Konten dari Pengguna

Jebakan Dopamin: Kenapa Kita Terus Scrolling Tanpa Henti di Media Sosial

Gina Claudya

Gina Claudya

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gina Claudya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebiasaan scrolling. Foto: pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebiasaan scrolling. Foto: pexels

Di era digital saat ini, mayoritas di antara kita pasti pernah mengalami: niat awal hanya mengecek satu notifikasi tetapi akhirnya menghabiskan waktu dua jam untuk menggeser (scrolling) layar ponsel tanpa sadar. Hal ini merupakan fenomena kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial. Kebiasaan scrolling terasa begitu otomatis dan adiktif seolah ada kekuatan yang menahan jari kita untuk terus melakukan gerakan menggeser layar ponsel. Akan tetapi jika kebiasaan ini terus dilakukan, lama-kelamaan akan berdampak buruk pada kesehatan mental.

Kita sadar bahwa scrolling yang berlebihan dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan mental seperti, meningkatkan stres dan kecemasan, mengganggu kualitas tidur, serta membuang waktu berharga. Namun, meskipun kita menyadari hal ini, mayoritas di antara kita masih kesulitan untuk berhenti melakukan kebiasaan buruk tersebut dan merasa terjebak dalam kebiasaan scrolling. Fenomena ini menarik untuk dibahas karena mengungkap konflik biologis fundamental dalam diri kita. Jika kita adalah makhluk yang rasional, mengapa secara konsisten kita mengabaikan tujuan jangka panjang demi kesenangan digital yang instan?

Melalui kacamata Biopsikologi, fenomena ini bukan sekadar masalah kemauan atau manajemen waktu. Fenomena ini merupakan sebuah pertarungan neurobiologis. Teknologi digital terutama media sosial memanfaatkan cara kerja otak kita, khususnya sistem yang membuat kita merasa senang (dopamin) sehingga kita terus merasa puas dan ingin menggunakannya terus menerus.

Fenomena kebiasaan scrolling yang tidak terkendali adalah manifestasi dari bagaimana teknologi digital berhasil “meretas” sistem biologis yang berevolusi untuk mendorong kita mencari hal-hal yang penting untuk kelangsungan hidup. Terdapat beberapa mekanisme biologis yang dapat menjebak kita dalam lingkaran konten digital, yaitu:

1. Dopamin dan “Efek Mesin Slot”

Pusat dari jebakan ini adalah dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam mengatur gerakan tubuh, meningkatkan motivasi, serta menyampaikan sinyal dalam otak yang mendorong kita untuk terus bergerak dan mencari hal-hal yang menyenangkan (Nia Afrida, dkk, 2023). Dopamin mendorong kita untuk mengejar reward sejak awal melakukan aktivitas scrolling sehingga bukan sekadar membuat kita merasa senang saat mendapatkannya (konten). Perilaku scrolling memicu pelepasan dopamin paling kuat karena sifatnya acak mirip dengan mesin slot dan tidak pasti apakah akan muncul video lucu, konten viral, ataupun gosip menarik. Kita terus melakukan scrolling karena otak yakin bahwa reward (konten lucu/viral) berikutnya akan datang.

Dalam perspektif biopsikologi, fenomena ini dijelaskan pada konsep "Sensitisasi Intensif" yang membedakan antara sistem ‘wanting’ (menginginkan) dan ‘liking’ (menyukai). Dalam konteks kecanduan perilaku, dopamin bertindak sebagai molekul ‘wanting’ yang mendorong dorongan kompulsif untuk mengejar imbalan, bukan molekul ‘liking’ yang memberikan kepuasan atau kesenangan. Akibatnya, meskipun kontennya membosankan, otak tetap terdorong untuk mengejar antisipasi kesenangan dan menjebak diri kita ke dalam siklus scrolling tanpa henti.

2. Kekalahan Kontrol Diri oleh Kepuasan Instan

Ilustrasi sistem limbik dan korteks prefrontal (PFC). Foto: istockphoto

Scrolling tanpa henti melibatkan pertarungan neurobiologis antara sistem limbik yang berperan sebagai pusat emosi serta reward instan dan korteks prefrontal (PFC) yang memiliki peran sebagai pusat pengendalian diri serta perencanaan jangka panjang. Media sosial mengeksploitasi bias kognitif biologis yang disebut Diskonto Hiperbolik (Hyperbolic Discounting), yaitu kecenderungan otak kita untuk lebih mengutamakan kesenangan instan yang didapatkan segera atau langsung daripada manfaat jangka panjang yang lebih berharga. Sayangnya, dalam kondisi lelah atau stres, bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan dorongan tersebut yaitu PFC tidak bekerja secara optimal.

PFC rentan terhadap kelelahan kognitif (cognitive fatigue) dan stres. Setelah beraktivitas atau saat mood buruk, energi dan sumber daya kognitif yang tersedia untuk PFC menurun. Bahkan, stres kronis dapat memicu perubahan struktural dan fungsional pada otak, khususnya pada bagian korteks prefrontal (PFC), hipokampus, dan amigdala (McEwen, 2017). Akibatnya, kemampuan kita dalam mengambil keputusan dan mengontrol emosi menurun sehingga cenderung lebih mudah bertindak tanpa berpikir panjang. Kelemahan PFC ini memungkinkan dorongan dari sistem limbik menjadi dominan. Karena PFC yang bertanggung jawab dalam kontrol diri dan perencanaan jangka panjang melemah, dorongan untuk meredakan kebosanan atau stres melalui reward dopamin instan dari scrolling menguasai kendali. Hal ini membuat kita sulit untuk menutup aplikasi karena dorongan naluriah (limbik) untuk kepuasan mengalahkan penalaran rasional (PFC).

3. Hormon Stres dan FOMO

Scrolling tanpa henti juga dipicu oleh mekanisme stres dan kecemasan, terutama Fear of Missing Out (FOMO) yang memiliki dasar biologis. Salah satu bagian otak yang berperan merespons ancaman adalah amigdala. Ketika kita melihat aktivitas orang lain di media sosial, amigdala yang yang memiliki fungsi mengatur emosi dan mengatur respons terhadap ancaman (fight or flight response) dapat terpicu. Secara evolusioner, terputus dari kelompok sosial merupakan ancaman. Scrolling menjadi perilaku cepat yang bertujuan meredakan kecemasan sosial ini. Kecemasan ini dapat berkembang menjadi nomophobia, yaitu ketakutan ekstrem untuk tidak terhubung atau tanpa ponsel yang menjadi faktor pendorong kuat bagi penggunaan media sosial yang bermasalah.

Sayangnya, upaya kompulsif untuk mengurangi FOMO justru cenderung dapat meningkatkan level kortisol (hormon stres), terutama saat kita membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Media sosial yang awalnya kita gunakan untuk mencari kenyamanan, hiburan atau koneksi sosial justru pada sebagian kasus malah memperburuk kondisi stres kita karena takut ketinggalan informasi dan aktivitas sosial. Hal inilah yang menciptakan siklus adiktif berbasis kecemasan dan sering kali tidak disadari.

Dapat disimpulkan bahwa scrolling tanpa henti bukan sekadar kemauan, melainkan jebakan neurobiologis yang dieksploitasi teknologi digital. Dopamin, dominasi sistem limbik atas PFC, dan kecemasan sosial seperti FOMO menjadi faktor pendorong seseorang melakukan scrolling tanpa henti. Solusinya, kita perlu memperkuat fungsi PFC dengan tidur cukup, mengelola stres, membatasi notifikasi, dan mengalihkan fokus ke aktivitas yang lebih bermakna.