Konten dari Pengguna

Rupiah Bertahan di Tengah Gejolak Global, Tapi Sampai Kapan Bank Indonesia Bisa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gita alfitrie agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI Generated(Rupiah Bertahan di Tengah Gejolak Global, Tapi Sampai Kapan Bank Indonesia Bisa?)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI Generated(Rupiah Bertahan di Tengah Gejolak Global, Tapi Sampai Kapan Bank Indonesia Bisa?)

Ekonomi Moneter. Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan ancaman kenaikan suku bunga The Fed, rupiah justru menunjukkan ketahanan yang cukup mengejutkan. Bukan kebetulan di balik stabilitas itu ada Bank Indonesia yang bekerja keras menjaga garis pertahanan lewat kombinasi kebijakan suku bunga, intervensi pasar, dan cadangan devisa yang masih tebal. Tapi pertanyaannya, seberapa lama fondasi ini bisa bertahan kalau tekanan dari luar terus datang bertubi-tubi?

Modal Pertahanan yang Cukup Tebal

BI tidak asal bertahan. Ada sejumlah bantalan yang membuat rupiah relatif tangguh dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lain. Cadangan devisa tercatat US$145,3 miliar per akhir Juli 2026, neraca perdagangan mencetak surplus kumulatif US$3,58 miliar sepanjang Januari–Juli, dan inflasi tahunan justru melandai ke 2,88 persen jauh dari kata mengkhawatirkan. Kombinasi ini yang membuat BI punya ruang gerak untuk menahan suku bunga acuan di 5,75 persen sejak RDG Agustus 2026, tanpa harus terburu-buru menaikkan bunga demi menahan modal asing agar tidak kabur.

Selain suku bunga, BI juga bermain di banyak lini sekaligus. Intervensi dilakukan baik di pasar off-shore lewat instrumen NDF, maupun di pasar domestik lewat pasar spot, DNDF, hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder. Sejumlah insentif likuiditas makroprudensial juga mulai berjalan pada September dan Oktober 2026, sinyal bahwa BI ingin tetap mendorong kredit tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar.

Ujian dari Dua Front Sekaligus

Masalahnya, rupiah sedang dikepung tekanan dari dua arah yang datang hampir bersamaan. Di satu sisi, eskalasi konflik di Timur Tengah membuat pasar keuangan global bergejolak dan investor cenderung mencari aset aman. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed makin menguat konsensus pasar terbaru bahkan menyebut probabilitasnya sudah mencapai 94 persen untuk RDG September 2026 The Fed. Dua faktor ini datang bersamaan, dan keduanya sama-sama berpotensi menekan rupiah lewat jalur berbeda: yang pertama lewat sentimen risk-off global, yang kedua lewat pelebaran selisih suku bunga.

Ekonom Kisi Asset Management, Arfian Prasetya Aji, menilai situasi ini membuat BI berada dalam posisi hawkish, dengan opsi menaikkan suku bunga dianggap perlu untuk menjaga interest rate differential agar arus modal asing tidak deras keluar dari pasar domestik. Kalau opsi ini benar-benar diambil, artinya arah kebijakan BI berbalik dari tren setahun terakhir, di mana bank sentral sempat memangkas suku bunga total 100 basis poin sejak awal 2025 dan sempat membuka sinyal ruang pemangkasan lebih lanjut. Namun, tidak semua ekonom yakin BI akan otomatis mengikuti The Fed. Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengingatkan bahwa transmisi kebijakan The Fed ke suku bunga BI tidak selalu berjalan instan dan otomatis banyak faktor domestik yang ikut menentukan, bukan semata mengekor kebijakan luar negeri.

Stabilitas yang Rapuh Kalau Terlalu Lama Ditahan

Ketahanan rupiah saat ini memang patut diapresiasi, tapi bukan berarti tanpa risiko jangka panjang. Kalau BI terus menahan suku bunga sementara The Fed benar-benar menaikkan bunganya, selisih suku bunga antara kedua negara akan makin menyempit. Dalam jangka menengah, ini bisa membuat instrumen berbasis rupiah kalah menarik dibanding aset dolar, dan pada akhirnya memicu arus keluar modal asing yang selama ini coba dicegah lewat kebijakan suku bunga tinggi. Di sisi domestik, ketidakpastian arah kebijakan ini juga berimbas ke masyarakat. Bank-bank memang menentukan bunga kredit mereka sendiri berdasarkan biaya dana dan profil risiko, bukan semata mengikuti BI Rate. Tapi situasi yang serba menunggu seperti sekarang membuat baik bank maupun nasabah, mulai dari calon pembeli rumah sampai pelaku usaha kecil sama-sama menahan diri untuk mengambil keputusan finansial besar.

Pada akhirnya, kekuatan rupiah hari ini adalah hasil kerja keras BI menjaga banyak variabel sekaligus: cadangan devisa, neraca dagang, inflasi, dan intervensi pasar yang konsisten. Tapi ketahanan itu akan benar-benar diuji begitu hasil RDG September 2026 diumumkan. Jika BI memilih menaikkan suku bunga untuk mengimbangi The Fed, itu tandanya prioritas menjaga rupiah masih di atas segalanya. Tetapi jika BI tetap bertahan di 5,75 persen, publik perlu menunggu apakah fondasi ekonomi domestik cukup kuat untuk menahan gempuran dari luar tanpa bantuan tambahan dari sisi suku bunga.