"Abadi Nan Jaya” Saat Film Zombie Lokal Menjadi Standar Baru Perfilman Indonesia

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Giovanni Battista Rossi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Film Abadi Nan Jaya karya sutradara Kimo Stamboel sukses mencuri perhatian sejak perilisannya di Netflix pada 23 Oktober 2025. Bukan hanya karena genrenya yang jarang muncul di perfilman Indonesia zombie tetapi juga karena keberhasilannya memadukan cerita lokal, drama keluarga, dan horor modern dalam satu narasi yang kuat. Dengan kualitas produksi setara film internasional dan identitas budaya yang kental, Abadi Nan Jaya kini dianggap sebagai tonggak baru standar film zombie di Indonesia.

Ketika Jamu Jadi Awal Bencana
Alih-alih mengangkat wabah zombie yang muncul karena virus atau eksperimen militer seperti di film Hollywood, Abadi Nan Jaya justru menempatkan akar masalahnya di hal yang sangat “Indonesia” yaitu jamu tradisional. Film ini bercerita tentang Sadimin (diperankan oleh Donny Damara), seorang peracik jamu di desa fiktif Wanirejo, Yogyakarta. Ia terobsesi menciptakan ramuan keabadian agar bisnis dan keluarganya bisa hidup makmur selamanya. Tapi, eksperimen itu malah menimbulkan malapetaka bagi warga desa satu per satu berubah menjadi mayat hidup. Konsep ini terasa segar dan cerdas. Zombie di sini bukan hasil eksperimen sains modern, melainkan buah dari ambisi manusia dan keserakahan, dibungkus dengan nuansa tradisi Jawa. Pendekatan ini menjadikan Abadi Nan Jaya berbeda dari film zombie lain dan memperlihatkan bahwa kisah horor global bisa dikembangkan dengan identitas lokal.
Produksi Berkelas dan Visual yang Kuat
Kualitas produksi Abadi Nan Jaya menunjukkan bahwa film zombie bisa dikerjakan dengan serius di Indonesia. Di bawah arahan Kimo Stamboel, film ini tampil dengan sinematografi yang indah tapi mencekam. Latar pedesaan Yogyakarta dan Magelang ditampilkan dengan pencahayaan alami dan tone warna kusam, menciptakan atmosfer yang dingin dan menegangkan. Bagian yang paling menonjol tentu saja make up prostetik para zombie. Tim artistik menggunakan bahan-bahan alami seperti tanah, dedaunan kering, dan getah untuk menciptakan tampilan “zombie organik” bukan sekadar tiruan dari film luar. Hasilnya, penonton bisa merasakan sensasi ngeri yang tetap terasa “Indonesia”. Adegan aksinya pun tak main-main. Beberapa sekuens melibatkan tabrakan mobil, kejar-kejaran di jalan desa, dan adegan bertarung yang dikoreografikan dengan detail. Semua itu memperlihatkan komitmen Kimo dan timnya untuk menciptakan film horor dengan standar teknis yang tinggi, bukan sekadar horor berbiaya rendah yang mengandalkan efek kejut.
Lebih dari Sekadar Horor
Di balik kisah zombie dan darah, Abadi Nan Jaya sebenarnya berbicara tentang penyesalan dan kerakusan manusia. Sadimin bukan sekadar ilmuwan gila, ia adalah simbol dari manusia yang tak pernah puas dengan hidupnya sendiri. Ia ingin melawan alam, tapi justru menciptakan kehancuran. Konflik ini membuat film terasa lebih “berisi”. Penonton tidak hanya diajak takut, tapi juga merenungkan seberapa jauh manusia rela melanggar batas demi ambisi? Di sinilah Abadi Nan Jaya berhasil naik kelas dari sekadar hiburan menjadi film horor dengan pesan moral yang kuat. Film ini juga menunjukkan dinamika keluarga dan budaya lokal. Relasi ayah dengan anak, tekanan ekonomi, hingga nilai-nilai spiritual masyarakat Jawa turut memperkaya narasi. Semua itu membuat film ini terasa lebih manusiawi meskipun dikelilingi oleh mayat hidup.
Langkah Besar untuk Perfilman Zombie Indonesia
Keberhasilan Abadi Nan Jaya juga menandai langkah penting bagi perfilman Indonesia di kancah internasional. Dengan dukungan Netflix, film ini tak hanya ditonton oleh publik dalam negeri, tapi juga menjangkau penonton global. Ini membuka peluang besar bagi sineas lokal untuk membuktikan bahwa film Indonesia bisa bersaing di level dunia tanpa kehilangan identitasnya. Sebelum film ini, genre zombie di Indonesia hampir tak terdengar. Horor Indonesia selama ini masih didominasi kisah mistik dan makhluk gaib seperti pocong, kuntilanak, dan santet. Abadi Nan Jaya mematahkan anggapan bahwa zombie adalah tema yang “tidak cocok” untuk pasar lokal. Justru, dengan sentuhan budaya dan cerita yang relevan, film ini menunjukkan bahwa genre zombie bisa diterjemahkan secara Indonesia banget. Lebih jauh lagi, film ini mempengaruhi cara pandang penonton dan pembuat film terhadap genre horor. Bahwa horor tidak melulu tentang ketakutan irasional, tapi juga bisa membahas isu sosial, moral, dan eksistensial sebagaimana Abadi Nan Jaya menggambarkan ketamakan manusia dan akibatnya terhadap alam serta masyarakat.
Abadi Nan Jaya bukan hanya film horor biasa. Ia adalah karya yang memadukan teknik sinematik modern, cerita lokal yang kuat, dan pesan filosofis yang mendalam. Dalam satu paket, Kimo Stamboel berhasil menyatukan rasa takut, keindahan, dan kritik sosial sesuatu yang jarang ditemui di perfilman zombie Indonesia. Film ini membuktikan bahwa zombie bisa hidup di tanah Nusantara bukan karena virus, tetapi karena dosa manusia sendiri. Dan dari situ, lahirlah tonggak baru film zombie lokal dengan kualitas internasional. Jika dulu standar film zombie di Indonesia hampir tak ada, kini kita punya satu nama untuk dijadikan acuan “Abadi Nan Jaya” karya yang membuat zombie terasa hidup, dan perfilman Indonesia semakin bernyawa.
