Geng Hacker ShinyHunters Klaim Retas FBI, Curi 5.000 Data Agen FBI

kumparanTEKNOverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota FBI memeriksa lingkungan tempat rumah yang terkait dengan Cole Tomas Allen, tersangka dalam insiden penembakan di Washington pada acara makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih, berada, di Torrance, California, AS, 26 April 2026. Foto: REUTERS/David Swanson
zoom-in-whitePerbesar
Anggota FBI memeriksa lingkungan tempat rumah yang terkait dengan Cole Tomas Allen, tersangka dalam insiden penembakan di Washington pada acara makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih, berada, di Torrance, California, AS, 26 April 2026. Foto: REUTERS/David Swanson

Geng hacker ShinyHunters mengklaim telah membobol sistem Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat dan mencuri data pribadi sebagian besar agen aktif, pensiunan, dan pelamar kerja di lembaga tersebut. Klaim ini disampaikan ShinyHunters melalui pernyataan di situs dark web mereka serta dalam percakapan online dengan kantor berita Reuters dan redaksi tim redaksi 404 Media, Selasa, 22 September 2026.

Menanggapi hal tersebut, FBI mengeluarkan pernyataan bahwa telah "mengetahui adanya klaim terkait aktivitas tidak sah yang berdampak pada FBIjobs.gov dan saat ini sedang melakukan penyelidikan."

ShinyHunters mengaku telah mencuri data seluruh agen FBI dan individu yang pernah melamar pekerjaan di lembaga tersebut. Sebagai bukti, kelompok peretas membagikan screenshot yang diklaim sebagai situs lowongan kerja FBI dalam kondisi telah diretas, beserta informasi mengenai 5.000 agen yang disebut sebagai sampel dari keseluruhan data yang dicuri.

Reuters tidak dapat memverifikasi keaslian screenshot tersebut, namun situs lowongan kerja itu memang tampak mengalami gangguan baru-baru ini. Sebuah pesan yang diunggah di situs tersebut pada hari Selasa menyatakan bahwa situs itu, maupun Special Agent Applicant Portal milik FBI, sedang "tidak dapat diakses."

Sampel data tersebut memuat informasi mengenai nama agen FBI, alamat rumah, nomor telepon, Nomor Jaminan Sosial (Social Security Number), penugasan mereka, dan dalam beberapa kasus, ada nama anggota keluarga mereka (termasuk pasangan).

Reuters berhasil memverifikasi sebagian keaslian informasi tersebut dengan mencocokkan rincian data —termasuk Nomor Jaminan Sosial— dengan catatan biro kredit serta data dari kebocoran sebelumnya yang disimpan oleh perusahaan intelijen dark web, District 4 Labs.

Dalam setidaknya 10 kasus —termasuk kasus Direktur FBI Kash Patel— Reuters menemukan rincian yang tampak cocok. Seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa deskripsi pekerjaan dalam data tersebut juga cocok, setidaknya dalam beberapa kasus.

Meski begitu, Reuters belum bisa memastikan dari mana sebenarnya data tersebut berasal, atau benar berasal dari sistem internal FBI seperti yang diklaim peretas.

Siapa Grup Hacker ShinyHunters?

ShinyHunters dikenal sebagai salah satu kelompok peretas paling aktif di dunia, dan gemar mencari perhatian.

Kelompok ini sebelumnya diduga terlibat dalam pencurian jutaan data bisnis milik pengembang game Rockstar Games, yang membuat game Grand Theft Auto, serta peretasan platform pendidikan Canvas pada Mei lalu yang sempat mengganggu operasional sejumlah sekolah di Amerika Serikat. Awal bulan ini, perusahaan AI Anthropic juga mengungkap upaya peretas yang terafiliasi dengan ShinyHunters mencoba menyalahgunakan perangkat AI milik perusahaan tersebut.

ShinyHunters menyebut aksi peretasan ke FBI bukan bermotif finansial, melainkan sebagai balasan atas laporan FBI pada Mei 2026 yang mengungkap metode kerja kelompok tersebut dan mengimbau korban untuk tidak membayar tebusan. Kelompok ini menuntut FBI mencabut laporan tersebut yang mereka anggap berisi tuduhan tidak benar.

Cynthia Kaiser, mantan pejabat FBI, mengatakan kepada Reuters, bahwa pembobolan data seperti yang diklaim oleh ShinyHunters sangatlah berbahaya karena dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mengungkap identitas serta menekan pihak-pihak yang sedang menyelidiki mereka.

Kaiser, yang kini menjabat sebagai wakil presiden senior di perusahaan keamanan siber Halcyon, mencatat bahwa kebocoran data lama dari tahun 2016 bahkan masih kerap digunakan hingga saat ini untuk mengintimidasi agen FBI.

Begitu informasi tersebut dicuri, data itu akan terus digunakan selamanya.

- Cynthia Kaiser, mantan pejabat FBI -

Media teknologi TechCrunch, yang mengutip laporan 404 Media, menyebut peretas mengklaim mencuri data hingga 3 terabyte, termasuk nama, alamat rumah, nomor telepon, tanggal lahir, hingga data pasangan agen FBI.

Menurut laporan tersebut, peretas awalnya membobol server Oracle PeopleSoft yang biasa dipakai untuk menyimpan data pelamar kerja, sebelum kemudian bergerak membobol sistem penyimpanan berbasis cloud milik Amazon yang menyimpan data agen dan pelamar.

Pada hari Minggu, kelompok tersebut mengungkapkan kepada Reuters bahwa mereka telah memulai "perang" melawan kelompok kejahatan siber ternama lainnya, cl0p, dalam sebuah aksi saling balas yang jarang terjadi di ruang publik.