Konten dari Pengguna

Dampak Bullying Terhadap Mental Health Korban dan Pelaku

Gina Zakya

Gina Zakya

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gina Zakya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang anak yang di-bully oleh teman-temannya. Sumber gambar: shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak yang di-bully oleh teman-temannya. Sumber gambar: shutterstock.com

Apakah anda tahu bahwa banyak sekali kasus bullying di Indonesia? Kasus aksi bullying ini tidak satu atau dua kali saja terjadi, namun banyak sekali terjadi di Indonesia. Berdasarkan data KPAI, ada 226 kasus kekerasan fisik, psikis termasuk perundungan di tahun 2022. Kasus yang sungguh banyak, bukan! Dari banyaknya kasus perundungan di Indonesia, sebagian besar kasus ini dilakukan oleh siswa pelajar dari jenjang SD sampai SMA (Gundohutomo, 2022).

Salah satu contoh kasus bullying beberapa waktu lalu yang sangat miris terjadi kepada seorang anak SD di Tasikmalaya. Anak ini dikabarkan meninggal dunia akibat perlakuan teman-temannya yang memaksa untuk melakukan tindakan asusila terhadap seekor kucing, lalu menyebarkan video tersebut ke lingkungan rumah dan tersebar sampai viral di media sosial. Tentu saja hal ini membuat ia malu dan mengalami depresi berat, sehingga korban pun jatuh sakit dan nyawanya tidak terselamatkan (Rachmawati, 2022).

Bullying” di Mata Masyarakat

Melihat di ruang lingkup masyarakat sendiri, banyak yang sudah menganggap bahwa bullying itu hal biasa. Hal Ini dapat dikarenakan tayangan program televisi, seperti sinetron menampilkan banyak adegan bullying, yang tentu sangat berdampak negatif bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja yang menontonnya.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Nindya Alifin, menyebutkan bahwa bullying sendiri adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang dengan cara menyakiti fisik, verbal, ataupun psikis/emosional kepada orang yang menurutnya lebih lemah dalam fisik dan mental, secara berulang-ulang dan biasanya tanpa ada perlawanan dari korban. Tidak itu saja, Nindya juga mengungkapkan bahwa dalam kasus bullying terdapat dampak mental yang diterima baik korban maupun pelaku (Muliasari, 2019).

Perlakuan bullying yang bisa dilakukan oleh pelaku itu sangat banyak, contohnya yaitu, seperti memukul, mencubit, menendang, mengejek, berkata kasar, bahkan ada pelaku yang menyuruh korban untuk melakukan tiak asusila seperti kasus di atas.

Pada zaman sekarang yang hampir semua orang memiliki sosial media dan akses internet yang mudah, tidak mengurangi kasus bullying di kalangan pelajar. Hal itu juga dapat menjadi ajang bully di media sosial (cyber bullying). Mengirim video intimidasi atau menyebarkan video perundungan dan menuliskan komentar jahat juga termasuk dalam bullying di dunia maya. Perlakuan tidak adil dan kasar ini sudah dipastikan akan memberikan dampak fisik dan nonfisik. Yang paling berdampak, yaitu pada mental korban atau nonfisik seseorang.

Dampak Bullying pada Korban

Dilansir dari Jovee, banyak sekali dampak kasus bullying yang dirasakan oleh korban, antara lain yaitu gangguan mental, depresi, menjadi sensitif (mudah marah), atau malah sebaliknya dia menjadi sangat pendiam, merasa ketakutan, menarik diri dari teman yang lain, dan sudah pasti akan mengganggu prestasi belajar di sekolahnya.

Mereka atau korban bullying akan merasa tidak fokus saat belajar di kelas karena ia merasa terancam dan membuat mereka malah fokus pada bagaimana caranya agar tidak di-bully. Dampak di atas bahkan sangat memungkinkan tertanam hingga mereka dewasa. Maka dapat disimpulkan, bahwa dampak psikis yang diterima oleh korban sangat membekas, sehingga dia memerlukan pertolongan psikolog dan tentu keluarga juga lingkungan yang sehat agar dapat sembuh dan mau memulai kembali hidupnya.

Hal yang Dilakukan Saat Anak Jadi Korban Bullying

Nah, jika korban bullying hanya diam karena adanya ancaman dari pelaku dan pada umumnya mereka tidak akan mau menceritakan hal ini kepada siapa pun. Maka, kita perlu mengetahui tanda-tanda anak di-bully.

Dalam bullying, pasti korban akan menunjukkan perubahan sikap secara drastis kepada keluarga dan sekitarnya. Maka sebagai keluarga, khususnya orang tua, anda harus jeli mengamati perubahan tingkah laku anak, seperti nafsu makan berkurang, tidak punya teman, menjadi banyak diam, menghindari interaksi sosial, barang-barangnya hancur atau rusak, terlihat stres, susah tidur, mengalami luka-luka di tubuhnya, dan hal tidak wajar lainnya.

Maka, jika anak mulai menunjukkan hal-hal seperti di atas, cobalah untuk mengajaknya berbicara secara perlahan dan lembut, tunjukkan kasih sayang kepadanya, dan jangan memaksa dia untuk mulai bercerita, tunggu hingga dia siap untuk menceritakannya kepada anda dengan sendirinya.

Jelaskan juga bahwa mereka/pelaku tidak pantas untuk memperlakukan dia seperti itu, dan ajarkan untuk langsung memberitahukan kepada anda juga ke guru di sekolah. Selalu katakan pada korban bahwa mereka tidak sendiri, tekankan bahwa anda selalu ada untuknya.

Sebagai orang tua, anda harus terus menyemangati anak anda agar terus teguh, percaya diri, dan tetap bergaul dengan teman-temannya. Sehingga, ia akan merasa bahwa keluarga dan teman-temannya berada di pihaknya dan merasa bahwa ia dapat melewati semua ini.

Dampak Bullying pada Pelaku

Setelah membicarakan dampak bullying terhadap korban, anda juga perlu tahu dampaknya di sisi pelaku. Pelaku bullying sendiri juga akan terkena dampak psikologisnya hingga dewasa. Pelaku bully pun banyak yang merupakan orang yang dulunya pernah di-bully (bully-victim), sehingga mereka merasa harus balas dendam dengan cara merundung orang yang lebih lemah darinya. Pelaku bully-victim juga dapat merasakan untuk menyakiti diri sendiri, merasa stres, depresi, cemas, dan gangguan kepribadian antisosial saat mereka beranjak dewasa.

Solusi yang paling efektif atas permasalahan bullying ini adalah menjadikan sistem sosial sebagai sasaran perubahan, jadi bukan hanya dari sisi individu korban dan pelaku bullying saja. Misal dalam lingkungan sekolah, semua elemen sekolah dapat mengajak dan mengajarkan para guru juga siswa untuk mengembangkan skill personal dan interpersonal (kompetensi sosial) mereka. Hal ini lebih efektif untuk mencegah kasus bullying daripada melakukan penanggulangan setelah terjadi kasus bullying (Hidayati, 2012).

Maka, dalam kasus bullying ini perlu adanya peran semua pihak dalam menangani dan mencegah terulang kembalinya kasus. Pemerintah dan pihak sekolah juga harus segera untuk menangani kasus ini. Bisa dengan memberikan ilmu dan info sebab-akibat dari bullying kepada seluruh siswa, mengawasi ketat siswa di sekolah, dan yang paling penting adalah tidak menganggap bullying adalah hal “bercandaan” anak-anak yang dilakukan untuk bersenang-senang. Menganggap serius kasus bullying yang terjadi di antara siswa dan menanganinya dengan tegas akan mengurangi terulangnya kasus ini di kemudian hari.

Tidak hanya pemerintah dan pihak sekolah, tetapi orang tua dan lingkungan juga dapat berpengaruh besar dalam mengurangi kasus bullying. Bisa dengan membatasi tontonan anak di televisi maupun di media sosial, mengawasi pergaulan anak di lingkungan rumah, dan tetap mengedukasi perilaku bullying agar anak terhindar dari hal ini.

Referensi

Gundohutomo, A. (2022). Dampak Psikologis Korban Perundungan. Diakses pada 18 Desember 2022 dari https://rs-amino.jatengprov.go.id/dampak-psikologis-korban-perundungan/

Hidayati, N. (2012). Bullying pada Anak: Analisis dan Alternatif Solusi. INSAN: Journal Unair, 14(1), 41-48.

Muliasari, N. A. (2019). Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kesehatan Mental Anak (Studi Kasus di MI Ma’arif Cekok Babadan Ponorogo). (Tesis dipublikasikan, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo).

Rachmawati. (2022). Kasus "Bullying" yang Tewaskan Siswa SD di Tasikmalaya, KPAI Menduga Pelaku Terpapar Konten Pornografi. Diakses pada 19 Desember 2022 dari https://regional.kompas.com/read/2022/07/24/060600878/kasus-bullying-yang-tewaskan-siswa-sd-di-tasikmalaya-kpai-menduga-pelaku?page=all