Konten dari Pengguna

Politik Tidak Selalu Dimulai dari Politisi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi saat politisi memberikan informasi di depan khalayak ramai. Sumber: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saat politisi memberikan informasi di depan khalayak ramai. Sumber: Pexels.com

Politik hari ini tidak selalu datang melalui ruang yang bernama politik. Ia bisa muncul ketika seseorang sedang menonton video dari kreator favoritnya, membaca unggahan di media sosial, berdiskusi dengan teman, atau sekadar melihat sebuah isu yang ramai dibicarakan di beranda. Bagi sebagian anak muda, momen seperti itulah yang justru menjadi pintu pertama untuk mengenal persoalan politik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi politik telah berubah. Informasi politik tidak lagi hanya bergerak dari politisi, pemerintah, atau media massa kepada masyarakat. Di tengah perkembangan media sosial, informasi dapat berpindah melalui banyak orang yang dianggap dekat, dipercaya, atau memiliki pengaruh terhadap cara seseorang memahami suatu isu.

Fenomena ini dapat dilihat melalui Two-Step Flow of Communication yang diperkenalkan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet melalui penelitian mereka pada 1940-an. Teori ini menjelaskan bahwa informasi dari media tidak selalu diterima masyarakat secara langsung, tetapi dapat melewati orang-orang yang memiliki pengaruh dalam lingkungan sosialnya sebelum akhirnya membentuk pemahaman dan sikap seseorang.

Dalam konteks sekarang, orang-orang tersebut tidak hanya berupa tokoh masyarakat atau pemimpin formal. Mereka bisa menjadi teman, kreator konten, anggota komunitas, atau siapa pun yang dianggap memiliki pengetahuan dan kredibilitas dalam suatu isu. Satu unggahan dari orang yang dipercaya terkadang terasa lebih meyakinkan daripada informasi yang datang dari akun resmi yang tidak memiliki kedekatan personal.

Di sinilah komunikasi politik Gen Z menjadi menarik untuk diperhatikan. Anak muda tidak hanya menerima informasi politik dari politisi, tetapi juga dari orang-orang yang mereka ikuti setiap hari. Ketika seorang kreator membahas kebijakan pemerintah dalam video singkat, misalnya, cara kreator tersebut memilih fakta, memberikan komentar, dan menjelaskan persoalan dapat ikut memengaruhi bagaimana audiens memahami isu tersebut.

Masalahnya, kedekatan tidak selalu berarti informasi yang diberikan sudah benar. Seseorang bisa dipercaya karena gaya bicaranya terasa akrab, cara menyampaikannya sederhana, atau karena sudah lama diikuti. Padahal, kredibilitas seseorang dalam satu bidang tidak otomatis membuat seluruh informasi yang disampaikannya benar.

Karena itu, komunikasi politik Gen Z seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menemukan informasi. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan informasi mana yang layak dipercaya dan mana yang perlu diperiksa kembali. Ketika sebuah isu politik muncul di media sosial, pertanyaan yang dibutuhkan bukan hanya “Siapa yang mengatakan?,” tetapi juga “Dari mana informasinya berasal?” dan “Apa konteks yang mungkin hilang dari penjelasan tersebut?”

Hal ini menjadi semakin penting karena media sosial membuat informasi politik bergerak sangat cepat. Sebuah pernyataan dapat dipotong menjadi beberapa detik video, sebuah kebijakan dapat diringkas menjadi satu unggahan, dan persoalan yang sebenarnya kompleks dapat berubah menjadi perdebatan panjang hanya karena satu potongan informasi.

Dalam situasi seperti itu, Gen Z tidak seharusnya hanya menjadi target komunikasi politik. Anak muda juga memiliki posisi sebagai bagian dari proses komunikasi politik itu sendiri. Apa yang dibagikan, dikomentari, dipertanyakan, bahkan diputuskan untuk tidak disebarkan kembali dapat memengaruhi bagaimana sebuah isu dipahami oleh orang lain.

Artinya, partisipasi politik tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Ia bisa dimulai dari hal yang sederhana membaca informasi secara utuh, membandingkan beberapa sumber, berdiskusi dengan orang lain, atau berani mengatakan bahwa sebuah informasi belum cukup jelas untuk dipercaya.

Di sisi lain, para komunikator politik juga perlu memahami bahwa anak muda bukan sekadar kelompok usia yang harus didekati dengan bahasa kekinian. Komunikasi politik yang hanya mengejar perhatian dapat membuat politik terlihat menarik untuk sesaat, tetapi belum tentu membuat masyarakat memahami persoalan yang sebenarnya.

Komunikasi politik seharusnya tidak hanya membuat seseorang berhenti menggulir layar. Komunikasi politik juga perlu membantu masyarakat memahami apa yang sedang dibicarakan, mengapa persoalan tersebut penting, siapa yang terdampak, dan apa yang dapat dilakukan setelah informasi tersebut diterima.

Di sinilah pentingnya perubahan cara pandang terhadap komunikasi politik Gen Z. Anak muda bukan sekadar audiens yang menunggu pesan dari politisi. Mereka adalah pengguna media, pembentuk percakapan, penyebar informasi, sekaligus pihak yang akan merasakan dampak dari berbagai keputusan politik.

Maka, komunikasi politik ke depan perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk bertanya, memeriksa, dan berdiskusi. Politisi dan lembaga publik tidak cukup hanya hadir ketika membutuhkan dukungan. Kehadiran dalam komunikasi politik seharusnya dibangun melalui informasi yang terbuka, bahasa yang dapat dipahami, serta ruang dialog yang memungkinkan masyarakat memberikan respons.

Bagi Gen Z sendiri, perubahan tersebut juga menuntut tanggung jawab. Kemudahan membagikan informasi harus diikuti dengan kesadaran untuk memeriksa informasi. Kebebasan berpendapat perlu berjalan bersama kemampuan memahami persoalan. Dan tingginya aktivitas di media sosial seharusnya tidak hanya menghasilkan banyak suara, tetapi juga menghasilkan percakapan yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, politik tidak selalu dimulai dari politisi. Kadang, ia dimulai dari satu percakapan dengan teman, satu video yang membuat seseorang berpikir, satu unggahan yang dipertanyakan, atau satu pertanyaan sederhana: “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?”

Dari sanalah komunikasi politik dapat berkembang menjadi partisipasi. Bukan sekadar melihat, menyukai, atau membagikan informasi, tetapi memahami, mempertanyakan, dan ikut menentukan arah percakapan publik.

Karena itu, komunikasi politik Gen Z tidak seharusnya hanya berbicara tentang bagaimana politisi menjangkau anak muda. Yang juga perlu dibicarakan adalah bagaimana anak muda menggunakan ruang komunikasi yang mereka miliki untuk menjadi masyarakat yang lebih kritis, sadar informasi, dan terlibat.

Sebab, komunikasi politik bukan hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara. Lebih dari itu, komunikasi politik adalah tentang apakah masyarakat memiliki ruang untuk memahami, mempertanyakan, dan akhirnya didengar.