Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
28 Ramadhan 1446 HJumat, 28 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Penyewa Sepeda Onthel: Kami Bisa Bahasa Inggris
7 November 2017 22:27 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
Tulisan dari Gina Yustika Dimara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Tahukah kalian bahwa penyewa sepeda onthel yang biasa kita lihat di kawasan Taman Fatahillah dapat berbahasa inggris?
ADVERTISEMENT
Taman Fatahillah yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, dulunya merupakan kawasan yang sepi dan jarang pengunjung. Namun, pada 2008, pemerintah mulai mengangkat Kota Tua sebagai salah satu destinasi wisata Jakarta. Dari situlah cerita sepeda onthel dimulai.
Wisata sepeda onthel ini mulai ramai pada tahun 2008. Pihak Museum Fatahillah yang sewaktu itu dikepalai oleh Chandrian Hatta mengusulkan dan merekrut para tukang ojek yang berada di sekitar jalanan Kota Tua untuk menjadi bagian dalam meramaikan destinasi wisata Kota Tua.
kumparan berkesempatan untuk mengobrol bersama pesewa sepeda onthel di kawasan Taman Fatahillah (7/11). Dalam penjelasannya, Andri Firmansyah (40), seorang pesewa sepeda onthel menjelaskan bahwa 80% pesewa onthel ini dulunya berprofesi sebagai ojek onthel di jalanan.
ADVERTISEMENT
“Sebenarnya semua ini tukang ojek, 80% lah. Saya termasuk salah satu tukang ojek onthel itu. Dulu Kota Tua ini belum rame kaya gini. Amburadul gitu, ya. Pak Chandrian Hatta bilang ‘ayo tukang ojek, daripada diluar, hayu sembari kita ramaikan kota tua’. Begitu, mbak, awalnya,” jelas Andri yang setia bersama Taman Fatahillah sejak 2008.
Masing-masing penyedia sepeda onthel ini hanya diperbolehkan menyediakan maksimal tiga sepeda. Berawal dari beberapa orang saja, kini pesewa onthel menjadi lebih banyak dan terbentuklah sebuah komunitas, Paguyuban Onthel Wisata Kota Tua.
“Darisitu, kita ada yang ngajarin atau istilahnya kasih pelajaran, bagaimana sih jadi sebuah komunitas. Nah, disitu masuklah LWG (Local Working Group) dan DNO (Dynasty Management Organization) yang mewadahi kita disini supaya diakui sebagai sebuah komunitas oleh wilayah setempat,” jelas Andri.
ADVERTISEMENT
Para pesewa onthel ini pun diberikan pendidikan bahasa inggris, untuk memperlancar komunikasinya dengan para wisatawan asing. Pengurus Kota Tua berkerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk memberikan pelatihan bahasa ini.
“Bisa saya bahasa inggris, ya sedikit-sedikit. Kalau di lihat dari latar belakang pendidikan kita kan cuma lulusan SD dan SMP. Mahasiswa-mahasiswa UNJ ngajarin kita seminggu sekali di Gedung Arsip. How much, duration, 30 minutes, 20 thousand rupiah. Yang penting nyambung,” tutur Andri melanjutkan.
Andri menjelaskan bahwa ia sekarang sudah fokus menjadi pesewa onthel dan berhenti dari profesi pertamanya sebagai ojek onthel keliling. Ia merasakan banyak sekali kesenangan yang ia dapatkan menjadi penyewa onthel di kawasan Fatahillah.
“Buat saya, semua kerjaan itu pasti ada resiko. Jadi, kalau saya mundur, artinya ya ga akan nyampe kaya sekarang kan, mbak,” tutup Andri.
ADVERTISEMENT