Konten dari Pengguna

Cerpen - Lostlight : Sayap Emas di Tengah Hutan Ajaib

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Grace Jocelynn Tanu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto diambil oleh : Grace Jocelynn Tanu, Gambaran hutan ajaib yang dimasuki Nova
zoom-in-whitePerbesar
Foto diambil oleh : Grace Jocelynn Tanu, Gambaran hutan ajaib yang dimasuki Nova

Cerpen ini mengkisahkan tentang seorang anak bernama Nova yang tersesat di sebuah hutan ajaib dan menemukan desa peri saat tersesat sendirian pada malam hari saat sedang sedang berlibur bersama dengan keluarganya.

Cerpen - Lostlight : Sayap Emas di Tengah Hutan Ajaib

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang sangat harmonis. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan. Nova, yakni sang anak merupakan anak yang senang berpetualang, Ia sangat suka untuk pergi ke tempat yang berbau alam. Ia sangat suka berjalan-jalan di tempat yang rindang dan asri. Suatu ketika, keluarga tersebut ingin pergi berlibur. Keluarga tersebut memutuskan untuk pergi ke dalam suatu hutan yang dirumorkan ajaib di sebuah gunung. Hutan tersebut banyak dirumorkan sebagai hutan ajaib karena keindahannya yang sangat menawan. Setelah menentukan tanggal dan memesan penginapan, mereka pun langsung pergi dan melewati perjalanan yang cukup jauh menggunakan mobil. Setelah beberapa waktu, mereka pun tiba di sebuah penginapan di kaki gunung dan meninggalkan mobil yang dibawa disana. Karena tidak sabar untuk melihat pemandangan yang dikatakan ajaib itu, mereka dengan cepat mulai mendaki gunung tersebut. Gunung tersebut dipenuhi oleh tanaman-tanaman yang jarang dilihat disertai dengan kicauan-kicauan burung yang sangat merdu. Rasanya mereka seperti terhanyutkan oleh suasana hutan tersebut. Sambil berjalan, mereka pun menikmati pemandangan sambil berbincang-bincang.

Setelah berjalan beberapa lama, Nova mulai merasa bosan karena hanya mengikuti jalan setapak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri dan berpamitan dulu dengan orang tuanya. Orang tuanya yang sudah terbiasa dengan perilaku Nova yang senang berpetualang pun mengijinkannya karena mereka tahu bahwa Nova membawa peta serta kompas sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pada awalnya, Nova hanya mengikuti jalan setapak tetapi karena Ia tidak merasa tidak ada petualangannya, Ia pun mulai keluar dari jalur setapak. Hari pun semakin gelap dan Nova berniat untuk kembali ke orang tuanya. Sayangnya setelah beberapa kali berkeliling Nova tidak kunjung menemukan jalan setapak yang Ia kenali. Kompas yang dibawa Nova tidak berfungsi dan terus berputar putar seakan ada yang mengganggu. Peta yang ia bawa pun tidak terlalu membantu karena Kompas yang dibawanya tidak berfungsi. Nova mulai merasa bahwa dirinya telah tersesat. Nova tetap berusaha untuk mencari jalan setapak. Di malam yang gelap itu, Nova melihat kunang- kunang dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti kunang-kunang tersebut. Kunang-kunang itu seakan membentuk sebuah jalan yang ingin menuntunnya untuk mencari tempat perlindungan.

Saat la mengikuti cahaya dari kunang- kunang tersebut, la tiba di suatu bagian hutan yang terlihat berbeda dari bagian hutan lain yang telah ia telusuri. la terdiam dan sangat kagum melihat tanaman-tanaman yang bercahaya serta adanya rumah-rumah kecil berbentuk jamur bagaikan sebuah miniatur desa fantasi. Ia seperti telah berpindah dari dunia asalnya ke tempat fantasi yang tidak Ia kenali. Ia melihat banyak manusia-manusia kecil bersayap sedang berpesta dengan gembira sambil diiringi oleh musik yang ceria.

Nova pun terkejut dan tidak percaya dengan apa yang la lihat. la berkata, "Kok kayaknya aku kenal dengan wujud itu ya? Aku pernah lihat dimana ya. Oh, aku ingat bukannya itu peri? Kalau tidak salah ingat aku pernah melihatnya di buku dongeng bergambarku! Tapi masa sih itu beneran peri, aku ga percaya.". Sambil bersembunyi di balik pepohonan, la melamun sambil berpikir apakah yang dilihatnya itu adalah benar adanya. Beberapa waktu pun berlalu saat Nova masih melamun, tiba tiba ada sesuatu yang terbang menabrak wajahnya. Wujud yang menabraknya itu sama seperti para persis dengan para peri yang sedang berpesta. Peri itu pun terkejut melihat ada seorang manusia di wilayah mereka. Peri itu pun bertanya kepada Nova, "Loh? Sedang apa kamu disini wahai manusia? Ini bukanlah tempat yang bisa kamu masuki seenaknya". Nova pun meminta maaf dan memperkenalkan dirinya. Ia menceritakan perjalanan yang telah ia lalu hari itu. Peri itu pun prihatin kepadanya dan berkata, “Hmm, kalau begitu ayo ke rumahku dulu. Biasanya para manusia tidak bisa masuk ke desa ini karena ada penghalangnya tetapi sepertinya kamu adalah orang yang baik. Aku akan memperkenalkanmu kepada kepala desa dan teman-temanku nanti!”.

Sesampainya di rumah peri tersebut, Nova pun bertanya-tanya bagaimana cara la akan masuk ke dalam rumah kecil itu karena saat itu, kondisi tubuh Nova lebih besar 5 kali lipat daripada rumah tersebut. Peri tersebut pun menyuruh Nova untuk menunggu sebentar dan ia pun masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil serbuk emas. Setelah beberapa saat, peri itu pun keluar dari rumahnya dan dengan cepat terbang mengelilingi tubuh Nova. Tubuh Nova pun perlahan mengecil dan menjadi seukuran peri tersebut. Nova yang terkejut pun tidak bisa berkata apa apa dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah sang peri. Mereka berbincang-bincang dan peri itu membiarkan Nova untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu. Setelah Nova selesai bersih-bersih, peri itu pun memperkenalkan dirinya. Nova pun terpukau karena nama peri itu memiliki arti nama yang sangat cantik yaitu bintang. Astra, nama peri itu adalah Astra! Setelah berbincang-bincang sesaat, Astra mengajak Nova untuk bertemu dengan kepada desa.

Di Tengah dinginnya malam, Nova ditaburi bubuk berwarna perak oleh Astra yang bisa membuatnya terbang. Astra memegang tangan Nova dan membawanya ke pesta yang dilihat oleh Nova sebelumnya. Disana kepala desa sedang duduk di sebuah kursi dan menikmati jalannya pesta. Astra memperkenalkan Nova kepada kepala desa dan semua peri yang ada disana terdiam sejenak setelah mengetahui bahwa Nova adalah manusia. Setelah Astra menjelaskan perjalanan Nova, kepada desa pun memperbolehkan Nova untuk tinggal semalam agar terhindar dari dinginnya malam dengan perjanjian keesokan harinya Nova harus pulang dengan diantarkan oleh Astra. Nova pun berterimakasih dan disuruh untuk menikmati pesta yang ada. Para peri yang penasaran pun mendekati Nova dan mengajukan pertanyaan yang banyak. Nova menjawab satu persatu pertanyaan dan mendapat banyak teman peri. Setelah pesta tersebut hampir selesai, Astra pun mengajak Nova untuk pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Nova yang sudah mulai mengantuk pun setuju dan kembali ke rumah Astra.

Keesokan harinya di pagi buta, Nova bangun dengan tubuh yang segar dan siap untuk kembali pulang ke keluarganya. Setelah sarapan, Astra pun mengajak Nova untuk keluar rumah dan berpamitan dengan kepala desa serta teman-teman peri yang dikenalnya semalam. Setelah berpamitan, Nova pun ditaburi bubuk emas kembali oleh Astra agar ia kembali ke ukurannya yang semula. Sebelum pergi, Nova mengikatkan sebuah tali ke pohon-pohon yang mengarah ke arah desa tersebut tanpa diketahui oleh Astra agar ia bisa kembali ke desa tersebut dan bertemu dengan teman-teman perinya itu. Nova pun merasa senang karena bisa kembali kepada keluarganya, tetapi ada juga perasaan sedih karena harus meninggalkan tempat ajaib tersebut. Astra pun menuntun Nova untuk menemukan jalan setapak agar Nova tidak kembali tersesat. Saat sudah ketemu, Nova pun mengucapkan selamat tinggal dan langsung pergi ke arah penginapan.

Orang tua Nova yang melihat anaknya kembali pun langsung berlari menuju ke arah Nova. Mereka sangat khawatir karena Nova tidak bisa mereka temukan dimanapun saat malam tadi. Setelah semuanya lega, Nova menceritakan petualangannya yang mengasikkan di desa peri, bagaimana ia bisa tersesat dan akhirnya bertemu dengan Astra. Orang tuanya berpikir itu hanya imajinasi Nova yang liar dan Nova yang tidak terima pun mengajak kedua orang tuanya untuk pergi ke desa peri tersebut. Penanda yang ditinggalkan Nova masih ada, tetapi des aitu telah menghilang entah kemana. Tidak ada jejak pesta, rumah, maupun kehidupan kecil yang pernah tinggal disitu. Nova pun kecewa karena ia tidak bisa kembali melihat teman-teman kecilnya itu dan membuktikan kepada orang tuanya, tetapi ia tahu bahwa desa itu benar adanya dan kenangannya itu tidak akan pernah hilang.

Grace Jocelynn Tanu, kelahiran Bandung 2009. Siswa kelas XI SMA Trinitas Bandung. Menulis adalah cara untuk membagi kisahmu dengan dunia.