Konten dari Pengguna

Dari Siswa Menjadi Siap Kerja: Pengalaman Saya di Dunia Perhotelan

Girly Wahani

Girly Wahani

Siswa SMK Katolik St. Familia Tomohon

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Girly Wahani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Display glassware. Dokumen Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Display glassware. Dokumen Pribadi.

Awalnya, saya tidak pernah benar-benar tahu seperti apa rasanya bekerja di dunia perhotelan. Selama di sekolah, semuanya terasa seperti latihan. Saya belajar cara menyusun meja, cara menyapa tamu, bahkan cara berdiri yang benar. Tapi jujur saja, saat itu saya hanya menjalankan apa yang diajarkan, tanpa benar-benar memahami maknanya. Semuanya terasa biasa saja, sampai akhirnya saya masuk ke dunia kerja melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Hari pertama PKL adalah salah satu hari yang paling saya ingat. Saya datang dengan seragam rapi, tapi hati saya tidak setenang penampilan saya. Ada rasa takut, takut salah, takut dimarahi, bahkan takut tidak bisa mengikuti ritme kerja. Saat melihat orang-orang di sana bekerja dengan cepat dan penuh fokus, saya sempat bertanya dalam hati, “Apa saya bisa seperti mereka?”

Sebagai siswa dengan dasar Food and Beverage Service, saya ditempatkan di bagian pelayanan. Awalnya, saya hanya mengamati bagaimana senior menyapa tamu dengan percaya diri, bergerak cepat tanpa terlihat panik, dan tetap tersenyum walaupun situasi sedang ramai. Dari situ saya mulai sadar bahwa dunia kerja tidak hanya soal bisa atau tidak, tetapi juga soal kesiapan mental.

Courtesy call. Dokumen Pribadi

Hari-hari berikutnya, saya mulai diberi kesempatan untuk ikut terlibat. Tugas pertama saya terlihat sederhana, yaitu menyiapkan meja. Namun di situlah saya pertama kali melakukan kesalahan. Saya salah menempatkan peralatan hingga membuat tampilan meja terlihat kurang rapi. Saya ditegur, tidak dengan marah, tetapi cukup membuat saya merasa sangat malu dan kecewa pada diri sendiri.

Sejak saat itu, saya mulai lebih memperhatikan setiap detail. Saya belajar dari kesalahan, walaupun kadang rasanya tidak nyaman. Saya mulai mengerti bahwa di dunia kerja, kesalahan adalah hal yang wajar, asalkan kita mau memperbaikinya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat restoran sedang sangat ramai. Suasana menjadi sibuk, tamu datang silih berganti, dan semua orang bergerak cepat. Saya sempat merasa panik dan takut melakukan kesalahan lagi. Di tengah situasi itu, saya diminta membantu melayani tamu secara langsung. Tangan saya sempat gemetar, namun saya berusaha tetap tenang, menyapa dengan sopan, berbicara dengan jelas, dan menjaga senyuman.

Setelah selesai, tamu tersebut hanya berkata, “Terima kasih ya.” Kalimat sederhana itu terasa sangat berarti bagi saya. Dari situ saya mulai memahami bahwa pelayanan bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang sikap. Walaupun begitu, tidak semua hari berjalan lancar. Ada saat di mana saya merasa lelah, baik secara fisik maupun mental, bahkan sempat ingin menyerah. Namun saya mencoba mengingat alasan saya memulai dan bertahan melewati proses tersebut.

Seiring waktu, saya mulai merasakan perubahan dalam diri saya. Saya menjadi lebih tenang, lebih berani, dan lebih percaya diri. Saya juga belajar arti kerja sama, di mana rekan kerja saling membantu tanpa diminta. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa saya memang belum sempurna, tetapi saya sudah berkembang. Saya lebih siap menghadapi dunia kerja, bukan karena saya sudah hebat, tetapi karena saya sudah pernah belajar dari kesalahan dan berusaha untuk menjadi lebih baik.