Konten dari Pengguna

Jurnal: Bapak Tua yang Buat Aku Malu

Gina Yustika Dimara
Well organized.
5 November 2017 17:06 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gina Yustika Dimara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jurnal: Bapak Tua yang Buat Aku Malu
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Day three - Hari sebelumnya, hari pertama aku liputan membuatku panik bukan main. “Narasumbernya siapa ya, angle apa yang harus aku ambil, boleh masuk gak ya”, dan pikiran lainnya. Kemarin, aku ditugaskan untuk meliput renovasi stadion GBK. Tapi, setelah aku jalani, semua baik-baik saja bahkan aku dapat pengalaman yang tidak terlupakan: dimarahin kontraktor!
ADVERTISEMENT
Makanya, liputan hari ini aku sangat santai. Berpikir akan baik-baik saja seperti kemarin. Kebetulan, liputan hari ini kelompok kami ditugaskan untuk menuju Taman Ismail Marzuki (TIM). Angle yang kami cari bebas, tapi malamnya Mas Haikal, mentor kelompok kami, memberiku saran untuk tulis sesuai sudut pandang dari latar belakang pendidikanku, arsitektur. “Sip, gampang, bisa nih pasti,” aku pikir dengan sombong.
Sampai sana, semua memang berjalan dengan baik. Aku ambil angle dengan sudut pandang arsitektur. Aku coba gaya tulisan argumentatif. Tentang beberapa bangunan yang rusak, cat yang luntur dan beberapa area yang kumuh. Dilengkapi bukti tentunya. Jelas, saat menulis aku percaya diri toh ini memang ranahku.
Cerita sebenarnya dimulai saat aku dan temanku Sarah melihat bapak-bapak paruh baya sedang menggambar dengan teknik gambar yang unik. Naluriku langsung berpikir, “wah! Ada bapak tua lagi gambar dengan gaya unik. Keren nih kalau diangkat ceritanya”.
ADVERTISEMENT
Dengan memberanikan diri aku dan Sarah menghampiri bapak ini. Entah kenapa, dari semua narasumberku selama dua hari ini, bapak ini yang membuatku paling deg-degan. Dimarahi kontraktor tidak ada duanya dibanding dengan mengajak ngobrol bapak ini.
“Pak, kita mau mengobrol sebentar, boleh? Kami dari Kumparan, saya Sarah dan ini Gina”, sapa temanku Sarah membuka obrolan kami. Diam. Masih diam. Bapak ini hanya melihat kami kebingungan. Aku dan Sarah berkali-kali tukar pandangan. Bingung. Tapi untungnya, bapak ini membuka kecanggungan diantara kami dengan, “saya gelandangan untuk apa wawancara saya, masih banyak yang unik mbak disini”.
Duh. Aku pikir, apa ini serius aku dapat narasumber yang susah ditanyai. Aku sempat mau menyerah dan pergi, tapi aku yakin bapak ini mempunyai banyak cerita yang bisa ku ambil. Terutama aku membutuhkan pandangannya tentang arsitektur di TIM untuk artikel argumentatifku sebelumnya.
ADVERTISEMENT
“Nama bapak siapa?”, tanyaku. Pertanyaan paling simpel, paling singkat dan jawabannya paling jelas. Aku pikir pertanyaanku ini sesuatu yang sangat dasar ditanyakan setiap orang ketika pertama kali bertemu. Tapi tak kusangka, jawaban yang kudapat dari bapak ini adalah:
duh saya lupa mbak nama saya. Saya suka lupa, kalau inget nanti saya kasih tau ya”, jawabnya.
Entah bapak ini mau melucu atau bagaimana, tapi aku tidak bisa tertawa sama sekali. Saat itu cuaca sangat panas, aku sudah berkeringat, lapar lagi. Menyerah tidak ya? Tidak, tidak. Aku harus dapat cerita dari bapak ini untuk artikel ku nanti, pikirku.
Setelah segala pendekatan yang aku dan Sarah lakukan, masih saja nihil. Bapak ini sangat irit dalam menjawab, dan berkali kali membuat aku dan Sarah celingukan. Bingung harus bertanya apa lagi.
ADVERTISEMENT
Ditanya background pendidikan, ia jawab gelandangan. Ditanya gambar apa yang sedang ia buat, ia jawab tidak tahu. Ditanya pendapat tentang TIM, ia jawab tak berhak memberikan pandangan. Aku bingung, serius. Entah apa yang membuat aku sabar duduk di sebelah si bapak ketika semua pertanyaanku ia gantungkan.
Dan ya, selama 15 menit mengobrol. Aku masih belum dapat siapa nama bapak ini! Wah, pusing.
Alhasil aku iseng, aku bertanya apakah aku boleh lihat karya-karyanya. Tak kusangka, Ia mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. Ia pun mulai mempresentasikan kepada kami. Karya-karyanya ternyata sudah pernah masuk beberapa galeri pameran. Aku baca artikelnya, baca buku handoutnya dan HA! Aku menemukan nama si bapak! Dalam hatiku, “yes yes yes, bapak gak bisa ngibulin aku!”, dalam hatiku bangga dengan penemuan ini.
ADVERTISEMENT
“Pak namanya Rudi yaaaa”, kataku tiba-tiba. Beliau merasa “kecolongan” dan hanya menghembuskan napas panjang sambil tersenyum. He he he kena deh, pikirku.
Kabar baiknya, Pak Rudi mulai terbuka dalam berbicara. Ia menjelaskan bahwa teknik menggambarnya adalah pointilis. Teknik mengetuk-ngetukkan pulpen ke kertas, berupa titik-titik yang akan menghasilkan gambar. Menarik dan hasil karyanya sangat cantik untuk mataku yang masih awam ini. Kami pun penasaran, kenapa Pak Rudi sabar sekali menggambar dengan teknik ini, teknik yang sangat memakan waktu.
“Karena yang kita lihat dari manusia adalah kesabaran. Kesabarannya dalam menjalani hidup. Jadi ini sebenernya bukan tentang gambarnya, tapi seberapa sabar saya menjelajahi waktu, seberapa sabar saya berhadapan dengan orang-orang seperti Anda,” jawab Pak Rudi. Sontak aku langsung menahan tawa ketika Pak Rusi menyindir, bilang melatih kesabarannya terhadap orang-orang seperti kami. Aku pikir-pikir, memang kami mengesalkan, ya. Memaksa orang yang dari awal tidak mau diajak mengobrol. Hahaha.
ADVERTISEMENT
Aku melihat, Pak Rudi ini sangat unik. Banyak rahasia yang ia sembunyikan tapi pandangannya tentang hidup dan waktu membuatku betah duduk dibawah terik matahari saat itu. Aku biarkan ia bercerita tentang waktu, hidup, manusia dan yang lainnya. Dalam hatiku, kalau aku bisa tau tentang sepenuh hidupnya, aku pulang-pulang bisa jadi orang yang berbeda. Aku menyimpulkan Ia adalah orang yang bijak. Walaupun irit berbicara, sih.
“Saya cuma kepikiran untuk menjadi seorang manusia, saya kepingin berbudaya, saya tidak mau menjadi apa-apa, kecuali menjalani waktu. Sejak saya dilahirkan, saya menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa di dalam dunia ini. Sehebat apapun saya mendesain, kalau Tuhan bilang kodok, ya kodok itu”.
Tidak semua perkataannya aku setuju, bahkan di beberapa poin kami sangat bertolak belakang. Ketika Ia ingin mengalir, aku justru berapi-api. Ketika ia tak ingin menjadi apa-apa, aku justru penuh ambisi.
ADVERTISEMENT
Tapi ada hal yang membuatku malu dari Pak Rudi. Bahwa dia menghargai proses, ia menghargai dirinya dalam keadaan apapun dan ia mencintai waktu. Aku merasa itu hal besar yang menjadi bagian kecil dalam diriku. Aku sangat terburu-buru dan tidak menikmati proses. Aku terlalu terpaku bahwa proses yang indah itu hanyalah proses yang menghasilkan kesuksesan. Sesuatu yang terkadang membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Aku pikir, aku sering sekali jahat pada diri sendiri.
Aku pun terhanyut dengan segala ceritanya, Pak Rudi menutup ceritanya dengan berkata, “dan ini pertama kali saya ngomong panjang lebar dengan jurnalis”.