Kita Adalah Para Penghancur Buku

Founder of Next Policy
Tulisan dari Grady Nagara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi hari, 7 Januari 2014, kebakaran secara tidak sengaja melanda gedung C FISIP UI akibat korsleting AC. Saya sendiri menyaksikan secara langsung, bagaimana gedung yang menjadi kantor bagi Departemen Sosiologi luluh lantah. Celoteh seorang teman kepada saya saat itu, “para dosen menangis dan terpukul, sebab, ribuan arsip dan buku hasil riset sosiologi kandas dalam hitungan menit”.
Benar saja, dalam laporan Kompas, setidaknya ada 5000 arsip yang merupakan dokumentasi hasil riset sejak 1950-an, termasuk di dalamnya adalah buku-buku langka yang jumlahnya pun tidak sedikit, lenyap menjadi abu. Hancurnya ribuan buku adalah tragedi memilukan, tak sebanding dengan terbakarnya gedung yang masih dapat dibangun kembali. Bagi mereka, buku-buku tersebut adalah harta yang tak terhitung nilainya.
Kontras dengan cerita di atas, ada juga orang-orang yang justru ingin melenyapkan buku. Salah seorang teman yang lain dalam akun instagram-nya mengatakan bahwa ia akan membakar buku-buku miliknya sendiri. Sontak saya kaget, sebab teman yang saya kenal seorang “pegiat gerakan Islam”, justru ingin membakar buku karya tokoh ikhwanul muslimin, sebuah organisasi dan gerakan Islam yang menjadi salah satu rujukan dunia dan berpusat di Mesir. Di antara nama-nama pengarangnya adalah Yusuf Qardhawi, Jum’ah Amin, Sayyid Qutb dan Hasan Al Banna. Alasannya sederhana: ia ingin bertobat dari pemikiran dan ajaran yang dianggap sesat.
Sikap alergi terhadap buku belum lama ini juga dapat kita jumpai dalam skala yang lebih luas dan masif. Tahun 2012, toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia, menarik buku Lima Kota Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson dari peredaran karena adanya laporan bahwa buku tersebut memuat konten yang menghina Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya ditarik dari peredaran, ratusan eksemplar karya tersebut juga dibakar yang disaksikan pula oleh pihak kepolisian dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pada 2016, masih di toko buku yang sama, pihak Gramedia terpaksa menarik sementara buku-buku yang bernuansa marxisme dan komunisme setelah kepolisian melakukan inspeksi mendadak. Tidak hanya di Gramedia, toko-toko buku besar lainnya juga harus menarik penjualan buku yang dianggap berbahaya bagi Pancasila.
Kepingan ingatan tersebut muncul begitu saja dalam benak saya ketika membaca buku yang berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karya Fernando Báez, seorang Doktor ilmu perpustakaan asal Venezuela. Buku yang merupakan hasil riset ini sendiri sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat baik oleh Lita Soerjadinata, dan saya adalah salah satu orang yang diuntungkan atas penerjemahan tersebut karena bisa membaca karya yang tidak hanya penting, tetapi juga fenomenal.
Satu-satunya yang menjadi pertanyaan saya, dan juga ditanyakan Báez adalah, “mengapa orang menghancurkan buku?”. Reaksi sekelompok orang yang menangis terpukul karena kehilangan koleksi buku dan arsip berharga seperti kasus kebakaran di FISIP UI mungkin masih dapat dipahami. Namun, untuk alasan mengapa banyak orang ingin menghancurkan buku membutuhkan jawaban yang lebih serius. Untuk itulah Báez melakukan usaha riset yang sangat panjang.
Sejarah yang Terus Berulang
Jujur saja, Báez telah berhasil membuat para pembacanya merinding karena membayangkan sudah berapa milyar buku yang dimusnahkan. Catatan tentang aksi brutal manusia terhadap buku secara lengkap terdokumentasikan sejak era kuno (Sebelum Masehi). Alasan penghancurannya pun macam-macam; peperangan, sentimen keagamaan dan ras, serta “konflik” antar intelektual.
Di era kuno misalnya, temuan arkeologis menunjukkan bahwa buku pertama kali muncul dalam peradaban manusia yaitu di kerajaan Sumeria (sekarang Irak Selatan, di antara aliran sungai Tigris dan Efrat) sekitar 5300 tahun yang lalu. Di era tersebut, buku dalam bentuk tablet dibuat dari tanah liat yang dipanaskan hingga suhu tertentu.
Para “penyalin kitab” yang merupakan fungsionaris istana kerajaan ditugaskan untuk menulis di atasnya. Peperanganlah yang menyebabkan banyak tablet di era tersebut musnah. Akibat kalah perang, ratusan ribu tablet di Sumeria dibakar; sebagian lainnya didaur ulang dan dijadikan bahan untuk melapisi jalan-jalan kota.
Perpustakaan pertama kali didirikan pada periode raja Uruk III, yang kemudian disusul dengan berdirinya perpustakaan Lagash sekitar 100 tahun setelahnya, dan semakin banyak perpustakaan kuno didirikan setelah melewati masa 1000 tahun. Di antaranya adalah perpustakaan Ur, Isin, Nippur, hingga yang terbesar adalah perpustakaan Babilonia yang didirikan oleh raja Hammurabi dan kemudian disusul dengan berdirinya perpustakaan Asurbanipal.
Perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu tablet ini menjadikan Timur Tengah adalah pusat peradaban dunia di era kuno. Lagi-lagi sayangnya, temuan puing-puing tablet menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan. Megahnya memori ilmu pengetahuan telah hancur oleh manusia yang gemar melakukan peperangan.
Saat manusia mulai meninggalkan tablet, media penyimpanan tulisan beralih ke dalam bentuk papirus yang lebih efisien. Papirus sendiri dibuat dari alang-alang (Cyperus papyrus) yang dikeringkan dalam waktu cukup lama. Adapun papirus sendiri mulai dibuat di Mesir kuno era Ramses II (1304-1237 SM) yang diikuti dengan didirikannya perpustakaan Ramesseum. Seperti pada era sebelumnya, buku dan perpustakaan adalah benda yang dikeramatkan oleh kerajaan.
Ramses II memerintahkan membuat kuil suci untuk menyimpan jenazahnya yang dikelilingi oleh perpustakaan besar, di mana perpustakaan adalah simbol “penyucian jiwa”. Setelah penyerbuan bangsa Ethiopia, Assiria, dan Persia, karya-karya dalam papirus beserta perpustakaannya lenyap tanpa sisa. Di era abad pertama Masehi, saat kelompok Kristen mendirikan gereja di atas lokasi tersebut, tanda-tanda perpustakaan kuno sudah tidak ada lagi.
Di Yunani menjelang era Masehi, budaya penulisan semakin berkembang pesat. Buku-buku yang berbentuk gulungan papirus tidak hanya secara istimewa dimiliki pihak kerajaan, melainkan juga mulai dijajakan sebagai barang dagangan yang disebut bibliotheekai. Di era ini kita akan temukan para filsuf-filsuf yang beberapa karyanya dapat kita baca hari ini; Sokrates, Plato, dan Aristoteles.
Beberapa buku mulai dikenai sensor oleh otoritas politik setempat. Salah satunya adalah karya Protagoras (490-420 SM) yang berjudul Tentang Para Dewa. Penyensoran itu diikuti dengan pembakaran buku-buku Protagoras oleh orang-orang Athena. Menariknya, ternyata Plato sendiri juga pernah melakukan pembakaran buku. Plato cenderung untuk memberangus kebebasan berbicara yang tidak sejalan dengan kebenaran menurut sistemnya. Bahkan Plato sendiri dituduh sebagai biblioklas karena telah menghancurkan risalah-risalah Demokritus.
Memasuki Abad Pertengahan, aksi-aksi pembakaran buku semakin bergelora. Perkembangan keyakinan manusia juga telah meruncingkan sentimen keagamaan. Banyak buku yang dihancurkan karena dianggap bid'ah bagi agama tertentu.
Pada 1259, beragam sekte bermunculan seperti Flagelan, Adamiah, Bogomili, dan Kathar. Atas perintah otoritas gereja ketika itu, Paus Inosencius III menggelorakan “perang suci” terhadap sekte Kathar. Tidak hanya membunuh anggota sekte, para pasukan gereja juga membakar buku-buku mereka. Para anggota dan tulisan dari sekte yang dianggap bidah bagi otoritas gereja adalah “kesesatan yang bertentangan dengan kebenaran otoritas”.
Contoh lain adalah pembakaran Al-Quran, kitab umat Islam ini juga menjadi salah satu korban yang paling banyak dihancurkan dalam sejarah manusia. Seperti masa perebutan kembali Spanyol dari Islam di awal abad 16, ribuan Al-Quran dimusnahkan di Granada. Di abad modern, pembakaran besar terhadap Al-Quran juga sempat terjadi pasca insiden 9/11 di Amerika Serikat. Bahkan, ada orang yang berpandangan ekstrem ingin menjadikan tanggal 9 September sebagai “Hari Pembakaran Al-Quran”.
Memang, satu-satunya alasan mengapa manusia menghancurkan buku dalam catatan sejarah adalah untuk menghapus ingatan. Buku adalah sumber pengetahuan utama yang juga menandakan ingatan atas suatu kebudayaan dan peradaban. Mereka yang saling berkonflik tentu menjadikan buku sebagai salah satu sasaran utamanya.
Seperti halnya yang dilakukan Partai Nazi di Jerman saat Perang Dunia II, fasisme tidak hanya menyingkirkan kaum Yahudi, melainkan juga menghancurkan buku-bukunya (bibliocaust). Yang membuat saya bergidik adalah, semua buku yang dianggap bejat, bobrok, dan bertentangan dengan rezim dimusnahkan secara massal. Bahkan Nazi melakukan provokasi kepada para loyalisnya untuk ikut bertindak brutal terhadap buku. Uniknya, Hitler sendiri justru adalah seorang “kutu buku”.
Represi atas ilmu pengetahuan telah menjadi sejarah yang terus berulang. Rasa “takut” terhadap buku, disisi yang lain menunjukkan bahwa manusia di dunia ini mengakui “kekuatan” yang terkandung dalam sebuah buku. Báez mengatakan bahwa buku adalah “pelembagaan ingatan bagi konsekrasi dan permanensi, dan karenanya harus dipelajari sebagai kepingan kunci dari warisan budaya suatu masyarakat” (hal.15).
Di abad modern, di mana buku-buku juga mulai merambah dalam bentuk elektronik (e-book), sikap alergi manusia terhadap buku tidak pernah berubah. Pada kasus di Cina, India, Iran, dan Arab Saudi, bahkan akses terhadap sumber pengetahuan dalam buku elektronik terus dibatasi. Misalnya, catatan lengkap atas peristiwa Tiananmen pada 1989 mustahil di baca di Cina. Bahkan di 2006, Cina memiliki 50 ribu agen cyber untuk menghapus segala bentuk tulisan, gambar, forum, yang dianggap pembangkangan.
Kitalah Para Penghancur Buku!
Kalau kita membayangkan berada pada era di mana pemberangusan buku berlangsung sangat masif, seharusnya membuat kita sadar betapa pentingnya buku bagi manusia; sehingga ia harus dijaga, atau bisa jadi harus dimusnahkan. Bukti-bukti penghancuran buku telah mengarah bahwa manusia adalah pencipta, sekaligus penghancur buku yang paling utama, meskipun tidak sedikit juga buku yang harus musnah termakan usia, serangga, maupun bencana alam. Dimana-mana, api dan air selalu menjadi musuh utama bagi buku.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran saya (dan mungkin kita), bahwa pengabaian telah menjadi senjata mutakhir dalam memusnahkan buku. Dari masa ke masa, manusia menghancurkan buku hampir selalu didorong oleh rasa sentimen, ataupun hasrat mempertahankan kekuasaan yang besar, dan ini masih dapat kita saksikan hingga hari ini.
Namun, pengabaian kita terhadap buku juga menjadi ancaman besar bagi “punahnya” buku. Era digital “post-truth” yang memproduksi hoax dalam jumlah massal menunjukkan bahwa kita telah mengabaikan buku. Sebab, buku adalah sumber absah yang membuat manusia saling mengenal agama, budaya, dan tentu saja sharing knowledge yang efektif. Yang menurut saya lebih mengerikan, telah banyak bermunculan orang-orang yang ingin memusnahkan buku yang bahkan belum dibacanya sama sekali.
