Konten dari Pengguna
Anak dari Keluarga “Broken Home”: Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Pelindung
30 November 2025 3:54 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Anak dari Keluarga “Broken Home”: Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Pelindung
Anak broken home nggak selalu lemah. Dengan dukungan guru, teman, dan lingkungan, mereka bisa tangguh, percaya diri, dan berubah jadi versi terbaik dirinya.Putri Nur Azizah
Tulisan dari Putri Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Ketika keluarga tidak mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat tumbuh kembang, perlindungan, kasih sayang, dan pengarahan bagi anak akibat perceraian, kematian, atau perselisihan berkepanjangan maka anak bisa menghadapi sejumlah persoalan psikologis, sosial, dan moral. Kondisi seperti inilah yang banyak disebut sebagai “broken home,” dan sejumlah penelitian empiris menunjukkan bahwa dampaknya bisa signifikan terhadap karakter dan kesejahteraan anak.
ADVERTISEMENT
Temuan dari Penelitian Ilmiah
Hasil penelitian Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Perubahan Kepribadian Anak Usia Sekolah Dasar menunjukkan bahwa anak dari keluarga broken home di mana fungsi pengasuhan dan perhatian orang tua tidak berjalan sebagaimana mestinya lebih rentan mengalami gangguan psikis, kesulitan bersosialisasi, penurunan kepercayaan diri, penurunan moral, hingga sulit bergaul secara sehat.
Selain itu, penelitian Psychological Development and Children's Academic Achievement: A Study of the Impact of Broken Homes yang dilakukan pada beberapa anak dari keluarga broken home menemukan bahwa sebagian besar anak tersebut melaporkan rasa kesepian mendalam, harga diri rendah, kecemasan berlebihan, kecenderungan agresi, dan kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial.
Dari aspek akademik, hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa motivasi belajar anak dari broken home sering menurun. Dalam penelitian Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Motivasi Belajar Anak di sebuah desa di Jawa Tengah, anak‑anak korban broken home dilaporkan menjadi kurang semangat belajar, malas, dan kehilangan motivasi ketika dukungan orang tua minim atau perhatian terpecah.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, tidak seluruh kisah berakhir negatif. Menurut penelitian Resiliensi pada Anak dari Keluarga yang Broken Home, ada anak‑anak dari situasi broken home yang mampu menunjukkan ketangguhan emosional mampu mengontrol impuls, menjaga regulasi emosi, menunjukkan empati, dan tetap optimis meskipun pengalaman masa kecilnya penuh luka.
Artinya, dampak broken home tidak selalu deterministik menuju hal negatif; hasil akhir banyak ditentukan oleh dukungan sosial, lingkungan sekitar, serta upaya adaptasi dan pendampingan.
Faktor Pemicu & Mekanisme Dampak
Menurut penelitian yang sama, beberapa faktor yang umum memicu situasi broken home antara lain konflik antar orang tua, perbedaan prinsip, tekanan ekonomi, komunikasi buruk, stres emosional, atau kehilangan orang tua.
Ketika anak kehilangan rasa aman, kasih sayang, atau perhatian hal yang seharusnya ia dapatkan dalam keluarga maka potensi gangguan psikis, kesepian, dan keresahan tumbuh. Ditambah lagi, tanpa pengawasan memadai atau bimbingan moral, mereka bisa lebih mudah terpengaruh lingkungan luar: pengaruh negatif, pergaulan tidak sehat, atau perilaku menyimpang.
ADVERTISEMENT
Kemudian, akibat luka batin, rendahnya harga diri, atau perasaan tidak nyaman di rumah, anak dapat kehilangan motivasi belajar, kehilangan rasa percaya diri, atau menarik diri dari lingkungan sosial yang kemudian berdampak pada performa akademik maupun hubungan sosialnya.
Pentingnya Peran Lingkungan & Dukungan
Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dukungan dari orang tua (jika memungkinkan), guru, teman, dan masyarakat menjadi kunci agar anak broken home bisa berkembang secara sehat. Anak yang mendapatkan bimbingan emosional, empati, perhatian, serta lingkungan yang mendukung punya peluang untuk membangun ketangguhan, optimisme, dan bersikap positif terhadap masa depan.
Oleh karena itu, penting bagi sekolah, orang dewasa, atau komunitas di sekitar untuk peka terhadap kondisi anak yang mungkin “menyimpan luka” karena latar belakang keluarga. Intervensi psikologis dan sosial seperti konseling, pendampingan, kegiatan kreatif/rekreatif, serta dukungan moral dan akademik bisa membantu mereka keluar dari trauma dan tumbuh sehat.
ADVERTISEMENT
Mengapa Temuan Ini Penting?
Untuk orang tua dan calon orang tua: memahami bahwa keputusan perceraian atau keretakan rumah tangga tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi memiliki konsekuensi serius bagi masa depan anak secara psikis, moral, dan sosial.
Untuk pendidik dan sekolah: penting memberi perhatian ekstra terhadap siswa yang tampak berubah, menarik diri, agresif, atau mengalami penurunan prestasi karena bisa jadi mereka berasal dari keluarga broken home.
Untuk masyarakat dan pembuat kebijakan: mendukung adanya program konseling, pendidikan karakter, dan bimbingan sosial bagi anak dari keluarga tidak utuh, agar mereka punya kesempatan tumbuh sehat dan produktif.
Kesimpulan
Anak dari keluarga broken home berisiko mengalami berbagai dampak psikologis, sosial, moral, dan akademik, termasuk stres, kecemasan, kesepian, agresivitas, rendahnya harga diri, kesulitan bersosialisasi, dan penurunan motivasi belajar. Faktor utama yang memicu kondisi ini meliputi perceraian, konflik orang tua, kehilangan orang tua, komunikasi yang buruk, dan tekanan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, dampak broken home tidak selalu bersifat deterministik. Anak yang mendapatkan dukungan emosional, bimbingan, perhatian dari guru, teman, maupun masyarakat memiliki peluang untuk membangun resiliensi, tetap optimis, dan berkembang secara sehat. Oleh karena itu, perhatian dan intervensi dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk membantu anak broken home agar dapat tumbuh menjadi individu yang kuat, adaptif, dan produktif.

