Rahasia Tata Ruang Sunda: Alam, Manusia, dan Karuhun dalam Satu Harmoni

Saya adalah seorang pemerhati sejarah, filsafat, politik, tasawuf, dan ekonomi. Sejak 2014, saya aktif sebagai relawan Jokowi. Selain itu, saya memiliki keahlian dalam 16 thn trading, desain web dan pemrograman. Portofolio trader : s.id/jayadanaapp
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rachmad Rofik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar dari Tata Ruang Sunda: Jalan Keluar bagi Daerah yang Terus Terjebak Banjir, Termasuk Gresik
Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tentang pentingnya kembali pada konsep tata ruang Sunda layak mendapat perhatian serius, bukan hanya di Jawa Barat, tetapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia yang sedang mengalami masalah serupa—termasuk Gresik, yang hampir setiap tahun menjadi langganan banjir.
KDM menyebut Sunda sebagai “laboratorium hidup”, sebuah konsep yang menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan tradisi, melainkan kumpulan pengetahuan ekologis yang terbukti mampu menjaga keseimbangan alam. Ini bukan sekadar romantisme budaya, melainkan dasar berpikir yang sangat relevan bagi daerah yang sedang bergulat dengan persoalan tata ruang.
Ketika Kearifan Lokal Mengajarkan Tata Ruang yang Benar
Konsep tata ruang Sunda yang disampaikan KDM—
gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan—
sebenarnya bukan hanya milik masyarakat Sunda. Prinsip-prinsip ekologis itu lazim ditemukan di hampir semua budaya Nusantara, termasuk di Jawa dan Madura, tempat Gresik berada.
Di masa lalu, masyarakat pesisir dan agraris di Gresik juga memahami bahwa hulu harus dijaga, cekungan harus menjadi tampungan air, dan dataran rendah tidak boleh sepenuhnya tertutup bangunan. Namun seiring pembangunan modern yang terlalu berorientasi ekonomi, prinsip-prinsip itu terkikis dan digantikan oleh beton, kavling perumahan, serta alih fungsi lahan yang tidak memperhitungkan daya dukung lingkungan.
Analisis Mendalam Konsep Tata Ruang Sunda
1. Gunung kudu awian
Makna:
Gunung, bukit, dan kawasan hulu harus ditutupi pepohonan lebat—terutama tanaman berkayu seperti damar, puspa, rasamala, atau pohon hutan lainnya.
Fungsi ekologisnya:
• Menahan erosi dan longsor
• Mengikat air hujan agar tidak langsung turun deras ke bawah
• Mengisi ulang air tanah di kawasan hulu
• Mengatur kecepatan aliran air ke hilir
• Menstabilkan suhu dan kelembapan wilayah
Padanan dalam ilmu modern:
• Watershed management
• Konservasi hutan hulu
• Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS)
• Slope stabilization atau pengamanan lereng
Pesan utamanya:
Jika hulu rusak, seluruh wilayah hilir akan menderita.
2. Lengkob kudu balongan
Makna:
Cekungan, lembah, atau depresi alamiah harus dijadikan tempat menampung air: kolam, balong, rawa, atau waduk kecil.
Fungsi ekologisnya:
• Menahan limpasan air hujan agar tidak langsung mengalir deras
• Menjadi “buffer” sebelum air turun ke dataran rendah
• Menyediakan cadangan air untuk kemarau
• Mengurangi risiko banjir bandang
• Menjadi habitat alam dan penjaga keseimbangan mikroklimat
Padanan modern:
• Retention pond (kolam retensi)
• Detention pond (kolam penampung sementara)
• Natural sink atau kantong air
• Kolam resapan & embung
• Low Impact Development (LID) konsep urban hydrology
Pesan utamanya:
Setiap cekungan harus diberi ruang untuk menjadi kantong air, bukan ditutup bangunan.
3. Lebak kudu sawahan
Makna:
Dataran rendah (lebak) sebaiknya dijadikan sawah, bukan kawasan permukiman padat atau industri.
Fungsi ekologisnya:
• Sawah adalah “sponge” yang menyerap air secara perlahan
• Menahan air sementara sebelum dilepas ke sungai
• Menjaga ketahanan pangan
• Menstabilkan suhu wilayah
• Mengurangi beban sistem drainase kota
• Mengurangi banjir di hilir
Padanan modern:
• Ruang terbuka hijau (RTH) produktif
• Green buffer zone
• Kawasan pertanian basah untuk stabilisasi air
• Flood plain zoning (penataan ruang dataran banjir)
Pesan utamanya:
Dataran rendah bukan untuk dibeton, tetapi untuk menyerap air dan memproduksi pangan.
Kesimpulan Utama Analisis
Konsep tata ruang Sunda ini bukan aturan adat biasa—melainkan ilmu ekologis yang dirumuskan melalui observasi ratusan tahun. Ketiganya membentuk satu sistem yang terintegrasi:
• Hulu menjaga air
• Lembah menahan air
• Hilir menyerap air
Jika satu bagian rusak, wilayah akan mengalami banjir, kekeringan, tanah longsor, dan krisis pangan.
Inilah mengapa konsep ini relevan untuk daerah seperti Gresik, Bekasi, Semarang, Bandung, hingga Jakarta—yang hari ini tersiksa karena tata ruang modern mengabaikan kearifan lokal tersebut.
Hasilnya bisa kita lihat sendiri:
banjir menjadi agenda tahunan.
Gresik dan Lingkar Masalah Banjir yang Tak Pernah Usai
Dalam beberapa tahun terakhir, Gresik berkali-kali mengalami banjir besar, terutama di:
• Kecamatan Cerme
• Menganti
• Kedamean
• Driyorejo
• Benjeng
• Bungah dan kawasan pesisir
Situasinya bahkan sering diperburuk oleh kiriman air dari Lamongan dan Mojokerto, serta pertemuan beberapa aliran sungai besar seperti Bengawan Solo, Kali Lamong, dan sejumlah saluran irigasi sekunder.
Namun akar masalahnya bukan hanya cuaca ekstrem atau kiriman air. Masalah paling besar justru ada pada pola tata ruang dan perilaku pembangunan daerah:
• Sempadan sungai disesaki bangunan.
• Daerah cekungan yang seharusnya menjadi “balong alam” ditutup menjadi permukiman.
• Persawahan dialihfungsikan menjadi perumahan dan pabrik.
• Daerah resapan berubah menjadi kawasan komersial.
• Hutan-hutan kecil dan ruang hijau semakin menyempit.
Semua ini mengulang persis kritik KDM terhadap kondisi Jawa Barat.
Apa yang Dibuktikan Sunda, dan Mengapa Gresik Harus Belajar?
Kearifan lokal Sunda menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak dulu sudah memiliki pengetahuan ekologis yang sangat adaptif terhadap kondisi geografisnya. Jika prinsip itu diterapkan di Gresik, polanya kira-kira seperti ini:
• Hulu Lamongan – Mojokerto harus tetap berhutan dan tidak dibebani pembangunan berat.
• Cekungan di Cerme, Menganti, dan Benjeng harus dialokasikan sebagai tampungan air, bukan area pemukiman.
• Dataran rendah produktif seperti Kedamean dan Manyar seharusnya dijaga sebagai sentra pangan dan ruang resapan.
• Sempadan Kali Lamong dan Bengawan Solo harus kembali menjadi ruang terbuka hijau, bukan barisan bangunan.
Dengan kata lain, pengetahuan tradisional yang menjaga keseimbangan air inilah yang hilang dalam tata ruang modern Gresik.
Kearifan Lokal sebagai Penyelamat Daerah Rawan Banjir
Ada alasan mengapa kembali ke budaya adalah langkah yang tepat:
1. Kearifan lokal bukan mitos—itu hasil riset ratusan tahun.
Masyarakat adat mengamati pola air, karakter tanah, dan ritme lingkungan jauh sebelum kita mengenal analisis komputer.
2. Cocok dengan karakter geografis Gresik yang datar dan rentan genangan.
Konsep “balongan” sangat penting di kawasan yang membutuhkan kantong air alami.
3. Menjaga sawah berarti menjaga pangan dan ruang resapan.
Hilangnya sawah di Gresik berbanding lurus dengan meningkatnya risiko banjir.
4. Kebijakan yang selaras dengan budaya lokal lebih mudah diterima masyarakat.
Warga lebih percaya pada konsep yang terbukti dijalankan nenek moyang mereka.
5. Lebih murah daripada proyek solusi teknis yang tidak menyentuh akar masalah.
Bendungan baru hanyalah solusi sementara jika tata ruang tetap salah.
Saatnya Daerah Tidak Malu Belajar dari Kearifan Lokal
Pernyataan KDM seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah Gresik bahwa pembangunan tidak bisa hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Daerah seperti Gresik tidak mungkin bebas banjir selama daerah resapan hilang, sempadan sungai dipenuhi bangunan, dan tata ruang bergerak tanpa mempertimbangkan karakter alam.
Gresik perlu meniru pendekatan Sunda: mengembalikan fungsi ruang seperti sediakala, memulihkan tampungan air, melindungi sawah, dan menghindari pembangunan di wilayah yang secara ekologis tidak stabil.
Belajar dari Sunda bukan berarti meniru budaya, tetapi meniru cara masyarakatnya memahami alam.
Dan untuk daerah seperti Gresik, inilah pelajaran paling penting untuk keluar dari siklus banjir yang tak pernah selesai.
