Maraknya Kendaraan Buatan Jepang di Kota Jakarta : Foreign Direct Investment

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Gregorius Alessandro Bria Nahak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba anda perhatikan jalanan Jakarta. Di tengah padatnya kendaraan pribadi, nama-nama seperti Toyota, Honda, Daihatsu, dan Suzuki bukanlah pemandangan yang asing. Berbagai merek kendaraan asal Jepang tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah metropolitan dengan mobilitas masyarakat yang tinggi seperti Jakarta. Kendaraan pribadi dianggap mampu memberikan kemudahan dan efisiensi dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, di balik banyaknya kendaraan Jepang yang terlihat di jalanan Jakarta, terdapat fenomena ekonomi politik internasional yang lebih besar yaitu bagaimana perusahaan-perusahaan Jepang dapat membangun posisi yang kuat di pasar khususnya Indonesia?
Fenomena tersebut tidak hanya dapat dilihat sebagai persoalan pilihan konsumen, tetapi juga sebagai bagian dari perkembangan perusahaan multinasional atau Multinational Corporations (MNCs). MNC merupakan perusahaan yang mengendalikan dan mengelola kegiatan produksi atau fasilitas perusahaan di setidaknya dua negara. Dengan menempatkan fasilitas produksi di berbagai negara dalam satu struktur perusahaan, MNC dapat membawa modal, teknologi, keterampilan, dan kemampuan manajerial melewati batas negara. Dalam konteks industri otomotif, keberadaan perusahaan Jepang di Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi perusahaan tidak lagi terbatas pada negara asalnya.
Pada 2025, Toyota mencatat penjualan ritel 258.923 unit, Daihatsu 137.855 unit, Honda 71.233 unit, Mitsubishi Motors 70.338 unit, dan Suzuki 64.838 unit. Artinya, lima merek tersebut berada di jajaran teratas pasar kendaraan ritel Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehadiran perusahaan otomotif Jepang di Indonesia bukan sekadar fenomena yang terlihat di jalanan, tetapi juga tercermin dalam struktur pasar yang berjalan secara sistemik.
FDI: Ketika Perusahaan Jepang Tidak Sekadar Menjual Produk
Salah satu bentuk internasionalisasi tersebut adalah Foreign Direct Investment (FDI). FDI terjadi ketika perusahaan yang berbasis di suatu negara membangun fasilitas baru atau membeli fasilitas yang telah ada di negara lain. Berbeda dengan investasi tidak langsung seperti saham atau obligasi yang dikelola tanpa keterlibatan langsung investor, investasi langsung yang seperti ini memberikan investor kendali terhadap aset maupun proses pengambilan keputusan. Karena itu, ketika perusahaan otomotif Jepang melakukan investasi dan membangun kegiatan produksi di Indonesia, hubungan tersebut tidak lagi sekadar mengenai produk Jepang yang masuk ke pasar Indonesia, tetapi mengenai hadirnya modal dan aktivitas perusahaan Jepang secara langsung di negara tujuan.
Dari Oil Shock hingga Ekspansi Industri Jepang
Ekspansi tersebut dapat dipahami melalui perubahan strategi industri Jepang setelah mengalami oil shocks. Ketika harga minyak mengalami guncangan, industri Jepang kemudian berkembang dengan menghasilkan kendaraan yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar. Kemampuan tersebut membantu industri otomotif Jepang membangun daya saing di pasar internasional. Perusahaan Jepang kemudian tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga melakukan ekspansi ke luar negeri. Sehingga Indonesia pun kini menjadi salah satu ruang yang menarik karena memiliki pasar lokal yang besar dan kebutuhan transportasi yang tinggi.
Mengapa Indonesia Menjadi Lokasi yang Menarik?
Keunggulan lokasi atau locational advantages suatu negara dapat berasal dari besarnya pasar lokal, ketersediaan sumber daya, maupun peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Bagi perusahaan otomotif Jepang, pasar Indonesia memberikan peluang untuk mendekatkan kegiatan bisnis dengan konsumen. Jakarta sebagai pusat metropolitan menjadi salah satu gambaran dari besarnya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan untuk menunjang mobilitas mereka. Dengan kata lain, keputusan perusahaan untuk hadir di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mereka memproduksi kendaraan, tetapi juga dengan karakteristik lokasi yang menyediakan pasar bagi produk tersebut.
Menurut kerangka OLI (Ownership, Location, Internalization) yang dikembangkan ekonom John H. Dunning, keputusan perusahaan melakukan FDI dipengaruhi oleh keunggulan yang dimiliki perusahaan, keunggulan lokasi negara tujuan, serta keuntungan mempertahankan aktivitas tertentu di dalam struktur perusahaan. UNCTAD menjelaskan bahwa keunggulan lokasi dapat mencakup ukuran pasar, prospek pertumbuhan, sumber daya, infrastruktur, hingga lingkungan kebijakan.
Keunggulan Perusahaan Jepang di Tengah Persaingan Global
Namun, keunggulan Indonesia sebagai lokasi investasi saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa perusahaan Jepang mampu bersaing. Perusahaan tersebut juga membawa firm-specific advantages, yaitu keunggulan yang dimiliki perusahaan untuk berkompetisi di pasar luar negeri. Keunggulan tersebut antara lain berkaitan dengan ukuran perusahaan serta kemampuan teknologi dan pemasaran. Dalam industri otomotif, kemampuan produksi, teknologi, pemasaran, serta pengalaman perusahaan Jepang menjadi modal penting ketika memasuki pasar di luar Jepang. Pertemuan antara keunggulan perusahaan Jepang dan keunggulan lokasi Indonesia akan menciptakan kondisi yang memungkinkan ekspansi perusahaan bisa berjalan.
Dalam kerangka Dunning, keunggulan semacam teknologi, merek, kemampuan manajerial, dan kemampuan organisasi termasuk dalam ownership atau firm-specific advantages. UNCTAD menjelaskan bahwa perusahaan yang melakukan investasi ke luar negeri umumnya perlu memiliki keunggulan tertentu yang memungkinkan mereka menghadapi biaya dan tantangan ketika beroperasi di negara asing.
Keiretsu dan Rantai Produksi di Balik Sebuah Kendaraan
Kehadiran perusahaan Jepang juga tidak berdiri sendiri. Industri Jepang memiliki karakter hubungan antarpelaku usaha yang dapat dijelaskan melalui konsep keiretsu. Keiretsu merupakan kelompok perusahaan yang saling bergantung dan memiliki hubungan dengan mitra perbankan, produsen, distributor, serta rantai pasokan. Dalam materi, Toyota digunakan sebagai contoh perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan berbagai pemasok komponen, mulai dari baja, plastik, hingga elektronik. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa sebuah kendaraan tidak hanya dihasilkan oleh satu perusahaan, tetapi melalui jaringan produksi yang melibatkan banyak perusahaan.
Lebih dari Sekadar Merek: Transfer Teknologi dan Keterampilan
Hubungan tersebut juga memperlihatkan bahwa FDI memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan sebuah merek di pasar. Ketika perusahaan multinasional hadir di negara lain, terdapat kemungkinan terjadinya transfer modal, teknologi, keterampilan, dan kemampuan manajerial. MNC tentu memiliki dampak pada transfer teknologi dan keterampilan, termasuk melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kemampuan manajerial. Oleh karena itu, kehadiran industri otomotif Jepang di Indonesia dapat dilihat sebagai bagian dari terbentuknya jaringan ekonomi yang menghubungkan perusahaan Jepang dengan aktivitas produksi dan pasar Indonesia.
Keberadaan perusahaan otomotif Jepang telah mendorong berkembangnya perusahaan-perusahaan pendukung produksi di Indonesia, termasuk pemasok komponen dan perusahaan yang membantu otomatisasi lini produksi. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan investasi dapat meluas dari perusahaan induk menuju ekosistem industri yang besar di negara tujuan.
Japanese Miracle dan Peran Negara dalam Membangun Industri
Menariknya, ekspansi perusahaan Jepang tersebut juga memiliki hubungan dengan bagaimana Jepang membangun perekonomiannya sendiri. Jepang dikenal melalui konsep developmental state, yaitu kondisi ketika pemerintah memainkan peran besar dalam mendukung perkembangan sektor bisnis melalui kebijakan administratif, subsidi, proteksi, dan intervensi pasar. Materi menjelaskan bahwa negara-negara Asia Timur merupakan contoh penting dari developmental state, termasuk Jepang melalui Japanese Miracle. Dalam proses tersebut, institusi seperti Ministry of International Trade and Industry (MITI), Ministry of Finance, dan Bank of Japan memiliki peran dalam mendukung perkembangan industri Jepang.
Ketika Jalanan Jakarta Menjadi Cermin Ekonomi Politik Internasional
Dengan demikian, banyaknya kendaraan Jepang di jalanan Jakarta sebenarnya merupakan bagian kecil dari proses perekonomian yang jauh lebih panjang. Di satu sisi, Indonesia menyediakan pasar lokal yang besar dan kebutuhan transportasi yang tinggi sebagai locational advantage. Di sisi lain, perusahaan Jepang membawa firm-specific advantages berupa kemampuan teknologi, pemasaran, skala perusahaan, serta jaringan produksi yang telah berkembang. Pertemuan kedua keunggulan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi perusahaan Jepang untuk melakukan ekspansi melalui MNC dan FDI.
Pada akhirnya, kendaraan Jepang yang setiap hari kita lihat di jalanan Jakarta bukan sekadar alat transportasi atau pilihan merek. Di balik sebuah Toyota, Honda, Daihatsu, atau Suzuki ada hubungan antara modal, perusahaan multinasional, teknologi, pasar, dan kebijakan ekonomi. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana globalisasi ekonomi dapat hadir dalam sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apa yang terlihat sebagai kendaraan di jalan Jakarta pada dasarnya juga dapat menjadi cerminan dari bagaimana perusahaan Jepang melakukan internasionalisasi dan bagaimana Indonesia menjadi bagian dari jaringan produksi ekonomi global. Jadi ini juga merupakan cerminan ekonomi politik internasional, dimana setiap negara memiliki karakter khusus dalam aktivitas perekonomiannya. Oleh sebab itu, peristiwa ini merefleksikan Indonesia juga seharusnya bisa hadir bagi masyarakat dalam segi investasi fasilitas yang berdampak bagi masyarakatnya dan memperluas jejaringnya hingga dikenal berbagai negara.
