Kenapa Otak yang "Mager" Justru Lebih Kreatif?

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Gresi Gutami Geo Vanita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kamu lagi di kamar mandi, air hangat mengalir, tiba-tiba ide brilian melintas? Atau saat lagi jalan pagi tanpa earphone, eh, solusi masalah yang udah berhari-hari mikir tiba-tiba muncul? Itu bukan kebetulan, itu otakmu lagi kerja tanpa kamu sadari.
Kita terbiasa berpikir bahwa kreativitas butuh fokus, kerja keras, dan otak yang "nyala" terus. Padahal, sains bilang sebaliknya saat otak "mager" alias nggak fokus pada tugas tertentu, justru di situlah kreativitas mencapai puncaknya.
Di dalam otak kita ada yang namanya Default Mode Network (DMN). Jaringan ini aktif tepat saat otak nggak sedang fokus pada tugas spesifik saat kamu melamun, mandi, jalan-jalan, atau sekadar rebahan. DMN inilah yang bertanggung jawab atas lamunan, refleksi diri, dan pemikiran kreatif.
Saat kamu menjalani aktivitas sederhana dan berulang seperti mandi, menyetir, atau berjalan kaki DMN menjadi sangat aktif. Jaringan ini mengizinkan otak "berkelana" dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru, tanpa dibatasi oleh pola pikir yang linier dan kaku. Inilah sebabnya ide-ide yang tampak tidak berhubungan tiba-tiba tersambung.
Para peneliti menggunakan istilah "inkubasi" untuk fenomena ini. Saat kamu berhenti secara sadar memikirkan suatu masalah, otak nggak berhenti bekerja ia malah memindahkan tugas ke alam bawah sadar. Alam bawah sadar ini memproses informasi dengan cara yang berbeda dari kesadaran, dan sering kali justru menemukan solusi yang nggak kepikiran sebelumnya.
Penelitian demi penelitian menegaskan kebosanan bisa membuat kita lebih kreatif.
Kebosanan memberi sinyal pada otak bahwa situasi saat ini "tidak cukup" dan perlu perubahan, di sinilah kreativitas mengambil alih. Seperti kata Sandi Mann, alam bawah sadar kita jauh lebih bebas, tidak terikat oleh aturan-aturan kaku yang sering mengekang pemikiran sadar kita.
Meski kebosanan bisa memicu kreativitas, kebosanan kronis adalah hal yang berbeda. Sandi Mann membedakan antara "bosan karena kurang stimulasi" dan "bosan karena hidup terasa tanpa tujuan". Yang kedua ini bisa berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. Jika kamu merasa hidup nggak punya arah meski sibuk, mungkin itu bukan sekadar bosan biasa.
