Pink Floyd, Pendidikan, dan Kekerasan Simbolik

Dosen Tutor prodi Sosiologi, Universitas Terbuka. Menggelayuti tema-tema budaya populer seperti film, musik, sastra, hingga sepak bola.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Gunawan Wibisono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membangun negara maju bukan saja soal ketahanan ekonomi politik belaka. Melainkan, kemajuan dalam bidang pendidikan. Negara-negara maju tentunya adalah negara-bangsa yang akrab dengan ilmu pengetahuan. Baik itu sains, seni, dan sastra. Maka dari itu, sebagaimana fitrahnya, filsafat pendidikan mengarah pada pengembanganan potensi-potensi manusiawi. Potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Agar, harapannya, potensi-potensi ini menjadi nyata dan bermanfaat bagi perjalanan hidup kita.
Namun, rasa-rasanya sistem pendidikan kita masih belum mengarah sampai ke situ. Paling tidak, berdasar pengalaman sekira dua puluh tahun lebih saya mengenyam pendidikan di negeri ini. Setelah saya ingat-ingat kembali, selama saya merasakan pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas, sering sekali saya menjumpai kekerasan-kerasan yang terjadi bahkan pada diri saya sendiri. Saat saya SD, yang paling melekat dalam benak saya yaitu mata pelajaran agama. Di mana di dalamnya, terdapat materi-materi hafalan surat-surat Al-Qur’an. Saya ingat, saat itu siswa-siswa yang tidak hafal, siap-siap terkena serangan penggaris kayu sepanjang satu meter pada bagian paha atau kakinya. Tidak jarang penggaris kayu itu remuk dan patah.
Ada juga mata pelajaran bahasa inggris. Jika sang guru geregetan dengan muridnya yang asyik ngobrol sendiri, ia tak segan untuk mencubit lengan muridnya hingga biru lebam. Atau yang pernah saya alami juga, karena lupa tak membawa perlengkapan sekolah, saya dipaksa untuk lari-lari kecil di lapangan sebanyak 25 kali putaran. Untung saja, ibu saya rajin memberikan asupan makanan empat sehat lima sempurna, jadi saya tidak pingsan dalam masa penghakiman. Memang, beberapa hal tersebut terjadi karena kelalaian siswa. Tapi kemudian, apakah hukuman bergaya militeristik seperti itu relevan dengan pengembangan pendidikan? Saya rasa tidak.
Namun demikian, produksi kekerasan yang terjadi di sekolah tak hanya berhenti pada kekerasan-kekerasan fisik. Kekerasan yang sifatnya tak kasat mata juga terjadi dalam sistem pendidikan kita. Sosiolog berkebangsaan Prancis, Pierre Bourdieu menyebutkan ada bentuk lain dari kekerasan. Ia menyebutnya sebagai la violence symbolique atau kekerasan simbolik. Sebentuk kekerasan tak kasat mata yang hanya bisa dilihat dengan telaah kritis dari si korban. Repotnya, bagi si korban, hal semacam ini tidak dirasakan sebagai kekerasan. Atau dianggap sesuatu yang wajar, bahkan harus terjadi. Saya mengambil dua contoh kasus kekerasan simbolik yang terjadi di sekolah: Pertama soal seragam, kedua ihwal belenggu pikiran.
Setiap tahun ajaran baru, orang tua murid direpotkan dengan beragam biaya sekolah anak-anaknya. Salah satunya adalah biaya seragam sekolah. Tidak jarang, praktik ‘penyeragaman’ dengan seragam sekolah itu dijual langsung oleh pihak sekolah. Sialnya, bagi murid-murid yang tak melengkapi seragamnya bakal terkena sanksi hukuman. Padahal, secara umum kemampuan ekonomi orang tua murid bisa dipastikan tidak sama. Hal semacam ini yang bisa membuat murid memiliki rasa minder dan rendah diri. Selain itu, konstruksi seragam sekolah juga masih perlu dikaji lebih dalam.
Kemudian soal belenggu pikiran. Disengaja atau tidak disengaja, guru kerap kali menjadi pelaku atas kekerasan simbolik di sekolah. Mungkin padatnya kurikulum yang dianut oleh negeri ini menjadikan guru mengambil ‘jalan pintas’ dalam proses kejar setoran proses belajar-mengajar. Sehingga yang terjadi adalah guru menjadi menara gading pengetahuan bagi siswa-siswanya. Guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak-anak didiknya. Hal ini menurut pemikir pendidikan, Paulo Freire, tak lebih dari sekadar penindasan kepada siswa. Siswa diposisikan sebagai bejana kosong dan wadah penampungan. Siswa menjadi terbelenggu karena yang harus mereka lakukan adalah menyimak, menerima, mencatat, dan menyimpan. Tak ada proses dialektis belajar-mengajar antara guru dan siswa.
Dalam konteks budaya populer, peristiwa-peristiwa semacam itu telah dipotret oleh grup musik psychedelic rock kenamaan asal London, Pink Floyd. Pada tahun 1979, Pink Floyd merilis album bertajuk The Wall. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Another Brick in The Wall. Sebuah elegi yang mengkritik sistem pendidikan di Inggris kala itu. Salah satu penggalannya adalah: We don’t need no education/we don’t need no thought control/no dark sarcasm in the classroom/teachers leave them kids alone/all in all it's just another brick in the wall. Pink Floyd menarasikan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan dengan istilah ada batu bata besar tak kasat mata yang menempel di dinding sekolah, yaitu antara lain belenggu pikiran dan sarkasme.
Dua contoh kasus kecil tadi bisa jadi pijakan untuk kita, bahwa, pendidikan harus bersifat membebaskan. Seperti apa yang digagas oleh Paulo Freire. Sebaiknya, pendidikan bergaya deskriptif sebaiknya diubah ke arah pendidikan dialogik-transformatif. Agar pendidikan tidak dirasakan sebagai sesuatu yang membelenggu. Dengan metode dialogik-transformatif ini, peserta didik diharapkan memiliki kualitas pribadi yang mampu berpikir kritis, berkualitas secara sosial, kualitas kemandirian, dan kualitas kemasyarakatan.
Dengan adanya kemajuan teknologi digital, tentunya perlahan akan menambah peluang perubahan pada sistem pendidikan kita. Semakin banyaknya alternatif media pembelajaran juga bisa merangsang daya kreativitas pengajar maupun pembelajar. Tidak hanya itu, siswa maupun mahasiswa juga mampu mengembangkan diri dengan mencari sebanyak-banyaknya referensi maupun media pembelajaran yang tersedia berceceran di alam maya. Meskipun, tak bisa dipungkiri penggunaan akses digital masih perlu ekstra pengawasan. Di hari-hari depan, semoga tak ada lagi penggaris kayu yang patah atau kekerasan-kekerasan lainnya yang terjadi di sekolah. Dari dalam ruang remang, kita semua menyambut jalan terang pendidikan yang menggairahkan.
