Menahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian: Efektifkah Strategi BI saat Ini?

Saya Adalah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Dari Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Gita alfitrie agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ekonomi Moneter
Bank Indonesia kembali memilih jalan aman. Dalam beberapa Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir, otoritas moneter konsisten menahan BI Rate pada level 5,75 persen, level yang bertahan sejak keputusan RDG 18–19 Agustus 2026, dan hingga awal September belum ada perubahan. Deposit Facility dipatok 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen. Pertanyaannya: apakah strategi "wait and see" ini masih efektif ketika tekanan global justru semakin kompleks?
Rupiah Jadi Prioritas Utama
Keputusan menahan suku bunga bukan tanpa alasan. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak pasar global, seiring berjalannya sejumlah kebijakan insentif likuiditas makroprudensial yang mulai berlaku pada September dan Oktober 2026. Langkah ini ditopang oleh sejumlah indikator eksternal yang relatif solid: cadangan devisa tercatat US$145,3 miliar per akhir Juli 2026, surplus neraca perdagangan kumulatif Januari–Juli mencapai US$3,58 miliar, dan inflasi tahunan melandai ke 2,88 persen masih nyaman di dalam rentang sasaran BI. Namun, kondisi eksternal jauh dari tenang. Rupiah bergerak di tengah tingginya gejolak pasar keuangan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, ditambah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kombinasi dua faktor ini membuat keputusan BI menahan suku bunga pada RDG 19 Agustus lalu selaras dengan perkiraan pasar, meski situasi global tetap rentan berubah cepat.
Tekanan Baru dari The Fed
Yang membuat situasi kian pelik, tekanan justru datang lagi menjelang RDG September 2026. Bank Indonesia diproyeksikan justru menaikkan suku bunga acuan pada September 2026, seiring proyeksi The Fed yang diyakini akan mengerek suku bunganya hingga 25 basis poin, dengan konsensus pasar terbaru mencapai probabilitas 94 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed. Ekonom Kisi Asset Management, Arfian Prasetya Aji, menilai sikap BI cenderung bernada hawkish dalam mengendalikan inflasi, dan opsi menaikkan suku bunga berpotensi menjaga interest rate differential agar arus modal asing tidak deras keluar dari pasar domestik. Namun, tidak semua ekonom sepakat bahwa kenaikan The Fed otomatis diikuti oleh BI. Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengingatkan bahwa transmisi kebijakan The Fed ke BI Rate tidak selalu bersifat instan atau otomatis mengikuti pola pass-through langsung.
Situasi ini jadi ironis: BI yang sejak akhir 2025 sempat memberi sinyal masih ada ruang pemangkasan suku bunga lebih lanjut setelah memangkas 100 basis poin sejak awal 2025, kini justru dihadapkan pada opsi sebaliknya menahan atau bahkan menaikkan akibat tekanan geopolitik dan arah kebijakan Fed yang berubah cepat.
Efektif atau Sekadar Menunda Masalah?
Di atas kertas, strategi menahan suku bunga cukup masuk akal untuk jangka pendek. Inflasi terkendali, cadangan devisa memadai, dan neraca dagang surplus memberi BI ruang gerak tanpa harus terburu-buru menaikkan atau memangkas suku bunga. Stabilitas rupiah , variabel yang paling sensitif terhadap sentimen global , juga relatif terjaga dibanding negara berkembang lain yang sama-sama menghadapi gejolak. Tapi efektivitas kebijakan ini punya batas waktu. Menahan suku bunga terlalu lama di tengah ancaman kenaikan Fed berisiko mempersempit interest rate differential, membuat aset rupiah kurang menarik dibanding instrumen dolar AS, dan pada akhirnya justru memicu tekanan pada rupiah yang selama ini coba dijaga. Di sisi lain, kredit perbankan mulai dari KPR hingga kredit usaha juga menunggu arah yang lebih jelas karena bank menentukan bunga kreditnya berdasarkan biaya dana, likuiditas, risiko debitur, dan strategi masing-masing, bukan semata-mata mengikuti BI Rate.
Dengan kata lain, "menahan" bukan berarti pasif. Ini adalah taruhan bahwa fundamental domestik inflasi rendah, devisa cukup, neraca dagang surplus , cukup kuat untuk meredam gejolak eksternal tanpa harus mengorbankan pertumbuhan kredit dan investasi. Persoalannya, taruhan ini baru akan teruji betul ketika hasil RDG September 2026 diumumkan dan publik bisa melihat apakah BI tetap konsisten menahan, atau akhirnya ikut bergerak mengikuti langkah The Fed. Yang jelas, di tengah ketidakpastian sebesar ini, kebijakan moneter Indonesia sedang berjalan di atas tali yang tipis antara menjaga stabilitas jangka pendek dan menghindari biaya jangka panjang dari suku bunga yang tertahan terlalu lama.
