Di Tengah Laut dan di Tengah Orang-Orang

Gunawan Hatmin adalah seorang akademisi alumni pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Gunawan Hatmin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang baru saya sadari setelah kapal benar-benar bergerak, begitu dermaga menghilang dari pandangan, tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan selain menunggu.
Sepanjang minggu-minggu sebelumnya, hidup saya penuh dengan hal-hal yang harus segera diselesaikan, daftar yang harus dicoret satu per satu, telepon yang harus diangkat, kertas yang harus ditandatangani. Tapi begitu kapal mulai membelah laut, semua kesibukan itu berhenti mendadak, seperti musik yang tiba-tiba dimatikan di tengah lagu. Yang tersisa hanya saya, laut, dan orang-orang yang sama-sama duduk menunggu sesuatu yang belum jelas bentuknya.
Saya kira, di titik itu, saya akan merasa lega. Nyatanya tidak sepenuhnya begitu. Ada rasa aneh yang datang bersama kelegaan itu semacam kekosongan yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya terbiasa dengan waktu yang penuh. Waktu yang kosong, yang tidak menuntut apa-apa, ternyata punya caranya sendiri untuk terasa berat.
Saya berdiri di geladak, memegang pagar besi yang dingin meski udara cukup hangat, dan menatap air yang bergerak menjauh dari lambung kapal. Saya berpikir, ini baru hari pertama. Masih ada beberapa hari lagi sebelum kami sampai. Dan entah kenapa, pikiran itu bukannya membuat saya cemas justru membuat saya penasaran. Bagaimana rasanya menghabiskan begitu banyak waktu di tempat yang tidak punya arah selain maju?
Hari kedua, saya mulai memperhatikan pola. Orang-orang dalam rombongan, yang di darat mungkin akan saya kenal lewat jabatan atau perannya masing-masing, di atas kapal semuanya berubah jadi lebih sederhana. Kami semua sama-sama tidak tahu di mana harus duduk yang nyaman. Kami semua sama-sama mengantre untuk makan. Kami semua sama-sama terganggu tidurnya oleh suara mesin yang tidak pernah berhenti berdengung.
Ada semacam kesetaraan yang muncul begitu saja, tanpa ada yang mengumumkannya. Saya ingat seorang bapak yang di darat selalu tampak serius dan agak sulit didekati, tapi di kapal, saya melihatnya duduk bersila di lantai geladak, main kartu remi dengan beberapa peserta yang jauh lebih muda darinya, tertawa lepas setiap kali kalah. Saya tidak pernah membayangkan akan melihatnya seperti itu. Rasanya seperti melihat seseorang melepas jaket yang selama ini dipakainya, dan ternyata di baliknya dia jauh lebih santai dari yang saya kira.
Saya mulai bertanya-tanya, kenapa hal semacam ini bisa terjadi begitu cepat. Di darat, butuh waktu berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun untuk benar-benar mengenal seseorang di luar perannya. Di kapal, hanya butuh dua hari. Saya pikir mungkin karena di darat kita selalu punya tempat untuk mundur. Ada rumah untuk pulang, ada kamar untuk menutup pintu, ada rutinitas yang bisa jadi alasan untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain. Di laut, tidak ada tempat mundur semacam itu. Kita semua terjebak dalam ruang yang sama, mau tidak mau, dan mungkin justru karena terjebak itulah kita akhirnya benar-benar saling melihat.
Malam di laut punya suasana yang sulit saya jelaskan kepada orang yang belum pernah mengalaminya. Tidak ada lampu kota yang mengganggu langit, jadi bintang-bintang muncul dengan jumlah yang membuat saya berdiri lama sekali hanya untuk menatapnya. Beberapa dari kami biasa berkumpul di geladak selepas makan malam, duduk berjejer menyandar ke dinding kapal, berbicara tentang apa saja kadang serius, kadang benar-benar tidak penting, dan anehnya, keduanya terasa sama berharganya.
Saya ingat satu malam ketika seseorang bertanya, "Kalau kalian bisa memilih, mau tinggal di laut terus atau buru-buru sampai?" Pertanyaan itu terdengar sepele, tapi jawaban-jawaban yang muncul membuat saya diam cukup lama. Ada yang bilang ingin cepat sampai karena rindu keluarga. Ada yang bilang justru ingin memperlambat waktu, karena tahu begitu sampai, semua orang akan sibuk lagi dengan urusan masing-masing, dan momen duduk bersama seperti ini tidak akan terulang dengan cara yang sama.
Saya tidak menjawab malam itu. Tapi dalam hati, saya condong ke jawaban kedua. Bukan karena saya tidak ingin sampai, saya juga punya tugas yang menunggu, tanggung jawab yang harus saya selesaikan begitu kami tiba. Tapi ada sesuatu dalam keadaan "belum sampai" ini yang terasa jujur dengan cara yang jarang saya temui. Semua orang sedang berada di posisi yang sama, sama-sama dalam perjalanan, sama-sama belum tiba, sama-sama tidak punya kendali penuh atas kapan semuanya akan berakhir. Ada kelegaan aneh dalam ketidakberdayaan bersama semacam itu.
Tentu saja, tidak semuanya nyaman. Ada hari ketika ombak lebih besar dari biasanya, dan hampir separuh rombongan mabuk laut. Saya salah satunya. Saya ingat berbaring di kasur sempit, kepala berputar, perut terasa seperti diaduk, dan satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menahan diri agar tidak semakin parah. Di saat seperti itu, saya benar-benar merasa kecil. Laut yang tadinya terasa indah untuk dipandang, tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar dan tidak peduli dari saya kira.
Tapi justru di hari-hari sulit seperti itulah saya melihat sisi lain dari kebersamaan yang tumbuh di kapal. Ada yang membawakan air hangat tanpa diminta. Ada yang menawarkan obat anti mabuk yang dibawanya dari rumah, padahal kami baru saling kenal beberapa hari. Ada yang duduk sebentar di samping tempat tidur saya, tidak banyak bicara, hanya memastikan saya tidak sendirian menghadapi rasa tidak enak badan itu.
Saya pikir, kalau saya mengalami hal yang sama di rumah, saya mungkin akan menghadapinya sendirian bukan karena tidak ada orang yang peduli, tapi karena di darat, orang-orang punya urusan masing-masing yang menuntut perhatian mereka. Di laut, untuk sementara waktu, urusan itu ditangguhkan. Yang tersisa hanya kami, dan kesediaan untuk saling menjaga karena memang tidak ada hal lain yang lebih mendesak untuk dikerjakan.
Ada satu momen yang sampai sekarang masih sering saya putar ulang dalam ingatan. Suatu sore, ketika matahari mulai turun dan langit berubah warna dari kuning ke jingga lalu ke ungu tua, saya berdiri di geladak sendirian, mencoba menikmati waktu yang jarang saya beri untuk diam saja tanpa memikirkan daftar tugas. Tidak lama kemudian, beberapa orang dari rombongan datang satu per satu, tanpa janjian, seolah semua orang punya insting yang sama untuk tidak melewatkan matahari terbenam hari itu.
Kami berdiri berjejer, tidak banyak bicara, hanya menatap ke arah yang sama. Saya ingat berpikir, ini aneh beberapa hari lalu, sebagian dari kami bahkan belum saling tahu nama. Sekarang kami berdiri berdampingan, diam bersama, menyaksikan sesuatu yang sama-sama membuat kami terpaku. Ada semacam kedekatan yang tidak butuh kata-kata untuk dijelaskan. Kami tidak sedang berbicara tentang apa pun yang penting, tapi entah kenapa, momen itu terasa lebih penting daripada banyak percakapan panjang yang pernah saya alami di darat.
Saya kira di situlah saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pikirkan, bahwa kebersamaan tidak selalu butuh alasan besar untuk tumbuh. Kadang ia tumbuh justru dari hal-hal kecil yang dibagi bersama matahari yang sama, angin yang sama, rasa lelah yang sama, dan kesediaan untuk berdiri di tempat yang sama tanpa terburu-buru pergi.
Saya juga mulai memperhatikan bagaimana laut mengubah cara orang bicara tentang diri mereka sendiri. Di darat, obrolan sering berkutat pada hal-hal yang aman pekerjaan, rencana, hal-hal praktis yang tidak terlalu menyingkap banyak dari diri seseorang. Di kapal, entah karena bosan atau karena suasana yang memang berbeda, orang-orang mulai bercerita hal-hal yang lebih dalam. Seseorang bercerita tentang alasan sebenarnya kenapa dia ingin ikut perjalanan ini, yang ternyata jauh lebih personal daripada yang pernah dia bagikan di rapat-rapat persiapan. Ada yang bercerita tentang keluarganya, tentang harapan yang belum tercapai, tentang ketakutan yang selama ini disimpan rapat-rapat.
Saya sendiri, entah kenapa, jadi lebih mudah bicara tentang hal-hal yang biasanya saya simpan sendiri. Mungkin karena tidak ada yang perlu dijaga citranya di tengah laut. Semua orang sama-sama berantakan rambutnya karena angin, sama-sama memakai baju yang sama beberapa hari berturut-turut, sama-sama tidak sempat terlihat sempurna. Ketika penampilan tidak lagi jadi sesuatu yang perlu dijaga, entah kenapa, kejujuran jadi lebih mudah keluar.
Saya pikir ini yang membuat perjalanan di laut terasa berbeda dari perjalanan lain. Bukan hanya karena jaraknya jauh atau waktunya lama, tapi karena kondisi di dalamnya memaksa kita melepaskan lapisan-lapisan yang biasa kita pakai untuk menjaga jarak dari orang lain. Dan begitu lapisan-lapisan itu lepas, yang tersisa adalah versi diri kita yang lebih sederhana mungkin juga lebih jujur.
Dan di antara semua kejujuran yang perlahan muncul di kapal itu, ada satu kejujuran yang paling sulit saya akui, bahkan kepada diri saya sendiri.
Ada kisah yang selama ini saya simpan di bagian paling dalam dari cerita perjalanan ini kisah yang tidak dimulai di pelabuhan, dan tidak dimulai pula di atas kapal. Kisah ini dimulai jauh sebelum itu, ketika saya pertama kali benar-benar mengenalnya.
Saya menyebutnya "benar-benar mengenal" karena ada perbedaan antara sekadar tahu nama seseorang dan benar-benar memahami cara dia berpikir, cara dia diam ketika sedang lelah, cara dia tertawa ketika sesuatu benar-benar membuatnya senang, bukan sekadar basa-basi. Waktu itu, kami menghabiskan banyak waktu untuk saling komunikasi tentang hal-hal besar dan hal-hal kecil, tentang rencana hidup dan ketakutan yang jarang kami akui kepada orang lain.
Saya belajar banyak tentang dirinya, dan saya rasa dia pun belajar banyak tentang saya. Ada kedekatan yang tumbuh waktu itu, jenis kedekatan yang tidak mudah saya temukan pada orang lain.
Tapi hidup, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk menguji apa yang sedang tumbuh. Entah karena kesibukan, entah karena jarak, entah karena hal-hal kecil yang menumpuk tanpa sempat diselesaikan, komunikasi kami perlahan meredup. Tidak ada pertengkaran besar yang menjadi sebabnya. Yang terjadi lebih menyakitkan justru karena kesederhanaannya, kami hanya berhenti bicara. Pesan yang tadinya dibalas cepat, mulai butuh waktu lebih lama. Lalu semakin lama. Sampai akhirnya, tanpa ada yang benar-benar memutuskan untuk mengakhiri, kami sama-sama diam.
Saya tidak akan berpura-pura bahwa masa itu mudah. Ada hari-hari saya bertanya-tanya bagaimana kabarnya, tanpa berani bertanya langsung. Ada saat saya membaca ulang percakapan lama, mencoba memahami di titik mana semuanya mulai berubah. Tapi waktu terus berjalan, dan saya belajar untuk menerima bahwa mungkin memang seperti itu jalannya, sebagian kedekatan tidak selalu berakhir dengan alasan yang jelas, ia hanya berakhir, dan yang tersisa hanyalah kenangan yang sesekali muncul tanpa diundang.
Karena itulah, ketika saya tahu dia menjadi bagian dari rombongan Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores yang sama dengan saya, ada perasaan yang sulit saya jelaskan. Campuran antara terkejut, gugup, dan sesuatu yang menyerupai harapan yang selama ini saya coba padamkan. Saya sempat berpikir, mungkin ini hanya kebetulan administratif, dua nama yang muncul di daftar yang sama, tidak lebih. Tapi semakin dekat hari keberangkatan, semakin saya sulit meyakinkan diri saya sendiri bahwa ini sekadar kebetulan biasa.
Hari pertama bertemu kembali, di antara kesibukan persiapan keberangkatan, saya ingat betul rasa canggung yang muncul begitu saja. Kami saling menyapa dengan sopan, seperti dua orang yang pernah dekat tapi kini harus menemukan lagi cara untuk bicara satu sama lain. Tidak ada yang menyinggung tentang masa lalu. Kami hanya bicara seperlunya, tentang jadwal, tentang perlengkapan, tentang hal-hal teknis yang aman untuk dibicarakan. Tapi di balik kecanggungan itu, saya bisa merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.
Begitu kapal berangkat dan hari-hari mulai terasa panjang, jarak yang sempat terbentuk di antara kami perlahan mengecil, hampir tanpa saya sadari kapan tepatnya itu terjadi. Mungkin karena ruang kapal yang sempit memaksa kami sering berpapasan. Mungkin karena suasana laut yang membuat orang lebih mudah jujur, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Atau mungkin karena, jauh di dalam hati, kami berdua sama-sama tidak benar-benar ingin jarak itu tetap ada.
Saya mulai memperhatikannya lagi, dengan cara yang berbeda dari sekadar memperhatikan peserta lain dalam rombongan. Saya memperhatikan apakah dia sudah makan. Saya memperhatikan apakah dia tidur cukup, mengingat kapal yang terus bergoyang bisa membuat malam-malam jadi tidak nyaman bagi siapa saja. Saya memastikan, sebisa mungkin, bahwa dia berada di tempat yang aman setiap kali kami berpindah dari satu titik ke titik lain, baik di atas kapal maupun ketika kami turun menyusuri Larantuka, Lembata, dan Kedang. Saya tidak melakukan itu karena ada yang meminta. Saya melakukannya karena, entah kenapa, menjaga kenyamanannya terasa seperti hal paling wajar yang bisa saya lakukan dengan waktu saya.
Ada momen-momen kecil yang, bagi orang lain, mungkin tidak berarti apa-apa, tapi bagi saya terasa seperti potongan-potongan yang perlahan menyusun kembali sesuatu yang sempat retak. Menyisihkan porsi makan untuknya ketika dia terlambat datang ke ruang makan karena masih menyelesaikan tugasnya. Mengingatkannya untuk istirahat ketika saya lihat dia terlalu lama duduk memikirkan sesuatu sendirian. Menanyakan kabarnya bukan sebagai basa-basi, tapi karena saya benar-benar ingin tahu jawabannya. Hal-hal kecil semacam itu, yang dulu mungkin terasa biasa saja di antara kami, sekarang terasa seperti sesuatu yang saya perjuangkan kembali, pelan-pelan, tanpa terburu-buru.
Kami tidak langsung membicarakan apa yang pernah terjadi di antara kami. Butuh beberapa hari sebelum salah satu dari kami cukup berani untuk menyinggungnya, dan ketika akhirnya percakapan itu terjadi, rasanya seperti membuka jendela yang sudah lama tertutup rapat, ada udara segar yang masuk, tapi juga debu lama yang ikut terangkat. Kami bicara tentang kenapa komunikasi kami dulu meredup, tentang penyesalan yang selama ini kami simpan sendiri-sendiri, tentang bagaimana rasanya bertemu kembali dengan cara yang sama sekali tidak kami rencanakan.
Saya ingat mengatakan padanya, bahwa saya percaya tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan. Saat itu saya mengucapkannya dengan agak ragu, khawatir terdengar terlalu berlebihan. Tapi semakin hari berlalu di atas kapal, semakin saya yakin bahwa memang ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar jadwal keberangkatan dan daftar peserta yang menyatukan kami kembali di ruang yang sama. Saya menyebutnya takdir Tuhan, karena saya tidak menemukan kata lain yang lebih tepat untuk menjelaskan bagaimana dua orang yang sempat kehilangan arah satu sama lain, bisa dipertemukan kembali justru di tengah laut, jauh dari tempat mana pun yang biasa kami sebut rumah.
Perlahan, kami mulai menyusun kembali sesuatu yang sempat terhenti. Bukan dengan terburu-buru, bukan dengan janji-janji besar yang diucapkan begitu saja. Kami membangunnya dengan cara yang sama seperti kedekatan yang tumbuh di atas kapal pada umumnya, pelan, jujur, dan tanpa banyak berpura-pura. Kami mulai bicara tentang apa yang kami inginkan ke depan, bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi. Ada semacam kesepakatan diam-diam yang tumbuh di antara kami, bahwa kali ini, kami tidak ingin membiarkan jarak dan kesibukan mengikis apa yang sedang kami bangun kembali.
Sepanjang sisa perjalanan, saya terus menjaga kebiasaan itu, memastikan dia makan dengan teratur, memastikan dia tidur cukup meski laut kadang tidak bersahabat, memastikan dia merasa aman setiap kali kami berpindah tempat. Bukan karena saya merasa dia lemah atau tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Justru sebaliknya, saya tahu dia orang yang kuat dan mandiri. Tapi menjaganya adalah cara saya menunjukkan sesuatu yang belum sepenuhnya berani saya ucapkan dengan kata-kata: bahwa saya tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya, dan bahwa kali ini, saya ingin benar-benar hadir untuknya, bukan hanya ada di dekatnya.
Hari-hari terakhir sebelum kapal merapat, suasana mulai berubah. Orang-orang mulai membicarakan apa yang akan mereka lakukan begitu sampai, siapa yang akan mereka temui, urusan apa yang menunggu. Saya menyadari, kami mulai bersiap untuk kembali menjadi diri kami yang lama, versi diri yang punya peran, punya jadwal, punya jarak yang biasa kami jaga dari orang lain.
Ada rasa sedih yang samar tapi nyata setiap kali saya memikirkan itu. Bukan karena saya tidak ingin sampai. Tapi karena saya tahu, begitu kami menginjak daratan, kedekatan yang tumbuh di kapal, kedekatan seluruh rombongan, dan kedekatan yang lebih personal antara saya dan dia, akan diuji oleh kenyataan bahwa kami akan kembali sibuk, kembali punya urusan masing-masing. Kekhawatiran itu sempat muncul dengan jelas: apakah apa yang kami bangun kembali di atas kapal ini akan bertahan begitu kami menginjak daratan, kembali pada rutinitas yang dulu pernah membuat kami perlahan menjauh.
Tapi kali ini terasa berbeda. Kami sudah bicara tentang itu. Kami sudah sepakat untuk tidak membiarkan kesibukan menjadi alasan untuk diam lagi. Ada komitmen yang, meski belum sempurna dan masih harus terus dijaga, terasa jauh lebih kokoh daripada sebelumnya, karena kali ini, kami membangunnya dengan kesadaran penuh atas apa yang pernah hilang, dan seberapa besar usaha yang dibutuhkan untuk tidak mengulang kehilangan yang sama.
Saya ingat malam terakhir di atas kapal, saya duduk di geladak cukup lama, mencoba menyerap sebanyak mungkin suasana itu sebelum semuanya berubah. Saya berpikir, mungkin inilah yang membuat perjalanan laut terasa begitu berharga bukan karena jaraknya, bukan karena pemandangannya, tapi karena ia memberi kami waktu yang jarang kami dapatkan di darat: waktu untuk benar-benar hadir bersama orang lain, dan bersamanya secara khusus, tanpa gangguan, tanpa alasan untuk buru-buru pergi.
Ketika akhirnya daratan mulai terlihat di kejauhan, saya merasakan campuran perasaan yang aneh. Ada lega, karena perjalanan panjang ini akhirnya mendekati ujungnya. Tapi ada juga semacam kehilangan yang mulai terasa lebih dulu, bahkan sebelum kami benar-benar berpisah.
Saya melihat beberapa orang dalam rombongan berdiri di geladak, memandang daratan yang semakin jelas, dengan ekspresi yang sulit saya baca, antara senang dan enggan.
Saya berdiri di sana bersamanya, dan untuk sesaat kami tidak bicara apa-apa. Saya pikir, mungkin itulah yang terjadi setiap kali sesuatu yang berharga mendekati akhirnya. Kita ingin sampai, tapi juga tidak ingin ia selesai. Kita menunggu-nunggu daratan, tapi diam-diam berharap laut sedikit lebih panjang dari yang seharusnya, dan diam-diam pula berharap, apa pun yang sudah kami mulai susun kembali di atas kapal ini, tidak akan berhenti begitu saja begitu kaki kami menginjak tanah.
Sekarang, ketika saya mengingat kembali hari-hari di atas kapal, saya sadar bahwa yang paling saya ingat bukan pemandangannya, meski pemandangannya memang indah. Yang paling saya ingat adalah orang-orangnya. Cara mereka tertawa di tengah rasa lelah. Cara mereka saling menjaga tanpa diminta. Cara kami semua, tanpa sengaja, membangun sesuatu yang terasa seperti keluarga sementara keluarga yang lahir bukan dari darah, bukan dari sejarah panjang, tapi dari kesediaan untuk sama-sama berada di ruang yang sama, dalam waktu yang sama, menghadapi hal yang sama.
Dan di antara semua itu, yang paling saya syukuri adalah kesempatan untuk dipertemukan kembali dengannya, di waktu dan tempat yang sama sekali tidak saya rencanakan. Saya menyebutnya takdir, karena hanya kata itu yang cukup besar untuk menampung rasa syukur saya. Perjalanan yang tadinya hanya saya bayangkan sebagai tugas dan tanggung jawab, ternyata juga menjadi ruang di mana sesuatu yang pernah hilang, dipertemukan kembali dengan cara yang paling tidak terduga.
Saya pikir, ada pelajaran yang saya bawa pulang dari sana, meski saya tidak selalu bisa merumuskannya dengan rapi. Bahwa kedekatan tidak selalu butuh waktu lama untuk tumbuh kadang ia hanya butuh ruang yang cukup sempit dan waktu yang cukup lama untuk memaksa kita berhenti menjaga jarak. Bahwa laut, yang tampaknya kosong dan tidak berarti apa-apa selain jarak yang harus ditempuh, sebenarnya bisa jadi salah satu tempat paling penuh yang pernah saya alami penuh dengan orang, dengan cerita, dengan momen kecil yang tidak akan pernah bisa saya alami dengan cara yang sama lagi. Dan penuh, secara khusus, dengan kesempatan kedua yang tidak pernah saya minta, tapi tetap diberikan.
Dan mungkin itulah yang membuat saya, sampai sekarang, masih sering berhenti sejenak setiap kali melihat laut dari kejauhan. Bukan karena saya rindu ombaknya. Tapi karena saya rindu cara laut itu membuat saya, untuk beberapa hari, benar-benar hadir di tengah orang-orang, tanpa jarak, tanpa peran, tanpa alasan untuk buru-buru pergi ke mana pun. Dan rindu, yang paling dalam, pada cara laut itu mengembalikan seseorang yang pernah saya kira sudah tidak akan pernah saya temui lagi.
