal ini karena sejarah migrasi dan pengaruh Kesultanan Sumenep yang membuat bahasa Madura di Situbondo mengadopsi dialek Sumenep, meskipun terdapat sedikit perbedaan diksi dari bahasa Madura asli di Pulau Madura. Jadi, alasan utama penggunaan dialek Sumenep di Situbondo adalah karena migrasi orang Madura ke daerah ini sejak lama, terutama pada masa kolonial dan pembukaan perkebunan di Jawa Timur, sehingga budaya dan bahasa Madura dari Sumenep terbawa dan berkembang di Situbondo. Sedangkan bagian barat Situbondo cenderung menggunakan dialek yang mirip dengan dialek Sampang.
Sedangkan di daerah Bondowoso, yang termasuk wilayah di Jawa Timur dekat Madura, bahasa Madura yang digunakan masuk dalam variasi dialek Pamekasan atau dialek Madura Sentral. Hal ini karena Bondowoso secara geografis dan linguistik termasuk dalam wilayah yang menggunakan dialek Madura Sentral bersama Pamekasan, Sampang, Probolinggo, dan Jember. Dialek Pamekasan ini memiliki ciri khas pengucapan yang berbeda dengan dialek Bangkalan (Madura Barat) dan dialek Sumenep (Madura Timur), misalnya dalam penggunaan kata seperti “ta” untuk “tidak” dan “bâ'en” untuk “kamu”. Dialek ini juga cenderung memiliki ritme pengucapan yang sedang, tidak secepat dialek Bangkalan dan tidak sepanjang dialek Sumenep. Jadi, bahasa Madura daerah Bondowoso termasuk dalam variasi dialek Pamekasan karena letaknya yang secara geografis dan kultural masuk dalam wilayah Madura Sentral, dan karakteristik bahasa yang digunakan sesuai dengan ciri dialek tersebut.
ADVERTISEMENT
Meskipun Bondowoso dan Situbondo ini berdekatan secara geografis dan berada di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, terdapat perbedaan dialek yang cukup signifikan. Bahasa Madura di Bondowoso termasuk dalam dialek Pamekasan atau Madura Sentral, yang memiliki ciri khas pengucapan dan kosakata berbeda dengan dialek Madura. Di Situbondo, bahasa Madura terbagi menjadi subdialek yang dipengaruhi oleh dialek Sumenep di bagian timur dan dialek Sampang di bagian barat, mencerminkan pengaruh sejarah dan interaksi sosial yang unik di wilayah tersebut. Variasi ini menunjukkan bagaimana faktor geografis, sejarah, dan sosial membentuk identitas kebahasaan yang khas di masing-masing daerah, sekaligus memperkaya keanekaragaman bahasa Madura di Jawa Timur
Daftar Pustaka
Alifian. "Situbondo, Madura Swasta yang Kaya Sejarah" Mojok.co. 05 Mei 2025.
ADVERTISEMENT
https://mojok.co/terminal/situbondo-madura-swasta-yang-kaya-sejarah/
Dewi, F., Widayati, W., & Soetomo, U. (n.d.). KAJIAN DIALEKTOLOGI BAHASA
MADURA DIALEK BANGKALAN. https://ejournal.unitomo.ac.id/index.php/pbs
Hafid Effendy, M., Bahasa, V., & Pamekasan Pendahuluan, D. A. (n.d.). TINJAUAN
DESKRIPTIF TENTANG VARIAN BAHASA DIALEK PAMEKASAN Kata kunci.
Istri, O. :, Astuti, M., Laksono, K., & Sodiq, S. (n.d.). VARIASI BAHASA MADURA DI
KECAMATAN MUNCAR, BANYUWANGI: KAJIAN DIALEKTOLOGI
DIAKRONIS.