Reformasi Ejaan Nama Negara: terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah
Tulisan dari Gina Ristiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengumumkan pembaruan ejaan untuk 194 nama negara dalam bahasa Indonesia. Salah satu perubahan yang paling menarik perhatian adalah perubahan nama Thailand yang kini resmi ditulis menjadi Tailan. Pembaruan ini bertujuan untuk menyesuaikan ejaan dengan kaidah fonologis dan linguistik bahasa Indonesia, memastikan konsistensi dalam dokumen resmi, laporan pemerintah, dan materi edukasi.
Pembaruan ini tertuang dalam dokumen resmi bernomor GEGN.2/2025/122/CRP.122 yang disampaikan pada sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York, Amerika Serikat, pada 28 April-2 Mei 2025. Pembaruan ini merupakan kelanjutan dari kerja Indonesia sejak 2019, saat pertama kali menyusun daftar nama negara dan ibu kota dunia, serta menyesuaikan eksonim agar selaras dengan kaidah bahasa Indonesia.
Perubahan yang Menarik Perhatian
Sejumlah perubahan lain juga dilakukan dalam daftar nama negara yang diperbarui. Beberapa di antaranya adalah:
• Thailand menjadi Tailan
• Brazil menjadi Brasil
• Paraguay menjadi Paraguai
• Djibouti menjadi Jibuti
• Finland menjadi Finlandia
• Iraq menjadi Irak
• Kyrgyzstan menjadi Kirgistan
• Switzerland menjadi Swis
• Uruguay tetap Uruguay
• Chile menjadi Cili
Selain itu, pembaruan ini juga mencakup perubahan terhadap sejumlah negara lainnya yang selama ini menggunakan ejaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan cara pengucapan dalam bahasa Indonesia.
Kolaborasi Antar Lembaga
Proses pembaruan ini tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelumnya, Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Luar Negeri, dan para ahli bahasa dari Universitas Indonesia telah melakukan penelitian mendalam untuk menemukan ejaan yang paling sesuai dengan tata bahasa Indonesia. Sidang komisi istilah yang melibatkan para pakar bahasa Indonesia serta pihak terkait lainnya menghasilkan kesepakatan ejaan yang tepat dan mudah dipahami. Setelah kesepakatan tercapai, hasil tersebut diajukan ke PBB untuk mendapatkan pengakuan internasional.
"Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa negara terus beradaptasi dan berkembang. Pembaruan ejaan ini adalah bukti bahwa bahasa bukanlah entitas statis, melainkan organisme yang hidup, yang harus mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan," kata Prof. Dr. Bambang Subiyanto, pakar linguistik dari Universitas Indonesia.
Menurutnya, perubahan ejaan ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan pengucapan dan membuatnya lebih mudah diterima oleh masyarakat Indonesia, sekaligus memperkuat identitas bahasa nasional dalam komunikasi internasional. “Penggunaan ejaan yang lebih sesuai dengan fonologi bahasa Indonesia akan menciptakan konsistensi dalam komunikasi, baik di tingkat lokal maupun global,” tambahnya.
Standarisasi Nama Negara untuk Dokumen Resmi
Pembaruan ejaan ini sangat penting untuk digunakan dalam dokumen resmi negara, laporan pemerintah, dan materi edukasi. Dengan ejaan yang lebih konsisten dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah memahami dan menggunakan nama-nama negara dalam kehidupan sehari-hari. Pembaruan ini juga menjadi langkah penting dalam memperkuat identitas nasional melalui bahasa.
Pembaruan KBBI pada April 2026
Ejaan baru ini akan dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dijadwalkan untuk diperbarui pada April 2026. Masyarakat Indonesia diharapkan dapat segera beradaptasi dengan perubahan ini. Langkah ini, meskipun mungkin memerlukan waktu untuk diterima sepenuhnya, diharapkan akan semakin mempermudah penggunaan bahasa Indonesia yang lebih konsisten dan rapi.
Kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia
Dengan adanya perubahan ini, pemerintah berharap agar masyarakat Indonesia semakin bangga dan peduli terhadap bahasa nasional. "Ini bukan hanya soal ejaan, tetapi juga tentang bagaimana bahasa Indonesia dipahami dan digunakan dalam konteks global. Kita ingin bahasa Indonesia menjadi bahasa yang semakin diperhitungkan di dunia internasional," tambah Bambang.
Dampak Pembaruan Ejaan terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Pembaruan ejaan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia di sekolah harus memfasilitasi pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan ini. Siswa perlu diperkenalkan dengan ejaan yang baru agar mereka bisa menggunakannya dengan tepat dalam konteks penulisan dan ucapan sehari-hari.
Pentingnya memahami ejaan yang benar tidak hanya menyangkut tata bahasa yang lebih rapi, tetapi juga memperkuat identitas bahasa Indonesia. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, penggunaan ejaan yang konsisten dapat membantu siswa memahami konsep fonologi dan semantik dalam bahasa Indonesia secara lebih mendalam. Ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih mengeja dengan benar, serta memahami perbedaan antara ejaan tradisional dan ejaan yang baru.
Dengan pembaruan ini, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dapat diperbarui sesuai dengan kaidah terbaru yang diakui secara internasional, memungkinkan siswa untuk lebih siap dalam komunikasi yang melibatkan referensi internasional. Selain itu, ejaan yang lebih konsisten ini juga membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan menulis, karena mereka akan terbiasa dengan pengucapan dan penulisan yang benar, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing.
Kesimpulan
Pembaruan ejaan 194 nama negara ini bukan hanya soal penyesuaian
fonetik, tetapi juga tentang bagaimana bahasa Indonesia terus berkembang seiring dengan kebutuhan zaman. Di tengah globalisasi, penting bagi kita untuk menjaga identitas bahasa kita melalui kebijakan yang strategis. Dengan pembaruan ini, bahasa Indonesia semakin menunjukkan keberadaannya sebagai bahasa yang dinamis dan siap diterima di panggung dunia.
________________________________________
Sumber
• Badan Informasi Geospasial (BIG), Dokumen Resmi GEGN.2/2025/122/CRP.122, Sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York, Amerika Serikat, 28 April-2 Mei 2025.
• Instagram badan Bahasa kemdikdasmen
• Sumber tambahan: CNBC Indonesia.

