Kumparan Logo

Abu Vulkanik Bisa Bikin Tanah Subur, Butuh Waktu Proses Pelapukan

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kolom abu membubung saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kolom abu membubung saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi/kumparan

Gunung Anak Krakatau erupsi pada Jumat (4/9) malam, memuntahkan lava pijar dan menyebarkan abu vulkanik hingga ke sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek. Di balik dampak erupsi tersebut, material vulkanik ternyata menyimpan potensi bagi kehidupan masyarakat dalam jangka panjang, salah satunya adalah membentuk tanah yang subur untuk pertanian.

Kendati begitu, abu vulkanik tidak serta-merta membuat tanah menjadi subur. Material hasil erupsi membutuhkan proses pelapukan dalam waktu yang panjang sebelum mineral di dalamnya berubah menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Mahfud Arifin, Ir., M.S., menjelaskan bahwa endapan material erupsi gunung api akan mengalami pelapukan seiring waktu. Proses tersebut kemudian melepaskan berbagai mineral yang dibutuhkan tanaman.

"Mineral yang terkandung (dalam letusan gunung api) akan melapuk dan mengeluarkan berbagai nutrisi yang subur bagi kebutuhan tanaman," ungkap Prof. Mahfud, dikutip dari situs resmi Unpad.

Proses ini dipelajari Prof. Mahfud dari fenomena erupsi Krakatau pada 1883 silam. Sekitar satu abad kemudian, tepatnya pada 1983, ia bersama tim ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terhadap struktur tanah di kawasan yang sebelumnya tertimbun material erupsi. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa material erupsi Krakatau telah membentuk lapisan tanah subur dengan ketebalan sekitar 25 sentimeter.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Mahfud Arifin, Ir., M.S. Foto: Dok. Arsip Kantor Komunikasi Publik Unpad

Salah satu cirinya terlihat dari warna tanah yang berubah menjadi hitam. Warna tersebut menandakan adanya kandungan nutrisi yang dilepaskan melalui proses pelapukan mineral primer. Mineral seperti kalsium, magnesium, natrium, hingga kalium menjadi sejumlah unsur yang dibutuhkan tanaman.

Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa pembentukan tanah subur dari endapan material vulkanik membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Untuk menghasilkan lapisan tanah hitam dan subur setebal 25 sentimeter di kawasan Krakatau, proses pelapukan berlangsung hingga sekitar 100 tahun.

"Diperkirakan dalam waktu 100 tahun, daerah erupsi Gunung Semeru kemudian bisa menjadi daerah yang sangat subur, dengan tanah hitam yang tebal dan subur untuk tanaman pertanian," kata Prof. Mahfud.

Meski kesuburan tanah membutuhkan waktu panjang, material hasil erupsi tetap bisa memberikan manfaat dalam jangka lebih pendek. Endapan material vulkanik kerap ditambang dan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan gunung api memiliki kaitan erat dengan aktivitas masyarakat di Indonesia. Wilayah di sekitar lereng gunung api bahkan kerap menjadi kawasan permukiman yang padat.

"Walaupun sering meletus, masyarakat selalu merapat karena tanahnya subur untuk pengembangan pertanian," ujar Prof. Mahfud.

Ilustrasi Gunung Batu di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Foto: Shutterstock

Tanah Vulkanik Indonesia Punya Tingkat Kesuburan Berbeda

Indonesia memiliki rangkaian gunung api yang membujur dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Setiap gunung api memiliki karakteristik masing-masing. Perbedaan itu tidak hanya berasal dari dapur magma, tetapi juga dari bahan baku material vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi.

Menurut Prof. Mahfud, material vulkanik yang berada semakin ke timur Indonesia cenderung lebih kaya unsur nutrisi. Karena itu, tanah yang terbentuk dari endapan vulkanik di wilayah timur bisa memiliki tingkat kesuburan lebih tinggi dibandingkan wilayah barat.

"Tanah hasil erupsi Gunung Toba, misalnya. Itu tidak sesubur mineral hasil erupsi Gunung Merapi atau Semeru," kata Prof. Mahfud.

Secara alamiah, material vulkanik di wilayah timur Indonesia lebih bersifat basaltik atau basa, sementara material vulkanik di wilayah barat cenderung bersifat andesit atau asam. Material basaltik memiliki kandungan unsur nutrisi yang lebih kaya, sehingga dapat menghasilkan tanah yang lebih subur dibandingkan material andesit.

Selain jenis material vulkanik, ketinggian lahan juga memengaruhi proses pembentukan tanah. Daerah bekas erupsi dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) cenderung lebih subur dibandingkan wilayah dengan ketinggian lebih rendah.

Prof. Mahfud menjelaskan, suhu yang lebih rendah di dataran tinggi membuat proses pelapukan material vulkanik berlangsung lebih lambat. Kondisi tersebut membuat tanah berwarna lebih hitam karena masih mengandung banyak nutrisi.

Pemandangan Danau Toba dari Paropo. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, wilayah dengan suhu lebih tinggi mengalami pelapukan yang lebih cepat. Tanah yang terbentuk cenderung berwarna lebih cokelat dan tingkat kesuburannya lebih rendah dibandingkan tanah hitam.

Prof. Mahfud menemukan karakteristik tersebut di Jatinangor, Jawa Barat. Tanah di kawasan tersebut berasal dari endapan erupsi Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Tampomas yang terjadi beberapa ratus tahun lalu. Namun, tanah di Jatinangor berwarna cokelat, bukan hitam seperti tanah di Lembang yang juga terbentuk dari material erupsi Gunung Tangkuban Perahu.

"Tapi tanah di Jatinangor cokelat tidak hitam seperti tanah di Lembang yang sama-sama hasil erupsi Gunung Tangkuban Perahu. Kenapa? Karena Jatinangor ketinggiannya rendah sehingga pelapukannya lebih cepat," paparnya.

Lamanya proses pembentukan tanah vulkanik membuat pengelolaan lahan bekas erupsi menjadi hal penting. Jangan sampai tanah yang membutuhkan waktu puluhan hingga sekitar 100 tahun untuk terbentuk justru hilang dalam waktu singkat akibat pengelolaan lahan yang buruk.

Prof. Mahfud mengatakan, sejumlah wilayah dengan tanah vulkanik berada di lereng yang curam. Kondisi tersebut membuat tanah lebih mudah tererosi jika masyarakat mengeksploitasinya tanpa menerapkan upaya konservasi.

Karena itu, pengolahan lahan perlu dibarengi teknik konservasi tanah dan air. Beberapa di antaranya berupa pembuatan terasering, urugan, hingga pengaturan jarak tanam. Tanpa teknik konservasi, tanah vulkanik yang subur akan lebih rentan terbawa erosi. Padahal, studi terhadap kawasan Krakatau menunjukkan bahwa pembentukan lapisan tanah subur setebal 25 sentimeter membutuhkan proses pelapukan hingga 100 tahun.

"Kalau kena erosi terus, dalam beberapa tahun ke depan akan cepat hilang. Makanya harus disertai teknik konservasi tanah dan air," kata Prof. Mahfud.