Konten dari Pengguna

Mahasiswa, Skripsi, dan Segelas Kopi

Hari Eko Purwanto

Hari Eko Purwanto

Konsultan Komunikasi, Pegiat Philanthropy, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hari Eko Purwanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Pak, ini saya sudah revisi lagi yang kemarin. Bagian metode penelitian sudah saya sesuaikan saran Bapak. Boleh dicek lagi tidak, Pak?" ucap Andi sambil menyodorkan bundelan skripsinya.

"Waduh, Ndi, saya lagi rapat nih. Nanti malam kamu email saja, ya. Minggu depan kita diskusi lagi," balas Pak Dosen singkat sambil berlalu.

Buat mahasiswa akhir, percakapan semacam ini sangat familier, terkadang menjengkelkan, tetapi juga lucu ketika diceritakan lagi setelah lulus nanti.

Skripsi dan Kopi *Dokpri

Dalam proses ini, kopi menjadi teman sejati para mahasiswa. kopi tidak sekadar minuman, tetapi sebagai simbol perjuangan. Secangkir kopi yang menemani malam panjang mengetik skripsi adalah semacam ritual suci bagi mahasiswa. Jika meminjam perspektif teori interaksi simboliknya Herbert Mead, ritual menyeruput kopi ini bukan hanya aktivitas biasa, melainkan simbol ketahanan mental menghadapi tekanan akademik. Sederhananya, kopi adalah saksi bisu perjuangan mahasiswa menuju garis finis bernama wisuda.

Di era teknologi canggih seperti sekarang, mahasiswa lebih terbantu dibanding generasi sebelumnya. Google Scholar, AI seperti ChatGPT, hingga aplikasi pengatur referensi seperti Mendeley adalah penyelamat mahasiswa dari serbuan revisi teknis yang bikin kepala pusing. Teknologi hadir seperti superhero, memudahkan pencarian sumber referensi hanya dalam beberapa klik saja.

Namun teknologi juga punya sisi gelapnya. Tak jarang, mahasiswa malah lebih sibuk scrolling Instagram dan TikTok dibanding mengetik skripsi. Merujuk Teori Uses and Gratifications, media sosial memenuhi kebutuhan hiburan mahasiswa, tetapi juga menjadi jebakan yang bisa menunda kelulusan. Kuncinya adalah kemampuan mengatur waktu, atau yang sering disebut mahasiswa sebagai "time management yang mitos itu."

Mahasiswa mengerjakan skripsi di perpustakaan *DokPri

Adakalanya juga mahasiswa mengandalkan teknologi hanya sebatas Copy Paste saja, tanpa memahami secara menyeluruh maksudnya, ini bagai buah simalakama bagi mahasiswa. Mahasiswa harus menjadikan AI dan teknologi lainnya sebagai alat bantu, bukan menjadi alat utama.

Drama skripsi tak hanya urusan teknis. Kadang dosen pembimbing yang sibuknya melebihi artis juga menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa dibuat galau, chat dibaca tapi tidak dibalas, email dibalas tapi judul di revisi lagi, atau janji ketemu tapi batal mendadak. Dalam situasi seperti ini, kopi kembali menjadi teman setia yang mendengar segala curhatan mahasiswa di tengah malam sunyi.

Agar perjuangan ini tak sia-sia, ada beberapa kiat praktis bagi mahasiswa zaman now agar sukses menyusun skripsi:

Pertama, buat jadwal rutin untuk menulis dan jangan menunggu mood datang. Konsistensi lebih penting dibanding inspirasi dadakan. Kedua, manfaatkan teknologi secara bijak. Tetapkan waktu khusus untuk mencari referensi menggunakan Google Scholar atau AI seperti ChatGPT, lalu segera matikan notifikasi media sosial.

Ketiga, bangun komunikasi yang efektif dengan dosen pembimbing. Kirimkan pertanyaan spesifik dan hindari bertanya hal yang terlalu umum, supaya bimbingan menjadi lebih efisien. Terakhir, buatlah grup kecil dengan teman sesama pejuang skripsi untuk saling mendukung dan berbagi informasi. Dukungan sosial sering kali menjadi motivasi terbaik untuk terus maju.

Namun, dari semua drama itu, ada sesuatu yang berharga yaitu proses pendewasaan. Menyusun skripsi mengajarkan mahasiswa tentang kesabaran, kegigihan, dan manajemen emosi. Menjadi sarjana tidak sekadar mengumpulkan tugas akhir, melainkan juga tentang melewati berbagai rintangan yang kelak membuat kita lebih tangguh.

Jadi, untuk kamu mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi sambil ditemani secangkir kopi, tetaplah semangat, Semua rasa lelah dan drama ini akan segera terbayar lunas ketika toga menghiasi kepala, dan kamu sadar betapa indahnya perjuangan ini ketika diingat kembali nanti.

Jadi, untuk kamu yang masih berjuang,

Teruslah menulis dan jangan pernah bimbang.

Karena secangkir kopi terakhir sebelum sidang,

Akan menjadi yang paling nikmat, penuh kenangan.