Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
Aromaterapi ; Kawan Ataukah Lawan? Kenali Bahaya Aromaterapi Berikut Ini!
29 Mei 2017 9:16 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:16 WIB
Tulisan dari Go Dok Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Walapun manfaatnya banyak, ada baiknya Anda membatasi penggunaan aromaterapi. Sebab, paparan aromaterapi yang terlalu lama terbukti bisa berbahaya bagi kesehatan. Tidak percaya? Yuk, simak dampak negatifnya berikut ini!
ADVERTISEMENT
Jika Anda sedang mengalami stres, aromanya yang khas tentu dapat memberikan Anda efek relaksasi dan penstabil mood yang diperlukan. Tak hanya itu, wangi dari aromaterapi juga memiliki efek terapeutik bagi pikiran, seperti aroma lezat kue yang baru dipanggang dan membangkitkan rasa nyaman layaknya sedang berada di rumah. Selain itu, aromaterapi juga dapat membantu proses penyembuhan, seperti bau minyak kayu putih mentol aromatik yang bisa digunakan untuk menyembuhkan hidung tersumbat.
ADVERTISEMENT
Eits, walapun manfaatnya banyak, ada baiknya Anda membatasi penggunaan aromaterapi ini,lho. Sebab, paparan aromaterapi yang terlalu lama terbukti bisa berbahaya bagi kesehatan. Tidak percaya? Yuk, simak dampak negatifnya berikut ini!
1. Meningkatkan risiko penyakit jantung
Uap minyak esensial aromaterapi memang bisa mengurangi stres, namun menurut studi yang dipublikasikan oleh The European Journal of Preventive Cardiology, hal ini bisa saja membahayakan kesehatan Anda. Studi yang melibatkan 100 pekerja spa di Taipei ini, meminta partisipan menghirup aromaterapi sembari memonitor tekanan darah dan detak jantung mereka. Hasilnya, ditemukan peningkatan tekanan darah serta detak jantung pada partisipan setelah mereka menghirup aromaterapi selama 2 jam.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pemantauan peneliti, para partisipan memang mengalami penurunan tekanan darah dan ritme detak jantung setelah menghirup aromaterapi selama 15-60 menit. Hal ini membuktikan bahwa memang terdapat efek relaksasi yang diberikan oleh aromaterapi. Namun, tekanan darah dan detak jantung partisipan justru cenderung meningkat kembali saat waktu mulai menginjak menit ke-75 hingga menit ke-120. Hal ini membuktikan bahwa terlalu lama menghirup aromaterapi bisa saja meningkatkan risiko rusaknya jantung Anda secara perlahan.
2. Asma
Telah Anda ketahui bahwa pada studi sebelumnya, para peneliti mengaitkan antara peningkatan risiko penyakit jantung dengan Volatile Organic Compound (VOC) -bahan organik yang mudah menguap dari bentuk cairan pada aromaterapi- yang terkandung dalam aromaterapi. Nah, menghirup senyawa VOC ternyata dapat pula meningkatkan inflamasi di tubuh, mengganggu fungsi sistem saraf dan dapat menimbulkan reaksi alergi saluran pernafasan. Karena itulah, Anda yang mengidap penyakit asma serta rentan terhadap perdarahan hidung (mimisan) harus berhati-hati menggunakannya.
ADVERTISEMENT
3. Kerusakan ginjal dan hati
Belum lepas dari penelitian sebelumnya, kerusakan ginjal dan hati juga dapat disebabkan oleh efek dari senyawa VOC. Para ilmuwan dalam penelitian sebelumnya mengklaim pula bahwa ekstrak minyak aromaterapi yang diuapkan dapat menghasilkan partikel iritan kecil atau aerosol organik sekunder saat bereaksi dengan udara. Hati-hati! Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menimbulkan kerusakan pada ginjal serta memicu gangguan fungsi hati.
4. Peradangan
Sebuah studi di Fakultas Ilmu Farmasi, Chia-Nan University, Taiwan, menemukan bahwa penggunaan aroma terapi cenderung lebih banyak bahayanya dibandingkan efek positifnya. Karena itu, Anda harus selalu ingat untuk tidak menggunakan minyak tumbuhan aromatik pada lubang telinga, mulut dan organ genital. Mengapa? Sebab, minyak tumbuhan aromatik murni yang diterapkan di daerah sensitif, seperti hidung atau kulit, bisa mengiritasi dan membakar kulit. Dalam beberapa kasus, mungkin juga akan terjadi reaksi alergi seperti ruam. Maka itu, hindarilah menggunakan secara berlebihan minyak tumbuhan aromatik yang bisa menyebabkan masalah pada orang-orang yang rentan, seperti minyak dari eucalyptus, jahe, thyme, lada hitam, kayu manis, cengkeh, oregano, sereh, kemangi, sebagian minyak jeruk.
ADVERTISEMENT
5. Keracunan
Dilansir Times of India, minyak tumbuhan aromatik, termasuk minyak esensial bisa menjadi racun apabila ditelan. Berdasarkan data yang ada, telah banyak kasus anak-anak yang keracunan karena menelan minyak esensial. Karena itulah, bagi orangtua yang menggunakan minyak aromaterapik, simpan minyak-minyakan tersebut dengan baik dan jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika keracunan terjadi? Hanya satu hal yang bisa Anda lakukan; yaitu menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat.
Nah, agar Anda tetap dapat memetik manfaat dari aromaterapi, jangan biasakan menghirup aroma tersebut terlalu lama dan terlalu sering. Ingatlah pula untuk selalu mengencerkan minyak esensial dalam zat pembawa (nabati atau minyak kacang, atau air) dengan konsentrasi 3% – 5%. Wanita hamil atau seseorang yang memiliki masalah kesehatan harus mengajukan berkonsultasi dengan seorang aromaterapis terlatih sebelum menggunakannya.
ADVERTISEMENT
Semoga bermanfaat!