Konten dari Pengguna

Erupsi Semeru dan Disharmoni Negara: Ketika Luka Sosial Menjadi Luka Kosmik

Rachmad Rofik

Rachmad Rofik

Saya adalah seorang pemerhati sejarah, filsafat, politik, tasawuf, dan ekonomi. Sejak 2014, saya aktif sebagai relawan Jokowi. Selain itu, saya memiliki keahlian dalam 16 thn trading, desain web dan pemrograman. Portofolio trader : s.id/jayadanaapp

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rachmad Rofik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto dari Canva AI buatan sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Foto dari Canva AI buatan sendiri

Erupsi Gunung Semeru pada 20 November 2025 bukan sekadar fenomena geologis. Ia adalah letusan kosmik yang memantulkan luka sosial yang menganga di negeri ini. Dalam tradisi filsafat Timur dan kosmologi Jawa, manusia dan alam tidak pernah dipisah. Keduanya saling beresonansi. Ketidakadilan di tubuh masyarakat akan selalu mencari jalan untuk mengekspresikan diri — bukan hanya melalui gejolak sosial, tetapi juga melalui gejolak alam.

Dalam kerangka itu, letusan Semeru dapat dibaca sebagai manifestasi disharmoni nasional, sebagai “jeritan bumi” yang merespons ketidakadilan struktural yang diciptakan manusia.

Ketidakharmonisan Alam sebagai Cermin Ketidakadilan Negara

Semeru, gunung agung yang dijuluki “Mahameru,” selama berabad-abad menjadi simbol stabilitas dan pusat kosmik. Ketika ia meletus berkali-kali dalam durasi singkat, itu bukan hanya peristiwa vulkanik; itu adalah tanda bahwa keseimbangan besar sedang terganggu.

Dalam filosofi Jawa, alam bukan benda pasif. Ia hidup, ia sensitif. Dan ketika manusia menjalankan kehidupan yang penuh ketimpangan, alam pun ikut bergetar. Ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi menciptakan disharmoni energi yang akhirnya meledak melalui fenomena alam.

Kezaliman Manusia Melahirkan Zulumat Alam

Kezaliman — tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya — melahirkan zulumat: kegelapan. Kegelapan itu bukan metafora; ia adalah energi negatif yang mengalir dari keserakahan manusia, dari kebijakan yang timpang, dari hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Ketika zulumat sosial menumpuk, bumi tidak dapat terus menahannya. Ia memuntahkan kembali energi itu melalui letusan, abu, dan gemuruh yang melukai langit. Erupsi Semeru bisa dipahami sebagai pantulan fisik dari gelapnya moralitas negara.

Ketidakadilan Ekonomi: Bukti Konkret Disharmoni yang Mengakar

Ketidakadilan di negeri ini tidak lagi konseptual — ia mewujud nyata dalam angka-angka ekonomi yang suram. Daya beli masyarakat merosot drastis. Uang tidak lagi beredar di pasar rakyat, tetapi berkutat di lingkaran sempit kalangan elit. Program-program negara yang diklaim untuk rakyat ternyata tidak tepat sasaran, tidak menyentuh buruh, petani, UMKM, dan kelas menengah ke bawah yang menjadi fondasi ekonomi.

Rakyat kehabisan uang bukan karena kurang bekerja atau kurang produktif, tetapi karena struktur kebijakan menempatkan kesejahteraan hanya pada segelintir kelompok. Hasilnya:

• pasar kehilangan pembeli,

• usaha kecil merapuh,

• ekonomi domestik berhenti berdenyut,

• konsumsi rumah tangga — indikator kesehatan ekonomi — jatuh bebas.

Ketika rakyat tidak bisa belanja karena tidak punya uang, itu bukan sekadar masalah ekonomi. Itu adalah tanda retaknya tatanan moral sebuah negara.

Dan dalam kosmologi Nusantara, retaknya moral kolektif akan meretakkan keseimbangan alam.

Resonansi Sosial–Alam: Rakyat Menjerit, Gunung Meletus

Mereka yang paling merasakan dampak erupsi Semeru adalah kelompok yang sama yang paling merasakan ketidakadilan ekonomi: warga kecil di lereng gunung, pekerja informal, pedagang kecil, masyarakat desa yang sejak lama hidup berdampingan dengan alam.

Ini bukan kebetulan. Secara simbolik, Semeru memuntahkan amarahnya di wilayah yang dihuni oleh mereka yang selama ini menahan beban paling berat dari ketidakadilan sosial. Seakan-akan alam menyampaikan pesan:

“Ketika negara tidak adil, rakyat menderita. Ketika rakyat menderita, alam pun ikut bergejolak.”

Erupsi menjadi metafora besar:

rakyat ditekan → gunung meledak;

kesejahteraan menyempit → energi bumi kacau;

uang berputar di elit → aliran energi kosmik tersumbat.

Semeru sebagai Kritik Alam terhadap Struktur Kekuasaan

Letusan Semeru harus dibaca sebagai kritik alam terhadap struktur kekuasaan yang timpang:

1. Kritik terhadap ketimpangan ekonomi — kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elit sementara jutaan rakyat hidup dalam keterpaksaan finansial.

2. Kritik terhadap kebijakan yang tidak menyentuh akar persoalan — program gagal tepat sasaran, bantuan menguap, birokrasi menghambat.

3. Kritik terhadap perlakuan tidak adil terhadap lingkungan — eksploitasi tanah, gunung, hutan, dan energi tanpa etika ekologi.

Dalam kearifan Jawa, ketika negara tidak adil, gunung akan berbicara. Dan Semeru telah berbicara lewat api dan abu.

Penutup: Letusan Bukan Hanya Bencana, tetapi Teguran

Erupsi Semeru 20 November 2025 adalah cermin besar tentang siapa kita sebagai bangsa saat ini. Ia adalah teguran, bukan sekadar bencana. Ia mengingatkan bahwa:

• keadilan adalah fondasi keseimbangan alam,

• ketidakadilan melahirkan kekacauan kosmik,

• dan disharmoni sosial akhirnya memecahkan keheningan gunung.

Jika negara ingin alam kembali tenang, maka rakyat harus diperlakukan adil. Jika struktur sosial ingin stabil, maka energi kosmik harus dipulihkan melalui kebijakan yang benar, distribusi ekonomi yang merata, dan penghormatan terhadap lingkungan.

Semeru bukan hanya gunung yang meletus. Ia adalah suara bumi, suara rakyat, suara kebenaran yang selama ini dibungkam. Dan ketika ia berseru, bangsa ini harus mendengarkan.