Orang Utan Masuk Pemukiman Akibat Karhutla Kalimantan, Populasinya Terancam

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Kalimantan mulai mengancam keberlangsungan populasi hewan langka orang utan (Pongo pygmaeus) yang terancam punah. Bahkan, baru-baru ini orang utan masuk ke pemukiman warga akibat karhutla yang melanda wilayah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Video yang diposting akun Instagram @damkar_katingan memperlihatkan orang utan dewasa berjalan menyusuri jalan raya di sekitar pemukiman warga di sekitar kawasan Sport Center Katingan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Orang utan itu diduga mencari makan akibat hutan tempat tinggal mereka hangus terbakar.
"Fenomena munculnya primata khas Kalimantan ini mengejutkan warga sekitar. Orang utan dewasa tersebut tampak berkeliaran di pepohonan pinggir jalan hingga mendekati fasilitas publik dan area pemukiman warga untuk mencari pasokan makanan akibat hutan tempat tinggal mereka hangus terbakar," papar @damkar_katingan dalam unggahannya.
Yoshua Paskaputra, ST., M.P.W.K., Kepala Bidang Damkar Katingan, mengatakan bahwa hutan tempat orang utan itu tinggal memang berdekatan dengan arah masuk sekolah rakyat.
"Kebakaran berhasil diblokade dan dipadamkan di bagian hutan dekat perkantoran dan pemukiman warga, sehingga api tidak menjalar ke hutan belakang tempat tinggal orang utan," ujar Yoshua kepada kumparan.
Berdasarkan info yang beredar di masyarakat, orang utan juga membuat sarang di sekitar pemukiman warga di Desa Petak Bahandang, Kecamatan Tasik Payawan, Kabupaten Katingan, Kalteng. Kejadian ini membuat warga cemas sehingga perlu adanya tindak cepat dari petugas keamanan setempat.
Yoshua mengatakan pihak damkar sudah berkoordinasi dengan BKSDA Provinsi Kalteng untuk segera melakukan evakuasi pada hewan-hewan yang terdampak karhutla, terutama orang utan yang sudah terlihat keberadaannya di sekitar pemukiman warga.
Adapun orang utan dewasa yang masuk pemukiman, Yoshua menyebut bahwa hewan tersebut telah kembali masuk ke dalam hutan.
Populasi Orang Utan Makin Terancam
Kebakaran hutan juga melanda Kalimantan Barat dan mengancam populasi orang utan di sana. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) baru-baru ini mengevakuasi seekor orang utan jantan dari kawasan perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, dari ancaman karhutla.
Hutan di Kalimantan Barat sendiri merupakan lokasi YIARI Orangutan Rehabilitation Centre, tempat orang utan yang telah diselamatkan dilatih untuk kembali hidup mandiri di habitat alaminya. Namun, kawasan yang selama ini menjadi tempat perlindungan bagi ribuan orang utan kini terancam kebakaran yang dipicu kondisi panas dan kering akibat fenomena El Niño.
YIARI mencatat kawasan Kuala Tolak sebelumnya juga menjadi lokasi penyelamatan orang utan pada kebakaran besar tahun 2015 dan 2019. Kondisi tersebut menunjukkan konflik satwa pembohong di wilayah itu terus berulang seiring kerusakan habitat akibat pembukaan lahan dan kebakaran.
Hutan di Kalimantan Barat kini menjadi habitat aman bagi sekitar 5.000 orang utan yang berstatus Kritis atau Critically Endangered. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari total populasi orang utan Kalimantan yang masih tersisa di alam.
Memasuki 2026, ketika fenomena El Niño diprediksi berkembang menjadi "super El Niño", International Animal Rescue (IAR) meluncurkan seruan darurat untuk melindungi upaya konservasi yang telah dilakukan selama puluhan tahun. Karhutla di hutan Kalimantan Barat pertama kali terdeteksi pada 22 Juli 2026.
Organisasi tersebut khawatir kebakaran besar dapat menghancurkan proses rehabilitasi dan pelepasliaran orang utan yang selama ini telah dibangun dengan susah payah.
"Cuaca yang semakin panas dan kering telah menciptakan situasi yang sangat mengkhawatirkan bagi mitra kami, YIARI, serta tim Dr Karmelle Llano Sanchez di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat," kata CEO IAR Gavin Bruce, dikutip IFL Science.
"Kebakaran hutan baru-baru ini hanya berjarak satu kilometer dari pusat rehabilitasi dan mengancam hutan di sekitarnya," lanjutnya.
Api Sempat Mendekati Pusat Rehabilitasi
Kebakaran di Kalimantan Barat pertama kali terdeteksi pada 22 Juli 2026. Beruntung, api berhasil dikendalikan sebelum mencapai pusat rehabilitasi. Petugas di lapangan mengerahkan tim pemadam kebakaran serta pesawat bom air dari udara untuk menghentikan penyebaran api.
Seluruh orang utan di pusat rehabilitasi dilaporkan tetap aman. Namun, kebakaran tersebut menjadi peringatan serius mengenai betapa rentannya kawasan tersebut terhadap ancaman api.
Kondisi ini diperkirakan belum akan berakhir. Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa fenomena super El Niño dapat membawa cuaca yang lebih panas dan kering pada akhir tahun, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan.
"Upaya konservasi yang telah berhasil dilakukan selama bertahun-tahun dapat hancur dalam waktu yang sangat singkat akibat kebakaran besar," ujar Bruce.
"Pada tahun-tahun sebelumnya ketika El Niño terjadi, kami melihat ribuan hektare hutan hilang akibat kebakaran dan banyak orang utan serta satwa lainnya terpaksa kehilangan habitat."
Menurut Bruce, ekosistem di kawasan tersebut sudah mengalami gangguan dan berada dalam kondisi rentan. Karena itu, berbagai upaya diperlukan untuk melindunginya sekaligus meningkatkan ketahanannya terhadap kebakaran.
Dampak kebakaran tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap dan polusi udara yang dihasilkan kebakaran dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan satwa liar maupun manusia.
Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang-orang yang memiliki gangguan pernapasan. Karena itu, Bruce menilai upaya mencegah dan mengendalikan kebakaran sebelum api menyebar menjadi hal yang sangat penting.
Meski demikian, menurut dia, manusia tidak sepenuhnya tidak berdaya menghadapi ancaman tersebut. Perkembangan teknologi kini dapat membantu tim di lapangan mendeteksi kebakaran lebih cepat. Tim yang berada di garis depan juga telah mempersiapkan diri menghadapi ancaman kebakaran.
"Salah satu teknologi yang telah berkembang adalah penggunaan pencitraan termal pada drone untuk mendeteksi titik-titik panas sejak dini," kata Bruce. "Tim di garis depan berdedikasi dan tidak kenal takut, mereka bertekad melakukan segala yang mereka bisa untuk bersiap."
Karena itu, Bruce menekankan pentingnya memastikan para petugas memiliki pelatihan dan peralatan yang memadai untuk melindungi pusat penyelamatan sekaligus habitat orang utan di sekitarnya.
Tantangan Tak Berakhir Setelah Api Padam
IAR dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah membentuk dana krisis kebakaran untuk merespons ancaman tersebut. Namun, keduanya menegaskan bahwa dukungan tidak hanya dibutuhkan ketika kebakaran sedang berlangsung.
Setelah api berhasil dipadamkan, tantangan baru akan muncul, yakni memulihkan kembali hutan yang menjadi tempat bergantung orang utan. Hutan yang terbakar membutuhkan waktu untuk pulih. Padahal, orang utan membutuhkan habitat yang luas dan sehat untuk mencari makanan, berkembang biak, serta menjalani kehidupannya di alam liar.
Tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orangutan Sedunia. Momentum ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kondisi orang utan dan berbagai ancaman yang mereka hadapi.
"Berbagi informasi mengenai pekerjaan kami, membicarakan ancaman yang dihadapi orang utan, dan memberikan donasi jika mampu, semuanya dapat memberikan perubahan," kata Bruce.
"Melindungi orang utan bukan hanya tentang merespons ketika api sudah sampai di depan pintu mereka. Ini tentang memastikan masih ada hutan yang bisa mereka sebut sebagai rumah di masa depan."
