Konten dari Pengguna

Sowan Leluhur : Situasi Hening Pada Dunia yang Bising

Gregorius Prasetyo

Gregorius Prasetyo

Anthropologist, Master of Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Airlangga

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gregorius Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi, Kuliah Lapangan Magister Kajian sastra dan Budaya Unviersitas Airlangga
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi, Kuliah Lapangan Magister Kajian sastra dan Budaya Unviersitas Airlangga

Di tengah terik matahari siang di Desa Trowulan menyambut saya siang itu. Udara terasa terik, tanah yang kering, dan pepohonan yang berdiri seolah menunggu sesuatu. Di kejauhan, batu bata merah peninggalan majapahit masih berdiri dan tersusun rapih. Tak bicara apa – apa, namun menghadirkan rasa dan cerita yang dalam. Di sinilah kami, sekelompok mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya hadir, melakukan kuliah lapangan sowan leluhur : sebuah praktik yang dilakukan oleh masyarakat Trowulan untuk “berkunjung” kepada leluhur melalui keheningan.

Awalnya saya tak paham maksud dari “sowan”. Dalam Bahasa jawa, Sowan memiliki arti berkunjung, biasanya kepada orang yang lebih tua atau di hormati. Namun, ketika kata leluhur di satukan terhadap kata sowan, memiliki makna dan arti yang berbeda. Sowan leluhur disini berarti berkunjung bukan kepada manusia, melainkan kepada mereka yang tak kasat mata : para leluhur terdahulu yang sudah meninggal dengan tujuan untuk mendengarkan – bukan dengan telinga, namun dengan rasa.

Dunia Bising ≠ Memaksa Bising

Di luar sana, dunia terasa semakin riuh. Kehidupan zaman dimana keheningan menjadi barang mewah dan langka. Timeline media sosial berlomba untuk menampilkan suara paling nyaring, opini paling cepat, dan emosi paling kuat. Di antara notifikasi dan algoritma, kita kehilangan kemampuan untuk hening. Di tengah kebisingan dan riuh hiruk pikuk tersebut, sowan leluhur terasa seperti napas Panjang yang tertahan lama. Tidak menggunakan ponsel, tidak ada percakapan, tidak ada tuntutan untuk “menjadi produktif”. Hanya menarik diri, duduk, menutup mata, dan memposisikan diri untuk menyatu dengan yang tak terlihat.

Saya sempat merasakan kejanggalan di awal sesi sharing sowan leluhur tersebut. Apa hubungannya dengan dunia kontemporer saya yang dipenuhi oleh notifikasi dan deadline? Namun, Ki Suryo Alam – salah satu penggiat budaya dan tokoh spiritual di Desa Trowulan, menjelaskan bahwa rasakan alam, dunia, lingkungan sekitar mu, maka kamu akan merasakan pelan pelan dunia akan berubah. Dunia yang bising di kepala, mulai mereda jika melakukan sowan leluhur. Ada suatu rasa ingin, rasa kangen terhadap suatu suasana, suatu tempat, bahkan orang terdahulu yang sudah tiada, dan alam serta dunia akan mendukungmu menuju hal yang dirindu. Hal tersebutlah titik berdirinya tradisi sowan leluhur yang kerap kali dilakukan oleh Ki Suryo Alam.

Dalam keheningan tersebut, sowan leluhur hadir bukan hanya sekedar ritual spiritual saja. Ia adalah cara belajar yang baik untuk hening, untuk belajar mendengarkan bukan dengan telinga, melainkan dengan kesadaran. Ia mengajarkan kita jika hening dan diam bukan berarti pasif, melainkan aktif. Aktif disini dimaksudkan untuk menyadari hubungan antara tubuh, tanah, dunia, alam, dan Sejarah yang melingkupi kita. Seperti yang di jelaskan oleh seorang antropolog, Clifford Geertz, yang menyatakan bahwa agama di tanah Jawa sering kali lebih berupa sistem symbol yang menghubungkan manusia dengan tatanan kosmik. Hal tersebut mungkin benar, karena di Desa Trowulan, saya merasakan bagaimana sowan leluhur ini menjadi semacam jembatan antara manusia modern yang tercabut dengan akar Sejarah dam alamnya.

Ruang Spiritual yang Tak Hilang

Desa Trowulan, Mojokerto dikenal sebagai pusat kejayaan Kerajaan Majapahit, Kerajaan besar yang pernah menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Namun, bagi masyarakat local, Kerajaan Majapahit bukan hanya Sejarah pada buku Pelajaran saja. Ia hidup dalam keseharian masyarakat, dalam doa, dalam ritual kecil yang menandai hubungan manusia dengan masa lalunya. Di tengah reruntuhan candi dan situs arkeologi, tradisi sowan leluhur menjadi sebuah ruang spiritual yang menghidupkan kembali hubungan itu.

Dokumentasi Pribadi, Tempat Sowan Leluhur Berlangsung

Kami diajak secara langsung untuk berkunjung dan masuk kedalam panggung agung tempat bertapanya Eyang Raden Wijaya, tempat ikrar sumpah amukti palapa Eyang Patih Gaja Mada yang terdapat di salah satu wilayah di Desa Trowulan. Tidak seluruhnya ikut, hanya beberapa orang saja yang masuk ke dalam. Ia hanya berkunjung dan melihat serta “berdoa” atau pun “meminta” kepada tempat tersebut untuk tujuan tertentu. Tidak ada ritual yang rumit, hanya keheningan yang mendalam. Ia menunduk, ada sedikit Gerakan bibir, seolah sedang berbicara dengan seorang yang dikenal baik. Di wajahnya tidak ada sedikitpun rasa takut, hanya rasa hormat – dan mungkin juga rindu.

Para tokoh tokoh spiritual seperti Ki Suryo Alam yang ada di Trowulan tidak memaksa orang disekitarnya untuk percaya kepada sowan leluhur tersebut. “Tidak semua yang ada bisa dilihat kadang, yang penting justru malah yang terasa bukan terlihat” Ujar Ki Suryo Alam pada kami. Kalimat tersebut terus terngiang di kepala. Di dunia yang serba visual, kita terbiasa percaya hanya pada yang terlihat saja, seperti data, gambar, dan fakta. Namun, leluhur mengajarkan kita sesuatu yang berbeda. Percaya pada yang tak kasat mata, pada energi, pada ingatan kolektif yang hidup di antara lintas generasi. Kepercayaan ini memang sulit untuk dipahami dan dinalar oleh logika modern. Namun, jika kita melihat dengan sisi lain, praktik ini adalah bentuk lain dari ingatan kolektif atau dikenal dengan istilah (a living memory) yang membuat Sejarah majapahit tetap berdenyut sampai sekarang.

Ruang spiritual di Trowulan berfungsi bukan hanya sebagai tempat kepercayaan lokal untuk beribadah, namun juga sebagai ruang perjumpaan antara manusia dengan nilai-nilai yang tak kasat mata : kesetiaan, penghormata, dan kesinambungan. Saya kemudian teringat ucapan Ki Suryo Alam “leluhur itu tidak pergi kemana-mana. Mereka ya cuman menunggu kita untuk mau datang lagi”. Kalimat itu sangat sederhana, namun menohok. Dalam hiruk pikuk modernitas, kita sering merasa kehilangan arah, bahkan kehilangan rasa kedekatan dengan wilayah sekitar tempat kita berpijak. Sowan leluhur adalah salah satu Upaya untuk kembali, bukan hanya secara fisik, namun juga secara batin. Ruang spiritual seperti ini tidak butuh ramai, ia tidak butuh viral. Ia hanya butuh diingat saja. Karena ketika manusia melupakan akar spiritualnya, yang hilang bukan hanya tradisi, tapi juga jati diri.