Kumparan Logo

Nvidia Rilis Chip Super AI RTX Spark buat PC dan Laptop Windows

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
NVIDIA rilis chip baru untuk PC, namanya RTX Spark. Foto: Dok. Nvidia
zoom-in-whitePerbesar
NVIDIA rilis chip baru untuk PC, namanya RTX Spark. Foto: Dok. Nvidia

Nvidia mengumumkan chip baru untuk komputer personal (PC) dan laptop, namanya RTX Spark. Chip baru ini sebagai bagian dari langkah ekspansi Nvidia ke pasar konsumen yang mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, menyebut kehadiran chip terbaru RTX Spark bisa menjadi perubahan besar dalam dunia komputasi.

“Transformasi komputer ini sama besarnya dengan transformasi ponsel menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai smartphone,” kata Huang saat memperkenalkan chip RTX Spark pada Senin (1/6) waktu setempat.

Huang mengumumkan RTX Spark dalam keynote speech jelang pembukaan pameran teknologi Computex di Taipei, Taiwan. Di sisi lain, sehari sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat memperketat aturan penjualan chip Nvidia paling canggih kepada perusahaan-perusahaan China.

Nvidia menyebut RTX Spark sebagai superchip baru untuk era agen AI personal, menghadirkan kelas komputer baru yang bertransformasi dari sekadar alat menjadi rekan kerja digital.

Chip ini akan digunakan pada lini baru PC berbasis Windows yang diproduksi oleh Lenovo, HP, Dell, Microsoft Surface, Asus, dan MSI. Produk-produk tersebut dijadwalkan mulai tersedia pada musim gugur tahun ini, sementara model dari Acer dan Gigabyte akan menyusul.

video youtube embed

Langkah Nvidia ini secara langsung menantang sejumlah pemain besar di pasar PC, termasuk Apple dan Intel. Menurut firma riset Gartner, Lenovo, HP, Dell, dan Apple menguasai hampir 75 persen pasar PC global pada kuartal pertama tahun ini.

Selama ini Nvidia dikenal sebagai pengembang Graphics Processing Unit (GPU), yaitu chip khusus yang awalnya dirancang untuk memproses grafis video game dengan cepat, tetapi kini juga banyak digunakan untuk menjalankan sistem kecerdasan buatan.

Wakil Presiden sekaligus analis utama di perusahaan riset teknologi Forrester, Charlie Dai, menilai pengumuman ini menunjukkan perubahan besar dalam strategi Nvidia.

“Ini merupakan pergeseran paradigma dari sekadar pemasok komponen menjadi pemilik arsitektur di pasar PC,” ujarnya.

Menurut Dai, langkah tersebut akan memberikan tekanan kompetitif yang lebih besar kepada Intel, AMD, dan Qualcomm, terutama dalam hal performa, efisiensi, dan integrasi AI. Namun, Direktur Riset FDM CCS Insight, Ian Fogg, menilai produk baru Nvidia kemungkinan akan hadir dengan harga yang cukup tinggi. Ia memperkirakan Nvidia membidik segmen pengguna profesional yang membutuhkan performa setara workstation.

Gandeng Microsoft untuk Ekosistem AI

Dalam pengembangan AI kali ini, Nvidia mengumumkan telah menjalin kerja sama dengan Microsoft. Keduanya akan menghadirkan platform Windows yang diklaim aman dan tangguh untuk menjalankan agen AI berbasis RTX Spark.

Agen AI sendiri merupakan program perangkat lunak otonom yang digerakkan oleh kecerdasan buatan, seperti OpenClaw. Ketua sekaligus CEO Microsoft, Satya Nadella, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan kecerdasan buatan tanpa batas ke setiap rumah dan meja kerja pengguna Windows.

“RTX Spark merupakan terobosan nyata menuju visi tersebut,” ujar Nadella.

Ilustrasi Nvidia dan Microsoft. Foto: Mamun_Sheikh/Shutterstock

Sementara analis semikonduktor Dr. Ian Cutress menilai kehadiran laptop Windows dengan perangkat keras Nvidia akan memberikan alasan kuat bagi para pengembang, khususnya yang bekerja di bidang AI, untuk tetap berada dalam ekosistem perangkat lunak dan perangkat keras Nvidia.

Pembatasan Ekspor Chip ke China Diperketat

Lonjakan kebutuhan pusat data untuk mendukung AI telah membantu Nvidia menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, dengan kapitalisasi pasar lebih dari 5 triliun dolar AS atau sekitar Rp 81 kuadriliun. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, pemerintah Amerika Serikat terus memperketat pengawasan ekspor chip AI ke China.

Pada Minggu (31/5), Departemen Perdagangan AS melalui Bureau of Industry and Security (BIS) menerbitkan panduan baru yang menutup potensi celah pengiriman chip canggih, termasuk prosesor Blackwell milik Nvidia.

Aturan tersebut menegaskan bahwa ekspor chip AI paling mutakhir kepada anak perusahaan milik perusahaan China yang beroperasi di luar wilayah China tetap memerlukan lisensi khusus.

AS selama beberapa tahun terakhir berupaya membatasi akses perusahaan-perusahaan China terhadap chip komputasi kelas atas yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi AI strategis.