Kumparan Logo

Makanan Dihinggapi Lalat, Masih Aman Dimakan atau Harus Dibuang?

kumparanSAINSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi lalat dalam makanan. Foto: RHJPhotos/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lalat dalam makanan. Foto: RHJPhotos/Shutterstock

Makanan yang hanya dihinggapi seekor lalat selama beberapa detik umumnya masih memiliki risiko kesehatan yang rendah, terutama jika makanan baru dimasak dan orang yang memakannya mempunyai sistem imun yang baik.

Risiko akan meningkat jika banyak lalat mengerubungi makanan dalam waktu lama. Dalam kondisi tersebut, makanan sebaiknya tidak dikonsumsi karena lalat mempunyai lebih banyak kesempatan memindahkan kuman.

Apakah Lalat Muntah saat Hinggap di Makanan?

Lalat rumah memang mengeluarkan cairan ketika hinggap dan makan. Serangga ini tidak mempunyai gigi dan rahang untuk mengunyah makanan seperti manusia.

Lalat mengeluarkan air liur yang mengandung enzim untuk melarutkan sebagian makanan. Setelah makanan menjadi lebih cair, lalat mengisapnya melalui mulut berbentuk belalai.

Proses tersebut sering disebut sebagai lalat "memuntahkan" cairan ke atas makanan. Cairan yang dikeluarkan membantu lalat melakukan pencernaan sebelum makanan masuk ke tubuhnya.

Masalahnya, lalat rumah menghabiskan sebagian hidupnya di tempat yang tidak higienis. Lalat dapat memakan atau menyentuh tumbuhan yang membusuk, daging mentah, sampah, hingga kotoran.

"Lalat rumah berperan sebagai penghubung antara lingkungan yang bersih dan yang tercemar, bergerak bebas dari bahan-bahan yang terkontaminasi seperti limbah, ke lingkungan di dalam dan sekitar rumah, serta ke sumber makanan dan air," tulis sebuah studi yang tayang di makalah ilmiah keluaran 2017 lalu, mengutip IFLScience.

Ilustrasi lalat dalam minuman. Foto: Brilliant Eye/Shutterstock

Kuman Apa Saja yang Bisa Dibawa Lalat?

Sebuah tinjauan ilmiah mengidentifikasi 130 patogen pada lalat rumah. Daftar tersebut mencakup jamur, virus, parasit, dan bakteri. Beberapa di antaranya dapat menimbulkan penyakit serius.

Salah satu ancaman utamanya adalah patogen bawaan makanan. Kuman tersebut berpotensi menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti:

  • Mual

  • Muntah

  • Sakit perut

  • Diare

  • Demam

Dalam penelitian di jurnal JDS Communications pada 2022, ilmuwan mengumpulkan lebih dari 100 lalat rumah di sekitar sebuah peternakan di New York, Amerika Serikat. Mereka menemukan sejumlah bakteri yang berkaitan dengan penyakit pada manusia, termasuk Salmonella, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Bacillus subtilis.

Lalat dapat memindahkan mikroorganisme melalui kaki dan bagian tubuhnya yang menyentuh makanan. Kuman juga berpotensi berpindah melalui cairan pencernaan dan kotoran lalat.

Namun, keberadaan bakteri pada lalat tidak otomatis membuat setiap makanan yang dihinggapinya menyebabkan penyakit. Seseorang biasanya perlu terpapar patogen dalam jumlah tertentu sebelum mengalami infeksi atau keracunan makanan.

Kapan Makanan Sebaiknya Dibuang?

Jika hanya seekor lalat yang hinggap sebentar pada makanan yang baru dimasak, risikonya relatif rendah. Sebagian besar pakar kesehatan menilai makanan tidak harus langsung dibuang dalam situasi tersebut.

Makanan panas atau baru dimasak juga cenderung memiliki tingkat kontaminasi awal yang lebih rendah dibandingkan makanan mentah atau makanan yang sudah lama berada pada suhu ruang.

Meski demikian, risiko rendah tidak berarti benar-benar bebas risiko. Lalat tetap dapat memindahkan kuman meskipun hanya hinggap dalam waktu singkat.

Makanan lebih aman dibuang jika telah dikerubungi banyak lalat selama berjam-jam. Durasi kontak yang panjang dan jumlah lalat yang banyak meningkatkan peluang perpindahan patogen.

Jika kondisi dan keamanan makanan sulit dipastikan, pilihan yang paling aman adalah tidak mengonsumsinya sama sekali.