Konten dari Pengguna

Produk Apple, Globalisasi, dan FOMO: Ketika Amerika Mempengaruhi Cara Berpikir

Gregorius Alessandro Bria Nahak

Gregorius Alessandro Bria Nahak

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gregorius Alessandro Bria Nahak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apple Sebagai Ikon Soft Power (Sumber : Amin Zabardast/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Apple Sebagai Ikon Soft Power (Sumber : Amin Zabardast/Unsplash)

Dalam beberapa tahun terakhir, produk Apple menjadi lebih dari sekadar alat teknologi di Indonesia. iPhone, MacBook, dan AirPods tidak hanya berfungsi sebagai perangkat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup global yang memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Banyak anak muda Indonesia menginginkan perangkat Apple bukan semata karena kebutuhannya, tetapi karena tekanan sosial untuk terlihat modern dan mengikuti arus global (Ginting, 2023). Fenomena ini menunjukkan bagaimana globalisasi menjangkau ruang pribadi masyarakat melalui produk budaya dan teknologi.

Lebih jauh, Apple secara tidak langsung membentuk cara masyarakat Indonesia melihat status sosial dan identitas diri. Ketika seseorang merasa kurang percaya diri karena tidak memakai iPhone terbaru, itu menunjukkan bahwa produk tersebut telah masuk ke ranah psikologis dan simbolik. FOMO bukan lagi soal teknologi, tetapi tentang bagaimana seseorang ingin diterima dalam masyarakat digital yang serba cepat. Inilah bentuk pengaruh budaya yang menyusup melalui citra dan gaya hidup global.

Dalam perspektif hubungan internasional, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk soft power Amerika Serikat. Soft power adalah kemampuan sebuah negara memengaruhi negara lain melalui budaya, nilai, dan gaya hidup, bukan dengan kekuatan militer. Produk Apple, sebagai ikon budaya Amerika, membawa nilai-nilai seperti prestise, inovasi, dan individualisme dan perlahan membentuk cara masyarakat Indonesia menilai modernitas. Dominasi simbolik ini memperlihatkan bagaimana negara besar dapat mempengaruhi pola konsumsi dan pemikiran negara lain tanpa paksaan langsung (Nye, 2004).

Meskipun globalisasi melalui produk Apple memberikan manfaat seperti kemudahan akses informasi. Namun, timbul pertanyaan reflektif di dalam pikiranku : “Apakah kita membeli teknologi berdasarkan kebutuhan atau karena merasa tertinggal? Apakah kita benar-benar memilih secara sadar, atau hanya mengikuti narasi global tentang apa yang dianggap keren?”

Pada akhirnya, produk Apple menjadi contoh nyata bagaimana globalisasi mampu membentuk cara hidup masyarakat Indonesia. Pengaruh ini tidak selalu buruk, tetapi ini merupakan bentuk kesadaran kritis yang diperlukan agar kita tidak terbawa arus di tengah derasnya budaya asing yang masuk melalui teknologi.

Referensi

Ginting, R. (2023). Budaya Konsumsi Digital di Kalangan Anak Muda Indonesia. Jakarta: Loka Media.