Sains, Teknologi & Keimanan

Gunawan Hatmin adalah seorang akademisi alumni pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Gunawan Hatmin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu saya menggunakan teknologi untuk mencari jawaban atas sesuatu yang tidak saya pahami. Saya tinggal mengetik beberapa kata, lalu dalam hitungan detik muncul jawaban yang cukup panjang. Ada penjelasan, contoh, bahkan rujukan yang bisa saya baca lebih lanjut. Saya kemudian berpikir, hebat juga manusia sekarang.
Dulu, kalau ingin mencari jawaban, kita harus membuka buku. Kalau tidak punya bukunya, kita harus pergi ke perpustakaan. Kalau pertanyaannya sulit, kita mencari orang yang dianggap lebih tahu. Sekarang? Cukup buka telepon genggam.
Bahkan kalau tidak tahu harus bertanya kepada siapa, kita bisa bertanya kepada mesin. Teknologi memang membuat banyak hal menjadi jauh lebih mudah.
Saya bisa menghubungi seseorang yang berada di tempat yang sangat jauh tanpa harus pergi ke sana. Saya bisa membaca buku tanpa harus membawa buku setebal batu bata. Saya bisa belajar banyak hal hanya dari sebuah layar kecil yang setiap hari ada di tangan.
Jujur saja, saya termasuk orang yang sangat terbantu oleh teknologi. Tetapi justru karena itu saya mulai bertanya-tanya. Sebab masalah manusia sekarang bukan lagi karena tidak mempunyai informasi. Informasi ada di mana-mana.
Kita bisa mencari hampir apa saja. Mau belajar bahasa, ada aplikasinya. Mau membaca jurnal, ada internet. Mau belajar agama, ada banyak kajian. Mau belajar sains, ada banyak video. Mau bertanya tentang sesuatu, ada mesin yang siap menjawab. Tetapi ternyata banyak informasi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana. Ini yang menarik.
Kita bisa membuat teknologi yang mampu mendeteksi penyakit, tetapi juga bisa membuat teknologi yang membuat orang kecanduan. Kita bisa membuat media sosial yang menghubungkan jutaan orang, tetapi pada saat yang sama membuat banyak orang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Kita bisa membuat kecerdasan buatan yang mampu menjawab banyak pertanyaan, tetapi masih kesulitan menjawab pertanyaan yang paling penting, untuk apa semua kemampuan itu digunakan?
Di sinilah saya kira keimanan menjadi penting. Bukan karena iman harus melawan sains. Justru sebaliknya.
Sains membantu manusia memahami bagaimana alam bekerja. Teknologi membantu manusia menggunakan pengetahuan itu untuk kehidupan. Tetapi keduanya tidak selalu menjawab pertanyaan tentang tujuan. Misalnya begini. Sains bisa menjelaskan bagaimana tubuh manusia bekerja. Teknologi bisa membantu dokter mengobati penyakit. Tetapi sains tidak sendirian menentukan apakah sebuah pengetahuan seharusnya digunakan atau tidak.
Ada persoalan etika di sana, Ada persoalan tentang manusia, Ada persoalan tentang baik dan buruk. Di situlah iman dan nilai agama mempunyai tempat. Saya kira kita tidak perlu takut kepada sains.
Kalau kita percaya bahwa alam adalah ciptaan Tuhan, maka mempelajari alam seharusnya tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Mempelajari air, misalnya, membuat kita mengetahui bagaimana air bergerak, menguap, turun sebagai hujan, dan menjadi bagian dari kehidupan.
Mempelajari tumbuhan membuat kita memahami bagaimana sebuah biji yang kecil bisa tumbuh menjadi sesuatu yang memberi makanan kepada manusia. Mempelajari tubuh manusia membuat kita mengetahui betapa rumitnya kehidupan. Semua itu adalah wilayah sains.
Tetapi setelah mengetahui semuanya, siapa yang memberi manusia kemampuan untuk mengetahui? Di sinilah sains dan iman sebenarnya bisa bertemu. Sains tidak harus dipaksa menjadi agama.
Agama juga tidak perlu berpura-pura menjadi laboratorium. Masing-masing mempunyai wilayah. Tetapi manusia yang mempelajari sains tetap membutuhkan nilai ketika menggunakan hasil pengetahuannya.
Contohnya sederhana, Pisau bisa digunakan untuk memasak. Pisau juga bisa digunakan untuk melukai orang. Yang menentukan bukan hanya pisaunya. Ada manusia yang menggunakannya. Teknologi juga begitu.
Teknologi bisa digunakan untuk pendidikan. Bisa digunakan untuk dakwah. Bisa digunakan untuk membantu petani. Bisa digunakan untuk pelayanan kesehatan.
Tetapi teknologi juga bisa digunakan untuk menipu, menyebarkan kebencian, mencuri data, atau membuat manusia kecanduan.
Karena itu, menurut saya, pertanyaan tentang teknologi tidak cukup Apakah kita bisa membuatnya? Apakah kita perlu membuatnya? Kalau kita membuatnya, untuk siapa manfaatnya?
Ini yang sering terlupakan. Kita terlalu cepat kagum pada teknologi baru. Begitu ada sesuatu yang canggih, kita langsung menyebutnya kemajuan.
Padahal belum tentu. Sesuatu yang baru belum tentu baik. Sesuatu yang cepat belum tentu benar. Sesuatu yang canggih belum tentu membuat manusia lebih manusiawi.
Saya kira di sinilah pendidikan kita juga harus berubah. Anak-anak kita tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka juga harus diajarkan kapan harus menggunakan teknologi dan kapan harus berhenti menggunakannya.
Mereka harus tahu bagaimana mencari informasi. Tetapi mereka juga harus tahu bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang salah. Mereka harus belajar menggunakan kecerdasan buatan.
Tetapi jangan sampai mereka menyerahkan seluruh pikirannya kepada kecerdasan buatan. Sebab mesin boleh membantu kita berpikir.
Tetapi jangan sampai mesin menggantikan tanggung jawab kita untuk berpikir. Begitu juga dengan agama. Keimanan jangan hanya diajarkan sebagai hafalan. Anak-anak perlu diajak melihat bahwa iman juga berkaitan dengan cara mereka menggunakan ilmu.
Kalau kita belajar tentang lingkungan, maka iman mengajarkan kita untuk tidak merusaknya. Kalau kita belajar tentang kesehatan, maka iman mengajarkan kita untuk menjaga tubuh. Kalau kita menguasai teknologi, maka iman mengajarkan kita untuk tidak menggunakannya untuk merugikan orang lain.
Dengan cara seperti ini, agama tidak menjadi penghambat kemajuan. Justru agama menjadi kompas bagi kemajuan. Saya kira kita membutuhkan manusia yang bisa menggunakan teknologi tetapi tidak diperbudak teknologi.
Kita membutuhkan ilmuwan yang pintar, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral. Kita membutuhkan orang beragama yang kuat imannya, tetapi tidak takut kepada ilmu pengetahuan. Dan yang paling penting, kita membutuhkan pendidikan yang tidak memisahkan ketiganya secara kaku.
Sains memberi kita pengetahuan. Teknologi memberi kita kemampuan. Keimanan memberi kita pertimbangan tentang bagaimana kemampuan itu digunakan.
Kalau ketiganya bisa berjalan bersama, saya kira kemajuan tidak hanya membuat hidup manusia lebih mudah. Kemajuan juga membuat manusia menjadi lebih baik.
Sebab kalau teknologi hanya membuat manusia semakin cepat, tetapi tidak semakin bijaksana, kita sebenarnya hanya sedang menciptakan manusia yang lebih canggih.
Bukan manusia yang lebih baik. Kemudian saya kira, itu dua hal yang berbeda.
