Jangan hanya Tanya Berapa Anggarannya, Tanya Apa yang Dicapainya?

ASN Pemda Badung
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ni Luh Gita Mariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Berapa pagunya?”
Saya kira hampir semua orang yang pernah terlibat dalam proses perencanaan dan penganggaran cukup akrab dengan pertanyaan itu. Dalam sebuah pembahasan program, besaran anggaran sering menjadi hal yang cepat menarik perhatian. Apakah pagunya cukup? Apakah naik dari tahun sebelumnya? Kalau berkurang, kegiatan mana yang harus disesuaikan?
Semua pertanyaan itu wajar, anggaran memang penting. Tanpa dukungan anggaran banyak rencana pembangunan hanya akan berhenti sebagai gagasan.
Tetapi semakin sering mengikuti proses perencanaan, saya justru merasa ada satu pertanyaan yang kadang kalah penting dibandingkan angka pagu, dengan anggaran tersebut sebenarnya apa yang ingin kita capai?
Pertanyaan itu mungkin sederhana. Namun dari sana saya melihat kembali fungsi sebuah dokumen yang selama ini kita kenal sebagai Renstra Perangkat Daerah.
Renstra bukan sekadar dokumen lima tahunan di dalamnya sudah ditentukan tujuan, sasaran, indikator, target kinerja, program, dan arah kebijakan perangkat daerah. Secara sederhana Renstra seharusnya memberi tahu kita ke mana perangkat daerah akan bergerak dan perubahan apa yang ingin dicapai dalam satu periode pembangunan.
Masalahnya dalam keseharian Renstra bisa saja hanya terasa penting pada saat penyusunan dan penetapan, Setelah itu perhatian kita perlahan bergeser kita sibuk menyusun rencana kerja tahunan, membahas kegiatan, menyesuaikan pagu, memastikan nomenklatur, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi.
Di tengah kesibukan tersebut target Renstra yang sebenarnya menjadi arah lima tahunan bisa saja tidak lagi banyak dibicarakan.
Kita akhirnya sangat tahu berapa anggaran yang tersedia, tetapi belum tentu selalu ingat target apa yang harus dicapai pada tahun berjalan.
Di situlah menurut saya persoalannya mulai terlihat.
Ketika Pagu Lebih Mudah Dibicarakan daripada Target
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa anggaran tidak penting. Justru sebaliknya, anggaran merupakan bagian yang sangat menentukan dalam pelaksanaan pembangunan.
Yang perlu kita pertanyakan adalah ketika angka anggaran menjadi titik awal sekaligus seolah-olah menjadi ukuran keberhasilan.
Padahal anggaran hanyalah sumber daya.
Perangkat daerah dengan anggaran besar belum tentu menghasilkan kinerja yang lebih baik, begitu juga perangkat daerah dengan anggaran terbatas belum tentu gagal mencapai target. Banyak hal yang memengaruhi hasil diantaranya ketepatan program, kualitas pelaksanaan, koordinasi, kondisi di lapangan, dan tentu saja kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Bayangkan sebuah perangkat daerah memiliki target meningkatkan kualitas pelayanan publik, kita bisa melihat berapa anggaran yang dialokasikan untuk mendukung pelayanan tersebut. Namun angka itu belum menjawab pertanyaan yang lebih penting apakah pelayanan memang menjadi lebih baik?
Apakah masyarakat lebih mudah mendapatkan layanan? Apakah prosesnya lebih cepat? Apakah keluhan berkurang?
Begitu juga dengan pembangunan infrastruktur, kita dapat menyebutkan berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa besar anggarannya, tetapi masyarakat pada akhirnya akan merasakan apakah jalan tersebut benar-benar memberikan manfaat, apakah akses menjadi lebih mudah, atau apakah persoalan yang selama ini mereka hadapi benar-benar teratasi.
Di sinilah target dalam Renstra seharusnya kembali kita lihat.
Target bukan sekadar angka yang harus diisi dalam tabel ia merupakan gambaran mengenai kondisi yang ingin kita capai.
Renstra Jangan Sampai Hanya Menjadi Dokumen.
Saya sering membayangkan Renstra seperti peta perjalanan.
Ketika seseorang memiliki tujuan perjalanan, peta diperlukan untuk mengetahui posisi dan arah. Peta tidak dibuat untuk disimpan, ia digunakan ketika kita perlu memastikan bahwa perjalanan masih berada di jalur yang benar.
Renstra seharusnya bekerja seperti itu.
Target lima tahunan perlu diterjemahkan ke dalam target tahunan, kemudian kita melihat perkembangannya jika belum tercapai kita mencari tahu penyebabnya.
Tidak selalu karena anggaran kurang, bisa saja programnya kurang tepat, pelaksanaannya belum optimal, kondisi di lapangan berubah, kebijakan berubah, atau mungkin target yang ditetapkan sejak awal memang perlu ditinjau kembali.
Menurut saya pembahasan seperti inilah yang seharusnya lebih sering muncul dalam proses evaluasi perencanaan.
Namun yang sering terjadi justru kita lebih cepat masuk ke pembicaraan mengenai pagu, berapa anggaran yang tersedia? kegiatan apa yang dapat dibiayai? mana yang harus dikurangi?
Pembahasan tersebut memang diperlukan, tetapi akan lebih bermakna jika sebelumnya kita sudah jelas mengenai target yang ingin dicapai.
Urutannya sederhana tentukan hasil yang ingin dicapai, tentukan intervensinya, kemudian lihat sumber daya yang diperlukan.
Dengan cara berpikir seperti itu, hubungan antara Renstra, Renja, program, kegiatan, dan anggaran menjadi lebih masuk akal, anggaran tidak muncul begitu saja ada target yang ingin dicapai di belakangnya.
Anggaran bertambah apa yang berubah?
Saya kira pertanyaan ini juga perlu kita biasakan.
Ketika suatu program memperoleh tambahan anggaran apa yang sebenarnya berubah? apakah targetnya ikut meningkat? apakah kualitas hasil yang diharapkan menjadi lebih baik? atau hanya jumlah kegiatan yang bertambah?
Sebaliknya ketika anggaran berkurang apakah otomatis target harus diturunkan?
Belum tentu.
Bisa jadi ada cara kerja yang lebih efisien, bisa jadi kegiatan tertentu dapat dilakukan dengan pendekatan yang berbeda, bisa juga memang target perlu disesuaikan karena kemampuan fiskal yang tidak memungkinkan.
Yang terpenting keputusan tersebut seharusnya memiliki alasan yang jelas dan dapat dijelaskan.
Hal yang sama berlaku ketika kita melihat realisasi anggaran, serapan anggaran tetap penting untuk dilihat. Namun serapan 100 persen tidak otomatis berarti kinerja berhasil, begitu juga serapan yang rendah tidak selalu berarti program gagal.
Kita perlu melihat ceritanya, apa yang dilakukan dengan anggaran tersebut? apa hasilnya? apakah target tercapai? kalau tidak tercapai, mengapa?
Menurut saya di sinilah perencanaan mulai menjadi lebih dari sekadar urusan administrasi.
Di Mana Posisi ASN Perencana?
Sebagai ASN yang bekerja dalam lingkungan perencanaan pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab yang tidak bisa dihindari.
Perencana memang harus memastikan dokumen sesuai ketentuan, tetapi pekerjaan tidak berhenti di sana ada tanggung jawab untuk melihat apakah rencana yang disusun mempunyai hubungan yang jelas dengan target dan anggaran yang kemudian dialokasikan.
Setiap kali melihat sebuah target kita perlu memahami apa dasar penetapannya, ketika melihat indikator kita perlu tahu bagaimana cara mengukurnya, ketika melihat program dan kegiatan kita perlu memahami kontribusinya terhadap sasaran Dan ketika melihat anggaran kita perlu bisa menjelaskan mengapa anggaran tersebut dibutuhkan.
Tentu saja praktiknya tidak sesederhana itu, perencanaan daerah berhadapan dengan keterbatasan fiskal, perubahan kebijakan, kebutuhan masyarakat yang dinamis, serta berbagai kepentingan yang harus dipertemukan. Karena itu, tidak semua target akan berjalan mulus sesuai rencana.
Justru karena itulah Renstra diperlukan, ketika keadaan berubah kita membutuhkan sesuatu yang bisa menjadi titik pembanding. Kita dapat melihat kembali apa yang telah direncanakan, apa yang sudah dicapai, dan bagian mana yang perlu diperbaiki.
Renstra seharusnya tidak hanya dibuka ketika ada kebutuhan administrasi, ia perlu digunakan ketika kita sedang mengambil keputusan.
Mungkin Kita Perlu Mengubah Pertanyaan
Saya tidak berharap perubahan dalam perencanaan selalu dimulai dengan sesuatu yang besar, bisa jadi perubahan justru dimulai dari kebiasaan kecil dalam sebuah rapat.
Ketika ada usulan program kita bertanya apa target yang ingin dicapai.
Ketika ada perubahan pagu kita melihat apa konsekuensinya terhadap target.
Ketika kinerja belum tercapai kita mencari penyebabnya sebelum sekadar menyimpulkan bahwa anggarannya kurang.
Dan ketika satu periode pembangunan berakhir kita tidak berhenti pada berapa besar anggaran yang telah direalisasikan, kita melihat kembali target yang pernah kita tetapkan mana yang berhasil, mana yang belum, dan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Bagi saya inilah cara sederhana untuk mengembalikan Renstra pada fungsi sebenarnya.
Sebab masyarakat tidak akan melihat Renstra sebagai sebuah dokumen, mereka tidak akan membaca tabel indikator dan target yang kita susun.
Mereka akan melihat hasilnya.
Mereka akan merasakan apakah pelayanan menjadi lebih mudah, apakah infrastruktur menjadi lebih baik, apakah lingkungan menjadi lebih nyaman, dan apakah berbagai program pemerintah benar-benar menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Karena itu mungkin sudah saatnya kita melihat kembali cara kita memaknai anggaran.
Bukan berarti kita berhenti bertanya “berapa pagunya?”
Pertanyaan itu tetap penting.
Tetapi setelahnya, kita perlu bertanya “Apa yang akan dicapai?”
Dan beberapa tahun kemudian, pertanyaannya berubah lagi “Apakah benar sudah tercapai?”
Bagi saya tiga pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat bahwa perencanaan pembangunan pada akhirnya bukan tentang seberapa besar anggaran yang kita kelola, melainkan tentang seberapa baik anggaran tersebut digunakan untuk menghasilkan perubahan.
Renstra bukan sekadar dokumen lima tahunan, ia adalah arah yang telah kita tetapkan bersama, tugas kita adalah memastikan arah itu tidak berhenti di atas kertas.
