Bahasa Kasar dan Maskulinitas

Mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Griselda Mahissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seringkali ketika saya melewati warung yang menjadi basecamp anak-anak SMA di dekat rumah, saya mendengar mereka berbicara kata kasar hampir di setiap kalimat yang mereka katakan. “Anj*ng, kemaren gue gini”, “Mony*t emang lu bangs*t!”, dan kalimat lainnya yang sungguh tak mengenakan di alat pendengar. Bukannya saya sok suci karena saya juga terkadang demikian, tetapi rasanya agak kurang pantas bagi anak muda yang sebenarnya bisa berbahasa jauh lebih sopan untuk berkata kasar dan mengumpat sedemikian rupa.

Boleh sesekali mengumpat, tetapi apa harus kita selalu mengumpat di setiap kata yang keluar dari mulut kita? Apalagi jika umpatan dan kata-kata kasar tersebut keluar di hadapan yang lebih tua, bagaimana perasaan mereka mendengar hal demikian? Pun mereka biasa saja terkait hal tersebut karena sudah terbiasa, tapi tetap hal itu tidak dapat dibenarkan karena tidak sopan.
Beberapa orang menganggap bahwasanya menggunakan bahasa kasar itu merupakan suatu hal yang keren, apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh seorang laki-laki. Mengumpat bagi laki-laki seperti aksesoris yang penting karena ia akan terlihat macho jika menggunakan umpatan atau bahasa kasar ketika berbicara. Jika mereka tidak mengumpat, maka maskulinitas mereka akan menurun sehingga terkadang laki-laki yang berbahasa lemah lembut tersebut dikatai banci oleh mereka yang merasa tingkat maskulinitas mereka di atas laki-laki seperti itu. Padahal, bahasa kasar tidak ada hubungannya dengan kemaskulinan laki-laki.
Lalu darimana anggapan berbahasa kasar bagi laki-laki adalah hal yang keren? Usut punya usut, ia datang dari anggapan bahwasanya laki-laki maskulin haruslah garang dan kasar agar terlihat kuat. Seperti halnya di sinetron-sinetron romansa remaja sekarang ini yang lebih banyak menggambarkan laki-laki maskulin sebagai mereka yang berbadan kekar dan kuat, dapat berkelahi, dan juga identik dengan rokok. Tak lupa mereka juga sering menggunakan kata kasar yang berakhir memberikan pandangan bahwasanya berbahasa kasar identik dengan kemaskulinan laki-laki.
Anggapan seperti ini cukup berbahaya bila dipelihara. Jika sekarang belum ada yang berani untuk berkata kasar sedemikian rupa pada kepada orang tuanya, bisa saja di masa depan anak-anak lelaki berani untuk berkata seperti itu jika dibiarkan. Normalisasi terhadap laki-laki yang berkata kasar perlu dihentikan agar kualitas berbahasa pemuda kita jauh lebih membaik ke depannya. Semoga masa depan dengan berbahasa yang baik masih bisa kita pertahankan.
