Mengapa Perempuan Suka Memberi Kode?

Mahasiswi Ilmu Komunikasi S1 - Universitas Pembangunan Jaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gisela Anindita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Anda pernah mendengar stereotip bahwa perempuan sering berkomunikasi melalui kode dan berharap pasangannya bisa memahami maksud mereka tanpa perlu menjelaskannya secara langsung? Fenomena ini sering terjadi, khususnya saat perempuan menyampaikan emosi atau perasaannya. Sementara itu, laki-laki kerap dianggap lebih langsung atau to the point dalam berkomunikasi.
Misalnya, ketika seorang perempuan merasa lapar, ia mungkin tidak mengatakan “aku lapar,” melainkan menggunakan frasa seperti “udah siang nih,” “kayaknya burger enak,” atau bahkan bertanya, “kamu sudah lapar belum?” Pernyataan-pernyataan ini sering kali menimbulkan kebingungan bagi laki-laki, karena pesan tersebut bisa diartikan secara berbeda. Akibatnya, hal ini sering berujung pada perdebatan karena perempuan merasa tidak dipahami oleh pasangannya.
Dalam budaya patriarki, terutama di Indonesia, laki-laki sering dianggap lebih rasional karena diyakini lebih mengandalkan logika daripada emosi. Di sisi lain, perempuan dianggap lebih emosional karena diduga lebih banyak dipengaruhi oleh perasaannya. Namun, stereotip ini terbantahkan oleh penelitian. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports menunjukkan bahwa setiap manusia, terlepas dari gendernya, memiliki emosi yang kompleks. Studi tersebut juga menyoroti bahwa perbedaan emosi antar-gender tidak sejelas yang digambarkan oleh stereotip. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan untuk merasakan dan mengekspresikan emosi.
Lalu, mengapa perempuan sering menggunakan kode dalam berkomunikasi?
Menurut teori Nonviolent Communication (NVC) yang dikembangkan oleh Rosenberg (2003), komunikasi yang utuh terdiri dari empat elemen: observasi, perasaan, kebutuhan, dan permintaan. Banyak perempuan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan permintaannya secara langsung karena budaya patriarki yang mereka jalani. Dalam banyak kasus, budaya patriarki mengajarkan bahwa perempuan harus bersikap tunduk atau submissive yaitu patuh dan tidak menonjolkan diri. Jika seorang perempuan berani mengungkapkan perasaannya atau kebutuhannya secara tegas, ia sering kali dicap sebagai "agresif" atau "tidak semestinya."
Akibatnya, banyak perempuan tumbuh dalam lingkungan yang tidak membiasakan mereka untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara asertif. Sebaliknya, mereka mungkin merasa bahwa pasangannya, sebagai orang terdekat yang diharapkan bisa memberikan rasa aman, seharusnya bisa memahami kebutuhan mereka tanpa mereka harus menyampaikannya secara jelas. Pola pikir inilah yang sering kali mendorong perempuan untuk menggunakan kode-kode dalam komunikasi.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh konten di media sosial, di mana perempuan sering kali menyuarakan frustrasinya terhadap pasangan yang tidak memahami kode-kode mereka. Konten seperti ini sangat relatable bagi banyak orang, sehingga stereotip bahwa perempuan "boleh" berkomunikasi melalui kode-kode menjadi semakin dinormalisasi dalam masyarakat.
Namun, setelah memahami akar dari pola komunikasi ini, masyarakat seharusnya mulai menyadari pentingnya perubahan budaya. Stereotip dan pembiaran terhadap ketidakmampuan perempuan untuk berkomunikasi secara asertif seharusnya dihentikan. Budaya yang mendukung perempuan untuk bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya secara jelas dan langsung sangat penting untuk diwujudkan.
Perubahan ini tidak hanya akan mempermudah perempuan dalam hubungan romantis, tetapi juga memberi mereka kepercayaan diri untuk maju dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk karier. Dengan komunikasi yang lebih asertif, perempuan bisa merasa lebih bebas untuk mengungkapkan pendapat tanpa takut dilabeli sebagai agresif atau tidak pantas.
Untuk menciptakan perubahan positif dalam komunikasi antara perempuan dan laki-laki, penting bagi masyarakat untuk mendukung perempuan dalam mengekspresikan perasaan dan kebutuhan mereka secara langsung. Dengan menghapus stereotip negatif dan budaya patriarki, perempuan akan merasa lebih percaya diri, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Upaya ini akan mendorong terciptanya komunikasi yang lebih terbuka dan saling memahami, yang pada gilirannya dapat memperkuat hubungan antar gender dan meningkatkan kualitas interaksi sosial.
