Konten dari Pengguna
Riset Menunjukkan Klorofil-a Tinggi Tidak Selalu Mencerminkan Kelimpahan Tuna
9 Januari 2026 13:59 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Riset Menunjukkan Klorofil-a Tinggi Tidak Selalu Mencerminkan Kelimpahan Tuna
Riset terbaru menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a tinggi tidak selalu berkorelasi dengan kelimpahan tuna. Tuna lebih banyak ditemukan pada zona transisi klorofil dibandingkan nilai maksimum.GILAR BUDI PRATAMA
Tulisan dari GILAR BUDI PRATAMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Klorofil-a telah digunakan secara luas sebagai indikator produktivitas perairan dan acuan dalam pemetaan daerah penangkapan ikan tuna. Berbagai penelitian memanfaatkan data klorofil-a, termasuk yang berkaitan dengan fenomena upwelling, untuk mengidentifikasi wilayah perairan yang berpotensi produktif. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi pada kondisi upwelling umumnya diasosiasikan dengan meningkatnya ketersediaan pakan dan potensi kelimpahan ikan. Namun, hasil riset terbaru oleh Pratama et al. (2025) yang menggunakan pendekatan machine learning menunjukkan bahwa hubungan antara klorofil-a dan kelimpahan tuna tidak selalu bersifat linier.
ADVERTISEMENT
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a yang tinggi tidak secara otomatis mencerminkan daerah penangkapan tuna yang produktif. Distribusi dan kelimpahan tuna justru lebih sering ditemukan pada zona transisi klorofil-a, bukan pada area dengan nilai klorofil-a maksimum.
Secara ekologi, klorofil-a merefleksikan peningkatan produksi fitoplankton yang berlangsung relatif cepat. Akan tetapi, energi yang dihasilkan dari produksi primer tersebut tidak secara langsung tersedia bagi tuna. Transfer energi dalam ekosistem laut berlangsung secara bertahap melalui rantai makanan, dimulai dari fitoplankton, zooplankton, ikan pelagis kecil, hingga ikan pelagis menengah, sebelum akhirnya dimanfaatkan oleh tuna sebagai predator puncak. Proses ini menyebabkan adanya jeda waktu antara peningkatan klorofil-a dan respons kelimpahan tuna di suatu wilayah.
Selain faktor rantai makanan, kelimpahan tuna juga dipengaruhi oleh kondisi oseanografi lainnya, seperti struktur suhu perairan, dinamika arus laut, keberadaan zona front hingga ketinggian muka air laut. Faktor-faktor tersebut cenderung bersifat lebih stabil dan integratif dibandingkan fluktuasi klorofil-a yang temporer, sehingga lebih representatif dalam menentukan kesesuaian habitat tuna.
ADVERTISEMENT
Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengelolaan perikanan tangkap dan pengembangan metode pemetaan daerah penangkapan ikan. Pendekatan yang hanya mengandalkan klorofil-a sebagai indikator tunggal berpotensi menghasilkan estimasi lokasi penangkapan yang kurang akurat. Sebaliknya, penggunaan pendekatan multi-parameter berbasis data oseanografi dinilai lebih efektif dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna yang efisien dan berkelanjutan. Hasil lengkap penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional dan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan riset, kebijakan, serta praktik pengelolaan perikanan tuna di Indonesia.

