Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Penyetaraan Aksesoris Bangunan Demi Citra Betawi
8 November 2017 12:01 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
Tulisan dari Gina Yustika Dimara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Apabila merindukan nuansa betawi di Jakarta, maka berkunjung ke Setu Babakan, Jakarta Selatan adalah pilihan yang tepat! Dari mulai kuliner betawi, komunitas-komunitas tarian betawi, souvenir dan termasuk arsitekturnya.
ADVERTISEMENT
kumparan berkesempatan untuk mewawancarai Puji, istri dari ketua RT 10 dan Liana, istri dari ketua RT 13 (8/11). Menurut penjelasan Puji dan Liana, kebijakan penyetaraan aksesoris bangunan di perkampungan Setu Babakan sudah berlangsung selama 14 tahun.
“Tahun 2003 sampai 2004 sudah mulai diberlakukan kebijakan untuk menggunakan bangunan bernuansa betawi. Bangunan betawi kan biasanya dari kayu-kayu gitu kan.. nah, mulai tahun 2003 sudah dimulai ada perubahan-perubahan,” jelas Puji.

Semenjak 2003, PEMDA DKI mewajibkan setiap rumah untuk disetarakan dalam penggunaan aksesoris bangunan dengan khas arsitektur betawi. Setiap rumah dihiasi dengan ‘Gigi Balang’.

“Rumah-rumah lama langsung dibangun menggunakan aksesoris, beberapa ada yang memang dirombak menyerupa arsitektur betawi. Rumah-rumahnya tidak perlu 100% menyerupai rumah dengan gaya arsitektur betawi, namun setidaknya minimal rumah warga disini harus menggunakan ‘Gigi Balang’,” Liana menambahkan.

Biaya dari penambahan aksesoris-aksesoris bangunan di perkampungan Setu Babakan merupakan dari biaya pribadi. Puji menjelaskan bahwa warga rela mengeluarkan biaya tersebut demi menghidupkan dan menumbuhkan citra betawi kembali.
ADVERTISEMENT
“Ya gak apa-apa untuk menumbuhkan kembali kampung betawi kan dengan perubahan-perubahan ini,” tutup Puji.