Kumparan Logo

Ekonom Prediksi Juara Piala Dunia 2026, Sukses Ramal 3 Pemenang Sebelumnya

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain Timnas Belanda Tijjani Reijnders. Foto: NICOLAS TUCAT / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Timnas Belanda Tijjani Reijnders. Foto: NICOLAS TUCAT / AFP

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, tetapi satu prediksi sudah lebih dulu mencuri perhatian. Joachim Klement, ekonom dan ahli matematika asal Jerman, memprediksi Belanda akan keluar sebagai juara dunia untuk pertama kalinya.

Prediksi itu menjadi sorotan karena rekam jejak Klement sulit diabaikan. Model yang ia gunakan sebelumnya berhasil menebak tiga juara Piala Dunia terakhir: Jerman pada 2014, Prancis pada 2018, dan Argentina pada 2022.

Untuk edisi 2026, model Klement memperkirakan Belanda akan menyingkirkan Spanyol di semifinal. Di partai final, Belanda diprediksi mengalahkan Portugal dan akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia.

Prediksi ini menarik karena Belanda punya sejarah panjang sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola, tetapi belum pernah menjadi juara dunia. Tim Oranje sudah tiga kali mencapai final, yakni pada 1974, 1978, dan 2010, tetapi selalu gagal di laga puncak.

Piala Dunia 2026 sendiri menjadi edisi terbesar dalam sejarah turnamen. Ajang ini digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan 48 tim peserta dan 104 pertandingan. Turnamen dimulai pada 11 Juni 2026 melalui laga pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan.

Penampil saat upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). Foto: Kai Pfaffenbach/REUTERS

Model Statistik Joachim Klement untuk Prediksi Juara Piala Dunia

Meski prediksinya selalu tepat dalam tiga edisi terakhir, Klement justru meminta publik tidak menganggap modelnya sebagai ramalan pasti. Ia menyebut sepak bola tetap dipengaruhi banyak faktor acak, mulai dari kondisi pemain, cedera, keputusan wasit, strategi pelatih, sampai momen kecil yang mengubah arah pertandingan.

Itu sepenuhnya tidak rasional. Ini seperti bermain lotre. Saya selalu mengatakan bahwa jika ada orang yang memasang taruhan berdasarkan prediksi saya tentang siapa yang akan menjadi juara dunia berikutnya, mereka sudah tidak bisa ditolong.

- Joachim Klement, Ekonom asal Jerman -

"Ini seperti melempar koin," kata Klement, mengutip ESPN. "Anda mungkin memprediksi bahwa koin akan jatuh pada sisi kepala empat kali berturut-turut, bukan sisi ekor, dan itu memang bisa saja terjadi. Namun, hal itu tidak menjamin hasil yang sama akan terulang pada kesempatan berikutnya."

Model Klement tidak hanya melihat kekuatan tim di lapangan. Ia memasukkan sejumlah variabel makro, seperti produk domestik bruto per kapita, jumlah penduduk, posisi sepak bola dalam masyarakat, peringkat tim nasional, dan elemen keberuntungan.

Menurut Klement, model itu awalnya dibuat untuk menunjukkan bahwa memprediksi juara Piala Dunia hampir mustahil dilakukan secara ilmiah dengan kepastian penuh. Ia bahkan menggambarkannya seperti permainan lotre. Tiga prediksi yang tepat secara beruntun tidak otomatis membuat prediksi keempat pasti benar.

Inilah bagian sains yang paling penting dari cerita ini. Model statistik bisa membantu membaca pola dan memperkirakan peluang, tetapi tidak bisa menghapus ketidakpastian. Dalam sepak bola, satu kartu merah, satu penalti, satu kesalahan kiper, atau satu cedera bisa mengubah seluruh simulasi.

Belanda akan memulai perjalanan mereka di Grup F melawan Jepang pada 14 Juni 2026. Tim asuhan Ronald Koeman juga akan menghadapi Swedia dan Tunisia. Koeman sendiri sudah menyatakan ambisi untuk membawa Belanda menjuarai turnamen.

Jika prediksi Klement benar lagi, Belanda akan mencetak sejarah sebagai juara baru Piala Dunia. Jika meleset, kasus ini tetap menjadi pengingat bahwa model matematika yang tampak akurat sekalipun tetap harus dibaca sebagai peluang, bukan kepastian.