Konten dari Pengguna

Kabut Asap dan Ketimpangan Sosial: Siapa yang Paling Dirugikan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gustyani Aurellia Sekar Syakirah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga memperlebar ketimpangan pendidikan. Ketika sekolah ditutup dan pembelajaran beralih ke rumah, tidak semua anak memiliki akses dan fasilitas yang sama. Di Kalimantan Tengah, siapa yang tetap bisa belajar dengan layak, dan siapa yang justru semakin tertinggal?

Ilustrasi anak-anak pergi ke sekolah di tengah kabut asap, dibuat menggunakan (AI-Generated image).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak-anak pergi ke sekolah di tengah kabut asap, dibuat menggunakan (AI-Generated image).

Setiap kali kemarau tiba, warga Kalimantan Tengah seperti sudah hafal apa yang akan terjadi. Langit perlahan berubah warna, matahari tampak pucat seperti cakram jingga yang muram, dan udara mulai terasa perih menusuk tenggorokan. Memasuki pertengahan Oktober 2026, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mempekat hingga indeks kualitas udara di Palangka Raya melonjak ke level sangat berbahaya. Dampaknya langsung menggerogoti kesehatan masyarakat. Kasus ISPA menembus belasan ribu penderita dan memaksa puluhan rumah oksigen beroperasi penuh.

Kabut asap yang menyelimuti semua orang tanpa pandang bulu, bencana asap tidak pernah dirasakan dengan cara yang sama. Keluarga berkecukupan bisa membentengi diri dengan masker medis berkualitas, air purifier, atau mengungsi sementara. Sebaliknya, bagi para buruh harian, petani, atau penyadap karet, berhenti melangkah ke luar rumah berarti berhenti mengepulkan dapur. Kabut asap bukan lagi sekadar krisis ekologi, melainkan potret ketidakadilan sosial yang telanjang.

Ketika udara berubah menjadi racun, sekolah menjadi ruang yang paling cepat terdampak. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kembali diberlakukan untuk melindungi anak-anak dari bahaya ISPA. Niat kebijakan ini tentu baik dan wajar, tetapi pengalihan ke sekolah daring diam-diam menyimpan asumsi yang naif seolah-olah setiap rumah sama siapnya menjadi ruang belajar.

Data Susenas BPS menunjukkan bahwa hampir seluruh pengguna internet di Kalimantan Tengah mengandalkan ponsel pintar sebagai satu-satunya akses digital. Hanya sebagian kecil rumah tangga yang memiliki laptop atau komputer. Statistik ini memperjelas mengapa "belajar dari rumah" tidak pernah sama maknanya bagi semua anak. Seorang siswa di pusat kota dengan fasilitas mandiri dan pendampingan orang tua mungkin bisa menjaga ritme belajarnya. Namun, bagi anak di pelosok desa dengan sinyal hilang-timgul, gawai yang harus dipakai bergantian, serta orang tua yang harus bekerja seharian, PJJ sering kali berarti berhenti belajar. Dalam kacamata sosiologi, perbedaan penguasaan sumber daya ini memperlihatkan bagaimana bencana memperjelas dan menumpuk ketimpangan sosial yang sebelumnya tersamar.

Sosiolog Robert K. Merton pernah mengingatkan kita tentang dua sisi kebijakan, fungsi manifes (tujuan yang disadari) dan fungsi laten (dampak tak terduga). Secara manifes, pengalihan PJJ bertujuan positif untuk melindungi keselamatan jiwa siswa dan guru dari ancaman penyakit. Niat baik ini patut diapresiasi. Tetapi secara laten, kebijakan yang uniform ini justru memperlebar jurang capaian belajar (learning gap). Bagi keluarga marginal, sekolah bukan sekadar tempat menyerap pelajaran, melainkan ruang aman yang memberikan rutinitas dan perhatian. Ketika pintu sekolah ditutup, beban pendampingan sepenuhnya dibebankan ke keluarga yang tak jarang membuat anak-anak justru terdorong membantu perekonomian rumah tangga. Kebijakan yang dimaksudkan untuk melindungi akhirnya mereproduksi ketimpangan tanpa disengaja.

Oleh karena itu, penanganan bencana di sektor pendidikan tidak boleh berhenti pada formula tunggal "meliburkan atau memindahkan ke daring". Pembelajaran darurat harus dirancang secara berlapis. Bagi daerah terpencil, sekolah dapat menyediakan modul cetak, skema kunjungan guru, hingga menyiapkannya sebagai smoke-free shelter atau ruang kelas berudara bersih yang dilengkapi pemurni udara dan stok oksigen.

Pencegahan karhutla di hulu tentu tetap menjadi kunci utama agar krisis lintas batas ini tidak terus berulang. Namun, selama bencana masih terjadi, kita harus jujur bahwa dampaknya tidak pernah jatuh secara merata. Hujan kelak akan turun dan menyapu kabut asap dari langit Kalimantan, tetapi ketertinggalan belajar yang ditinggalkannya tidak ikut hilang bersamanya.