Konten dari Pengguna

Membandingkan Anak: Kebiasaan yang Tampak Sepele, tapi Berdampak Besar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gusti Rachmadhani Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Chat GPT

Kalimat seperti "Lihat kakakmu, kok nilainya lebih bagus?", "Anak tetangga saja sudah juara, masa kamu belum?", atau "Coba seperti adikmu yang lebih penurut." masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang tua, kalimat tersebut mungkin dianggap sebagai bentuk motivasi agar anak lebih bersemangat. Namun, bagi anak, perbandingan seperti itu bisa meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.

Membandingkan anak merupakan kebiasaan yang sering dilakukan tanpa disadari. Padahal, setiap anak lahir dengan karakter, kemampuan, minat, dan proses perkembangan yang berbeda. Ketika mereka terus-menerus dibandingkan dengan saudara, teman, atau anak lain, yang muncul bukan hanya rasa kecewa, tetapi juga perasaan bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.

Dampak dari kebiasaan ini tidak bisa dianggap sepele. Anak dapat kehilangan rasa percaya diri karena merasa pencapaiannya selalu kurang. Mereka menjadi takut mencoba hal baru karena khawatir gagal dan kembali dibandingkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat anak sulit mengenali potensi dirinya sendiri karena terlalu sibuk mengejar standar orang lain.

Tidak hanya itu, membandingkan anak juga berpotensi merusak hubungan dalam keluarga. Persaingan antarsaudara bisa semakin kuat, muncul rasa iri, bahkan kebencian yang terbawa hingga dewasa. Padahal, keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang tanpa merasa harus bersaing demi mendapatkan pengakuan.

Di era media sosial, tantangan ini semakin besar. Orang tua maupun anak sering melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna. Tanpa disadari, standar keberhasilan pun ikut berubah. Prestasi akademik, kemampuan berbicara di depan umum, hingga jumlah penghargaan sering dijadikan ukuran keberhasilan seorang anak. Akibatnya, proses belajar dan perkembangan yang sebenarnya jauh lebih penting justru terabaikan.

Alih-alih membandingkan, orang tua dapat mulai menghargai setiap perkembangan sekecil apa pun. Fokuslah pada usaha yang dilakukan anak, bukan hanya hasil akhirnya. Anak yang berani mencoba, mau belajar dari kesalahan, dan terus berkembang adalah pencapaian yang patut diapresiasi.

Memberikan pujian yang spesifik juga lebih efektif dibandingkan membandingkan. Misalnya, mengatakan, "Ayah bangga karena kamu sudah berusaha menyelesaikan tugasmu sendiri," akan membuat anak merasa dihargai atas usahanya. Kalimat seperti ini membantu membangun motivasi dari dalam diri, bukan sekadar keinginan untuk mengalahkan orang lain.

Pada akhirnya, setiap anak memiliki garis start dan tujuan hidup yang berbeda. Tidak semua harus menjadi juara kelas, atlet berprestasi, atau seniman berbakat. Ada anak yang unggul dalam akademik, ada yang berkembang di bidang seni, olahraga, teknologi, maupun keterampilan sosial. Tugas orang tua bukan menyamakan langkah mereka, melainkan menemani setiap proses tumbuhnya.

Membandingkan anak mungkin terdengar seperti kebiasaan kecil yang dilakukan demi kebaikan. Namun, dampaknya bisa membekas hingga bertahun-tahun. Sebaliknya, satu kalimat yang penuh penghargaan dan dukungan dapat menjadi bekal bagi anak untuk tumbuh dengan rasa percaya diri, mengenali potensinya, dan berani menjadi dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu membandingkan mereka dengan orang lain. Mereka membutuhkan orang tua yang percaya bahwa setiap anak memiliki waktu dan caranya sendiri untuk bersinar.