Konten dari Pengguna

Kacamata Sosiologi Menyoroti Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, dibahas dari kacamata sosiologi? Gimana sih?

Ilustrasi kolonialisme di zaman kita di Tanah Papua dibuat dengan (AI-Generated image).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kolonialisme di zaman kita di Tanah Papua dibuat dengan (AI-Generated image).

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Film yang dipublikasikan melalui kolaborasi sejumlah kanal YouTube seperti JubiTV, Indonesia Baru, Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, Watchdoc Documentary, dan LBH Papua Merauke ini mengangkat realitas yang dihadapi masyarakat adat Papua di tengah pembangunan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Melalui dokumentasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat adat, film ini menampilkan perubahan besar yang terjadi di sejumlah wilayah Papua akibat alih fungsi hutan dan tanah adat menjadi kawasan industri tebu, perkebunan sawit, serta proyek ketahanan pangan skala besar. Perubahan tersebut disebut berdampak pada hilangnya sumber penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan dan tanah adat.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian penonton adalah aksi masyarakat adat yang mendirikan salib merah di wilayah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Simbol tersebut digunakan sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas yang dianggap mengancam ruang hidup mereka. Seruan “Papua bukan tanah kosong!” yang muncul dalam film juga menjadi simbol perlawanan sekaligus penegasan identitas masyarakat adat.

Di balik kisah yang ditampilkan, dokumenter ini turut membuka ruang diskusi mengenai ketimpangan sosial yang terjadi dalam proses pembangunan. Film memperlihatkan adanya perbedaan akses terhadap pengambilan keputusan, pengelolaan sumber daya, hingga distribusi manfaat pembangunan antara masyarakat adat dan pihak-pihak yang memiliki kekuatan ekonomi maupun politik.

Jika dilihat dari perspektif sosiologi, pesan yang disampaikan dalam film ini dapat dikaitkan dengan teori konflik yang dikemukakan oleh Karl Marx. Teori tersebut menjelaskan bahwa konflik sosial muncul akibat ketimpangan penguasaan sumber daya antara kelompok yang memiliki kekuasaan dan kelompok yang memiliki keterbatasan akses. Dalam film, perusahaan-perusahaan besar digambarkan memiliki kendali yang lebih besar terhadap lahan dan proses produksi, sementara masyarakat adat menghadapi risiko kehilangan ruang hidup yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Film ini juga menampilkan bagaimana masyarakat adat membangun solidaritas melalui simbol-simbol budaya dan keagamaan. Dalam kacamata sosiologi, tindakan tersebut dapat dipahami sebagai upaya kelompok yang berada pada posisi kurang diuntungkan untuk memperjuangkan hak-haknya dan membangun kesadaran kolektif di tengah perubahan sosial yang terjadi.

Melalui pendekatan visual yang kuat dan narasi yang emosional, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tidak hanya menjadi sebuah tontonan dokumenter, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai pembangunan, keadilan sosial, dan posisi masyarakat adat di Indonesia. Kehadirannya menunjukkan bahwa film dokumenter masih memiliki peran penting sebagai media yang mampu menghibur sekaligus mengajak masyarakat berdiskusi tentang berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka.