Konten dari Pengguna

Penari Terpaksa Menjadi "Hijau"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gladys Melisande Renata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Industri fashion saat ini telah bergeser dari sekadar pemenuhan kebutuhan primer menjadi ancaman serius bagi kelestarian alam. Sebagai salah satu sektor yang paling tidak berkelanjutan di dunia, proses produksinya yang masif hingga pola konsumsi masyarakat yang cepat berakibat buruk pada ekosistem global. Permasalahan utamanya terletak pada fenomena fast fashion yang mendorong perubahan persepsi masyarakat, di mana keinginan akan baju baru sering kali disalah artikan sebagai kebutuhan mendesak. Kondisi ini diperparah dengan data dari Dwikesumasari dkk. (2024) yang mengungkapkan fakta pahit: dari seluruh limbah tekstil yang dihasilkan di dunia, baru sekitar 12% yang berhasil diatasi melalui proses daur ulang. Sisanya menumpuk menjadi timbulan sampah abadi yang sulit terurai, terutama material modern seperti poliester yang mengandung unsur plastik. Di tengah krisis lingkungan yang kian mencekik, muncul pertanyaan krusial mengenai bagaimana peran komunitas seni, khususnya para penari, dalam merespons isu ini?

Esensi seorang penari bukan sekedar penghibur di atas panggung, melainkan juga bagian dari Masyarakat yang memegang peran sebagai panutan. Di era digital saat ini, penari memiliki potensi besar untuk influencer atau penggerak, termasuk dalam menyuarakan isu lingkungan. Mengingat kondisi lingkungan saat ini yang semakin memprihatinkan akibat sampah yang bertebaran di mana-mana, penari sebagai warga masyarakat sudah sepatutnya menaruh kepedulian yang tinggi terhadap bumi.

Penari adalah figur model (role model) yang tindakannya kerap diamati dan ditiru. Saat ini, hubungan antara penari dan penonton telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem pendukung yang solid. Berdasarkan riset Ping dkk. (2025), komunitas pendukung kini tidak hanya menjadi penikmat karya pasif, tetapi juga berperan sebagai pembela, pendukung ideologi, bahkan donatur aktif bagi para seniman.

Sikap seorang penari dalam mengelola kostumnya ini dipengaruhi secara mendalam oleh cara pandang mereka terhadap uang, sebuah konsep psikologi keuangan yang dikenal sebagai The Love of Money. Menurut Tang (1992) sebagaimana dikutip dalam Rusmita dkk. (2023), persepsi manusia terhadap uang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu Money Worshippers yang menganggap uang sebagai sumber kekuasaan mutlak, Money-Repellents yang melihat uang secara fungsional semata, dan Careless Money Admirers yang mengaitkan uang dengan citra diri dan kesuksesan. Bagi organisasi yang minim dana dan sponsor, persepsi keuangan ini dipaksa berpadu dengan sikap lingkungan yang kuat demi membentuk perilaku reduce (pengurangan) yang substansial. Sikap lingkungan ini mencakup tiga dimensi utama: kognisi (pengetahuan tentang kerusakan alam), afeksi (perasaan peduli/khawatir), dan konatif (niat nyata untuk bertindak).

Menurut (Arenibafo, 2023) menjelaskan bahwa reduce mencakup dua pilar utama, yaitu pencegahan sampah sejak awal perencanaan desain dengan memilih desain yang hemat kain dan menjahit sendiri kostum mereka menggunakan kain bekas layak pakai serta pengurangan pemborosan melalui perawatan (maintenance) yang teliti dan perbaikan (repair) pada bagian kostum yang rusak agar tetap layak tampil.

Yogyakarta, sebagai kota budaya, memiliki peluang emas untuk menjadi pelopor gerakan "penari terpaksa menjadi hijau" ini. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (2023) oleh Kemenkes & BKPK, Provinsi DIY tercatat memiliki persentase rumah tangga tertinggi di Indonesia, yaitu sebanyak 2,9% atau sekitar 2.209 rumah tangga, yang memiliki kesadaran dan tindakan nyata dalam mengelola sampah secara ramah lingkungan. Angka ini secara signifikan melampaui rata-rata nasional yang hanya berkisar di angka 0,7%. Keunggulan ini didorong oleh dominasi mahasiswa dan kaum berpendidikan tinggi di Yogyakarta yang secara konsisten berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Penari modern di Yogyakarta, yang berada di lingkungan akademis dan kreatif, memiliki modal sosial yang kuat untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam praktik kesenian mereka yang mandiri, termasuk membangun sistem sewa atau pinjam kostum antar-organisasi untuk menekan angka produksi pakaian baru.

Namun, realitas di lapangan tidak seindah gerakan tari. Banyak penari zaman sekarang yang menghadapi kendala finansial, terutama dalam hal pengadaan kostum yang menarik bagi masyarakat. Dimana pun muncul: jika para penari dipaksa mengalokasikan dana mereka yang terbatas untuk aksi kepedulian lingkungan konvensional, kas organisasi mereka akan habis, yang pada akhirnya dapat mematikan organisasi penari itu sendiri. Terlebih lagi, mencari sponsor untuk gerakan “penari peduli lingkungan” agar bisa bertahan hidup di industri ini bukanlah perkara mudah.

Gerakan “terpaksa menjadi hijau” ini melahirkan perilaku pro-lingkungan yang sangat kreatif melalui penerapan prinsip reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali). Alih-alih membeli pakaian baru yang mahal, para penari kini dituntut untuk lebih mandiri dengan menjahit sendiri kostum mereka menggunakan kain bekas layak pakai. Tidak hanya bahan dasar pakaian, aksesoris panggung pun mulai memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti memanfaatkan plastik, kardus, atau kaleng yang didaur ulang menjadi hiasan kepala dan gelang yang estetik di bawah lampu sorot. Dan kemampuan kreatif penari juga meningkat.

Selain diatas panggung, kebiasaan ramah lingkungan ini juga dibawa ke dalam ruang latihan. Setiap kali berlatih fisik, para penari membawa tumbler atau botol minum sendiri demi mengurangi pasokan sampah botol plastik sekali pakai yang biasa menumpuk.

Tantangan Utama: Bagaimana caranya tetap peduli lingkungan tanpa harus membuat organisasi penari gulung tikar?

Jawabannya terletak pada perubahan paradigma mengenai perilaku pro-lingkungan itu sendiri. Sikap peduli lingkungan tidak selalu berarti harus mengeluarkan uang banyak atau melakukan donasi besar. Bagi seorang penari, perilaku pro-lingkungan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: hemat dalam mengadaan kostum menari atau menerapkan prinsip reduce (mengurangi).

Dengan memanfaatkan konsep reduce, penari bisa melakukan beberapa langkah kreatif berikut:

  • Mengubah Kostum Lama: Memodifikasi atau memadupadankan ulang kostum yang sudah ada tanpa harus membeli baru.

  • Memanfaatkan Bahan Daur Ulang: Menggunakan material bekas layak pakai yang disulap menjadi ornamen panggung yang estetik dan unik.

  • Saling Meminjam Antar Komunitas: Mengurangi produksi kostum baru dengan membangun sistem sewa atau pinjam antar organisasi.

Melalui Langkah hemat dan kreatif ini, penari tidak hanya berhasil menekan biaya operasional sehingga organisasi tetap hidup, tetapi juga memberikan contoh nyata kepada masyarakat. Mereka membuktikan bahwa menjadi influencer lingkungan bisa dimulai dari panggung tari sendiri menunjukan bahwa keindahan seni dan kelestarian bumi dapat berjalan seiringan tanpa harus menguras kantong.

Aksi nyata seorang seniman panggung dalam menggerakan masyarakat di luar dunia seni dapat dilihat dari jejak rekam penyanyi Bada. Ia baru-baru ini dinobatkan resmi sebagai “Eco Friends” untuk Seoul International Environmental Film Festival ke-23. Melalui kolaborasi dengan Yayasan Lingkungan Hidup dan komunitas lokal, ia menginisiasi kegiatan kontribusi sosial bertajuk jalan sehat sambil memungut sampah (plogging) di Kawasan Myeongdong, Seoul. Gerakan ini tidak hanya mengikutsertakan elemen masyarakat, tetapi juga berhasil menggerakan “Calliope”, kelompok penggemar setianya, untuk turun langsung ke jalan demi menjaga kebersihan kota.

Bagi Bada, keterlibatan aktif ini memiliki esensi yang mendalam karena mampu mentransformasikan pengaruh musik di atas panggung menjadi sebuah tindakan nyata bagi bumi di kehidupan sehari-hari. Ia percaya bahwa sebuah perubahan besar selalu bermula dari akumulasi langkah-langkah kecil. Sebagaimana sebuah lagu yang mampu menyentuh hati pendengarnya, komitmen konsisten untuk menjaga planet ini diharapkan dapat menularkan resonansi positif yang luas ditengah masyarakat.

Meskipun begitu para dancer ini sebenarnya mempraktikan perilaku ramah lingkungan secara tidak langsung lewat gaya hidup streetwear mereka. Banyak penari dunia sering melakukan thrifting (membeli baju bekas), memakai pakaian oversized lungsuran, atau memodifikasi baju panggung mereka sendiri agar terlihat unik. Sebuah tindakan yang mencerminkan prinsip reduce dan reuse pakaian.

Kekuatan seni pertunjukan dalam mempengaruhi massa juga terbukti secara massif di kancah global melalui gerakan industri K-Pop. Melalui platform advokasi seperti Kpop 4 Planet, jutaan penggemar generasi Z dan milenial di seluruh dunia berhasil disatukan demi misi penyelamatan bumi. Langkah ini terinspirasi langsung oleh aksi para idola mereka; misalnya Blackpink yang dipercaya menjadi duta resmi untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 26), serta grup Red Velvet yang aktif mengkampanyekan pentingnya udara bersih sebagai duta Hari Udara Bersih Internasional PBB.

Besarnya pengaruh para pesohor panggung ini memicu gelombang aksi nyata yang luar biasa dari para penggemar di luar dunia musik. Fandom dari berbagai grup besar seperti BTS, NCT Dream, Seventeen, dan Super Junior secara kolektif menggalang dana kemanusiaan untuk korban bencana alam akibat krisis iklim, mendukung penanaman pohon, hingga menggalang protes digital melawan perusakan hutan. Fenomena ini membuktikan sebuah premis penting: Ketika seorang menggerakan jutaan orang untuk bertindak nyata demi memastikan mereka tetap bisa menikmati karya seni di planet yang layak huni.

Menerapkan strategi "kostum ekologis" melalui tindakan menggunakan kembali (reuse) kostum lama dan mendaur ulang (recycle) sisa-sisa kain perca menjadi aksesori baru, sebagaimana disarankan oleh Bin Hussain (2021), adalah langkah krusial menuju ekonomi rendah karbon. Melalui langkah hemat dan kreatif ini, penari tidak hanya berhasil menekan biaya operasional sehingga organisasi tetap hidup, tetapi juga memberikan contoh nyata kepada masyarakat. Pada akhirnya, transisi dari praktik masa lalu yang boros menuju strategi masa depan untuk praksis kostum ekologis bukan lagi sekadar pilihan sekunder. Sebagaimana ditegaskan oleh Pantouvaki dkk. (2022), hal ini telah menjadi sebuah keharusan (imperatif) bagi dunia seni pertunjukan global jika ingin tetap relevan di masa depan yang berkelanjutan. Keindahan seni dan kelestarian bumi harus berjalan seiringan tanpa harus menguras kantong, namun mampu menguras kepedulian dunia.

Lampiran

Contoh kostum dance yang di mix and match yang dipunya. Foto: Gladys/Kumparan
Contoh kostum yang membeli dan membuat di penjahit. Foto: Gladys/Kumparan

Daftar Pustaka

Arenibafo, F. E. (2023). The 3Rs (reduce, reuse, recycle) of waste management: An effective and sustainable approach for managing municipal solid waste in developing countries. Proceedings of the 6th International Conference of Contemporary Affairs in Architecture and Urbanism (ICCAUA), 6(1), 383-398.

Bin Hussain, A. (2021). Reusing and recycling strategies in designing the costume for the theater between Kuwait and the UK. Low Carbon Economy, 12(3), 101–115. [https://doi.org/10.4236/lce.2021.123006](https://doi.org/10.4236/lce.2021.123006)

ChosunBiz. (2023). Bada memperjuangkan perlindungan lingkungan melalui peran duta dan kegiatan plogging penggemar.

Dwikesumasari, P. R., Moslehpour, M., Sulistiawan, J., & Rizaldy, H. (2024). Mengoptimalkan potensi upcycle dan recycle untuk lingkungan yang lebih baik. Universitas Airlangga Official Website. [https://unair.ac.id/mengoptimalkan-potensi-upcycle-dan-recycle-untuk-lingkungan-yang-lebih-baik/](https://unair.ac.id/mengoptimalkan-potensi-upcycle-dan-recycle-untuk-lingkungan-yang-lebih-baik/)

Kementerian Kesehatan & Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka: Data akurat kebijakan tepat. Kementerian Kesehatan dan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

Pantouvaki, S., Fossheim, I., & Suurla, S. (2022). Costume and sustainability: From past practice to future strategies for an ecological costume praxis. Peripeti Journal, 19(2), 45–60.

Ping, X., Nursilah, & Alhempi, R. R. (2025). Sustainable business models in the dance industry: Integration of artistic and economic activities. International Journal of Performing Arts, 4(2), 1-12. [https://penajournal.com/index.php/IJPA/](https://penajournal.com/index.php/IJPA/)

Rusmita, S., Azzahra, F., Akbar, U. A., Papatungan, P. A. S. M., & Maryati, C. (2023). Persepsi mahasiswa mengenai uang dengan pendekatan Love of Money. Abdi Equator, 3(1), 53-60. [http://dx.doi.org/10.26418/abdiequator.v3i1.67365](http://dx.doi.org/10.26418/abdiequator.v3i1.67365)

South China Morning Post. (2021). K-pop fans climate action: Blackpink and Red Velvet. [https://www.scmp.com/magazines/style/celebrity/article/3124832/k-pop-fans-climate-action-blackpink-and-red-velvet-are](https://www.scmp.com/magazines/style/celebrity/article/3124832/k-pop-fans-climate-action-blackpink-and-red-velvet-are)