Konten dari Pengguna

Manusia Bukanlah Alat : Someone Is Not Something

Gregorius Alessandro Bria Nahak

Gregorius Alessandro Bria Nahak

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gregorius Alessandro Bria Nahak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Someone Is Not Something (Sumber: Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Someone Is Not Something (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Seringkali kita acuh terhadap sesama kita dan lebih mementingkan diri sendiri. Itu semua demi kesenangan pribadi. Tanpa sadar kita sering memperalat orang lain dan ingin menang sendiri. Dalam perspektif realism theory, negara cenderung memprioritaskan kepentingannya sendiri dibandingkan membantu negara lain. Lalu, cobalah kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa banyak orang melakukan itu?. Ini adalah sebuah refleksi agar kita mau menghargai sesama. Memanusiakan manusia.

Belajar dari Standar Kecantikan Perempuan

Di dunia saat ini tentu kita sering melihat perempuan yang merasa insecure. Tidak puas akan kondisi dan menyerah begitu saja. Namun, mengapa standar kecantikan sering dipakai untuk menilai personality dan bahkan untuk merendahkan mereka? Bukankah untuk menjadi lebih baik, kita tidak perlu menjadi orang lain?

Standar kecantikan seringkali tidak masuk akal. Padahal, perempuan hadir dengan keragaman yang indah dan memiliki hak untuk dihargai apa adanya.

Someone Is Not Something

Kadang kita lupa bahwa manusia bukanlah “barang” yang bisa dinilai, dipakai, lalu ditinggalkan. “Someone is not something” mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki perasaan, cerita, dan martabat yang tidak bisa diperas demi kepentingan orang lain.

Ketika kita memperlakukan seseorang seperti objek entah lewat standar kecantikan, ekspektasi sosial, atau penilaian dangkal, kita merampas ruang mereka untuk menjadi manusia seutuhnya. Kita lupa bahwa di balik senyum, ada perjuangan; di balik penampilan, ada nilai; dan di balik diri seseorang, ada dunia yang tidak pernah bisa dipahami hanya dengan sekali pandang.

Kita perlu mengingat bahwa manusia bukanlah objek yang bisa dimanfaatkan sesuka hati. Setiap orang memiliki martabat, perasaan, dan kisah yang layak dihormati. Dengan sejenak untuk berhenti menilai, kita mulai benar-benar melihat manusia sesungguhnya.

Gregorius Alessandro Bria Nahak, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret