Ketika Warna Kayu Becak mulai Memudar

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Gladys Chelsea Laureta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siang itu, nampak deretan becak yang terparkir rapi di pinggir jalan dengan warnanya yang mulai memudar. Didekat deretan becak tersebut, para pengayuhnya yang sedang tidak mengayuh duduk menyender sambil meminum segelas kopi ataupun menghisap sebatang rokok. Kepulan asap dari rokok ataupun kopi yang mereka minum seolah olah membawa harapan kepada Tuhan akan datangnya orang yang meminta diantarkan ke suatu tempat. Ditengah teriknya sinar mentari di siang hari, pengayuh itu tak pernah lelah menawarkan transportasinya itu kepada banyaknya orang lewat.
Dibalik kenyataan hari ini, puluhan tahun yang lalu, becak menjadi alat transportasi kebanggaan bangsa kita. Walaupun sekarang becak lebih sering dijadikan objek foto dibandingkan alat transportasi dalam kehidupan sehari-hari. 2015 silam menjadi titik balik perubahan ini, pada tahun itu, aplikasi transportasi daring mulai memunculkan eksistensinya di masyarakat. Hanya dengan satu aplikasi, orang bisa memesan transportasi dengan harga yang sudah pasti dan dijemput sampai ke titik penjemputan. Sistem baru ini menjadikan proses penggunaan becak yang sebelumnya terasa biasa saja menjadi terasa sedikit lebih panjang. Perbedaan kedua transportasi tersebut juga menjadi salah satu pembeda utama. Dalam waktu yang sama, motor yang dikendalikan oleh mesin dapat menjangkau jarak yang lebih jauh dibandingkan becak yang dikayuh menggunakan tenaga seorang manusia.
Peralihan pilihan transportasi yang dilakukan oleh penumpang turut berpengaruh terhadap pendapatan pengayuh yang kian menipis. Roda becak yang dahulu sering berputar untuk mengantarkan penumpang, kini lebih sering terdiam menunggu dikayuh. Becak yang tak lagi menjadi sumber penghasilan kini mulai ditinggal pemiliknya. Jalanan yang kian padat dengan kendaraan-kendaraan besar bermesin juga kian terasa asing bagi becak untuk dapat melintas di jalan yang sama.
Perubahan-perubahan tersebut hanya memberikan dua pilihan kepada pengayuhnya, bertahan atau beralih. Pengayuh yang memilih bertahan mungkin menemukan cara lain untuk mempertahankan becaknya seperti menunggu di kawasan wisata, melapisi kayu yang mulai pudar dengan cat baru, serta menambahkan mesin sebagai penggerak becaknya.
Kini, asap rokok dan kopi dari para pengayuh sudah menghilang seiring memudarnya sinar matahari. Sebagian dari mereka masih ditempat yang sama dengan kopi yang hanya tersisa ampasnya. Para pengayuh kini menaiki becaknya, bukan untuk mengantar penumpang, melainkan untuk pulang kepada keluarganya yang senantiasa menunggu mereka dirumah.
